The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Sempurna



Suara tepuk tangan yang meriah mengakhiri rapat pagi ini. Filio keluar lebih dulu karena telepon genggamnya terus bergetar sejak rapat di mulai.


Filio mengecek ponselnya, ada banyak panggilan dari sopirnya dan Vira. Filio memiliki firasat buruk, ia menghubungi Vira.


Saat panggilan terhubung yang pertama kali terdengar ialah suara tangis Zeina. “Ada apa?”


“Nona Sahira menghilang Tuan,” jawab Vira dengan nada gusar.


“Keadaan Zeina bagaimana?” Filio memberikan arahan kepada Erik untuk ke mobil.


“Zeina baik-baik saja, hanya saja ia tidak berhenti menangis.”


“Kamu fokus tenangkan Zeina.” Filio menutup teleponnya. Ia dan Erik masuk ke dalam mobil.


“Sahira hilang, kita harus kembali secepatnya.”


Erik menelepon bawahannya untuk mulai mengecek kamera yang di pasang di mobil. Dan mulai melakukan pencarian.


Mobil yang di Kendarai Erik melaju dengan kecepatan tinggi. Filio mencoba melacak ponsel Sahira, namun sial sepertinya Sahira meninggalkan tasnya di mobil karena titiknya berada di kediaman Filio.


Filio teringat ponsel lama Sahira yang selalu ia bawa di dalam tas kerjanya. Filio segera mengambil ponsel tersebut dan melacak keberadaan Rangga lewat nomor telepon.


“Sial!” umpat Filio. Ponsel Rangga di nonaktifkan, Filio tidak bisa melacaknya.


Erik melirik Filio, “Tuan tenang, kita akan segera menemukan Sahira.”


***


Sahira mengerjapkan kelopak matanya. Dengan pandangan yang sedikit buram Sahira melihat samar-samar wajah Rangga.


“Kamu sudah bangun sayang?”


Sahira merasakan pipinya di belai Rangga, ia hendak menepis namun tangannya terikat. “Rangga apa-apa ini? lepaskan,” pinta Sahira lirih.


Rangga meraba bibir Sahira dengan ibu jarinya. “Apa Filio sudah merasakan semuanya?” Rangga teringat ciuman panas di dalam mobil yang di lakukan Filio, ia merasa sangat cemburu.


“Aku harus kembali, cepat lepaskan Rangga!” Sahira berusaha memberontak namun kaki dan tangannya di ikat.


Tangan Rangga menuntun dagu Sahira untuk menatapnya. “Jawab pertanyaanku sayang.”


“Filio tidak pernah menyentuhku, kejadian di mobil yang kamu lihat itu pertama kalinya. Sekarang lepaskan aku Rangga, semuanya akan runyam jika Filio murka," ucap Sahira dengan nada yang sedikit meninggi, pria di depannya ini entah mengapa tidak menuruti keinginan Sahira lagi


Rangga menatap manik Sahira dalam-dalam. “Kita akan pergi, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan Filio.”


Sahira kebingungan untuk menjelaskan keadaannya pada Rangga. Ia tidak ingin Rangga merasa bersalah. “Lepaskan Rangga aku ingin pergi,” mohon Sahira.


Rangga mengecup pipi Sahira. “Aku tahu kamu masih mencintai aku Sahira. Jadi ayo kita mulai hidup baru lagi, kamu tidak perlu bekerja lagi. Aku akan mencukupi semua kebutuhan kamu.”


“Lepaskan aku Rangga, aku mohon.” Entah permohonan yang ke berapa kalinya, Sahira tak pantang menyerah.


Seorang anak buah Jack menghampiri Rangga. “Kita tidak bisa melakukan penerbangan sekarang, orang-orang Filio menghentikan pemberangkatan keluar. Bahkan pemeriksaannya lebih ketat dari biasanya.”


Rangga cukup terkejut, ia pikir Filio tidak akan secepat ini bergerak. “Jalur laut?”


“Rangga lepaskan aku, sampai kapan pun Filio tidak akan pernah melepaskan aku. Lebih baik kamu menyerah saja, sebelum semuanya terlambat.” Sahira yakin Rangga tidak tahu seberapa berkuasanya Filio di negara ini. Sahira khawatir Filio akan murka dan menghancurkan masa depan Rangga.


Rangga mencengkeram rahang Sahira. “Kamu bisa diam dulu tidak!” bentak Rangga. untuk pertama kalinya Sahira melihat mantan suaminya marah.


Suara tepukan tangan yang menggema membuat Sahira dan Rangga mengalihkan pandangan menuju asal suara.


Rangga terkejut saat melihat Filio yang bertepuk tangan, di tambah Jack temannya ada di samping Filio. “Jack apa yang kau lakukan?”


Jack tersenyum meremehkan, “Upss sorry.”


Sahira hanya bisa diam, ia tahu nasib buruk akan menimpanya.


Filio melirik kedua bawahannya untuk segera menangkap Rangga. Dua pria besar menghampiri Rangga, mereka meringkus Rangga dalam hitungan detik.


Rangga tidak bisa memberontak, orang suruhan Filio berbadan besar sementara dirinya terlihat kecil jika di sandingkan bersama. Belum lagi Rangga tidak bisa bela diri.


“Filio lepaskan Rangga, jangan sakiti dia.” Sahira menatap Filio dengan wajah memohon.


Fillio berjalan menghampiri Sahira yang masih duduk di kursi dengan keadaan terikat. Filio berdiri di samping Sahira, tangannya menodongkan senjata pada kepala Sahira.


“Kau sangat menginginkannya?”


Tatapan tajam Filio di mata Rangga terlihat sangat menyebalkan. “Kenapa kau mengusik kehidupanku lagi, apa semuanya belum cukup?”


Filio mengecup pipi Sahira. “Aku merasa kehancuran hidupmu sangat cukup, tapi aku tertarik pada istrimu ini. Sepertinya akan menjadi permainan yang sangat mengasyikkan.”


Rangga berusaha memberontak melepaskan cengkeraman dua pria di sampingnya, namun Rangga bukan tandingannya. “Sampai mati pun, aku tidak akan pernah membiarkanmu mempermainkan Sahira.”


Kepala Sahira mendidih mendengar ucapan yang keluar dari mulut Filio. Ia merasa sangat bodoh meminta bantuan pada musuh suaminya sendiri.


Filio membelai lembut pipi Sahira, “Sayang kita harus mengakhiri ini, kau pilih aku atau dia?”


Sahira menunduk, tangannya mengepal. Hatinya bergemuruh menahan sakit, “Aku ingin pulang Filio.”


Rangga merasa sakit di bagian dadanya, mendengar keinginan Sahira yang ingin bersama Filio membuat Rangga merasakan ada sebuah belati yang merobek hatinya.


“Baiklah sayang, kita akan segera pulang,” jawab Filio. Ia membuka ikatan Sahira.


Sahira bangkit dari duduknya di bantu oleh Filio. Sahira tersentak saat bibirnya di lu*mat Filio. Sekuat tenaga Sahira menahan tangis, ia membalas ciu*man Filio dengan cukup ganas. Untuk mempertegas bahwa Sahira tidak akan kembali bersama Rangga, menurut Sahira ini adalah jalan terbaik agar Rangga menyerah dan tidak akan mengganggunya lagi.


Rangga harus menyerah, agar Filio tidak mengusik kehidupan Rangga. Sahira harus merelakan dirinya tinggal bersama pria gila demi kehidupan Rangga.


Filio mengakhiri sesi ciu*man mereka, ia menghadap Rangga dan tersenyum meremehkan.


Sahira hanya bisa pasrah saat pinggangnya di tarik oleh Filio. Ia berjalan mengikuti Filio keluar dari rumah tersebut.


Filio membukakan pintu mobil untuk Sahira. Saat hendak masuk sebuah ledakan keras bersamaan dengan api yang berkobar melahap rumah yang baru saja di tinggalkan Sahira. Di dalamnya masih banyak orang termasuk Rangga.


Tubuh Sahira luruh ke aspal, kakinya tidak kuat menopang bobot tubuhnya. Lidahnya kelu, hatinya hancur berkeping-keping.


Filio tersenyum menyeringai melihat kobaran api di depannya. “Sempurna.”