The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Berjanji



Filio mengimpit tubuh Sahira ke tembok. “Apa kamu ingin bernasib sama seperti Razita?”


Tenggorokan Sahira terasa seperti tercekik saat tangan besar milik Filio menempel di lehernya. “A-apa maksud Anda Tuan?” Sahira sampai tergagap karena ketakutan.


“Kalau kamu berani macam-macam, dalam hitungan detik nyawamu bisa melayang lewat tanganku.” Filio menarik tangannya dari leher Sahira. Bibir Filio menyeringai melihat wajah Sahira yang ketakutan.


Dada Sahira masih berdebar meskipun Filio sudah masuk ke kamar mandi, suami barunya itu benar-benar gila. Bagaimana bisa seorang suami mengancam istrinya sendiri, di malam pertama mereka. “Apa ini sebuah lelucon pada malam pertama?” pertanyaan itu muncul dalam benak Sahira.


Sahira menggelengkan kepalanya, “Tidak mungkin, aku bisa melihat dengan jelas tatapan mengerikan Filio.” Tubuh Sahira merinding membayangkan tatapan Filio.


Sahira memilih keluar dari kamar Filio. Ia merasa beruntung saat berpapasan dengan pengasuh Zeina. “Bolehkah aku meminjam baju tidurmu, untuk malam ini saja.”


Pengasuh Zeina mengangguk, “Tunggu sebentar Nona saya ambilkan dulu.”


Sahira diam di tempatnya menunggu pengasuh Zeina kembali. Perlakuan Filio barusan cukup mengguncang pikirannya.


Pengasuh Zeina kembali dengan piama baru, dan baju dalam yang baru. Ia memperhatikan Sahira yang tampak melamun. Kehadiran Sahira mengejutkan semua orang yang bekerja di rumah Filio, termasuk pengasuh Zeina. Selama ini Sahira adalah wanita yang masuk ke rumah ini dengan baju pengantin.


“Nona ini bajunya,” pengasuh Zeina menyerahkan baju yang ia bawa.


Sahira tersentak, lalu tersenyum malu-malu. “Terima kasih, maaf merepotkan.”


“Tidak perlu sungkan Nona, jika butuh sesuatu saya siap membantu.”


“Oh iya kita belum berkenalan, Sahira,” ucap Sahira memperkenalkan diri.


Meskipun terasa canggung pengasuh Zeina mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Sahira. “Nona bisa memanggil saya Vira.”


“Di sini ada kamar mandi yang bisa saya pakai?” Melihat Vira yang tampak kebingungan dengan cepat Sahira memberi alasan.


“Badanku sudah sangat lengket, tapi kamar mandinya sedang di pakai suami saya,” ucap Sahira sambil tersenyum canggung. Dirinya merasa aneh memanggil Filio dengan sebutan suami, tapi tidak mungkin juga ia menyebut nama atau pun Tuan.


“Mari nona ikut saya.” Vira berjalan menuju kamar tamu. “Silakan Nona.”


“Terima kasih.” Sahira masuk ke dalam kamar tersebut, ia membuka gaun pengantinnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Tubuhnya terasa segar saat air dingin menyentuh kulitnya. Keringat yang menempel seakan ikut mengalir bersama air.


Sahira selesai membersihkan tubuhnya, ia memakai piama yang membentuk lekuk tubuhnya. Sepertinya setelah piama yang di berikan Sahira terlalu kecil, sehingga kancing pada bagian dadanya terdapat celah yang menunjukkan baju dalam Sahira.


“Kalau orang lain melihat, ini sangat memalukan.” Sahira menggerai rambutnya ke depan mencoba menutupinya. Beruntung rambutnya bisa menutupi celah tersebut dengan sempurna.


Terdengar Pintu kamar Sahira di ketuk, ia berjalan dan membuka pintu. Perempuan yang tampak berumur kepala empat berdiri di depan kamar. “Tuan menunggu di ruang makan.”


Sahira mengikuti wanita tersebut menuju ruang makan. Di sana sudah ada Filio dan Zeina. Sahira ikut bergabung dan duduk di samping Zeina.


Filio menyendok nasi, serta lauk ke dalam piring. Ia memberikannya pada Zeina. “Habiskan ya sayang.”


“Siap Papi,” jawab Zeina dengan suara riangnya.


“Mau aku ambilkan?” Tawar Filio.


Dengan cepat Sahira menggeleng, “Aku bisa ambil sendiri.”


Zeina menghabiskan makannya lebih dulu. “Papi Minggu depan ada kegiatan menjaga kelestarian hutan, Zeina boleh ikut?”


“Nanti Papi harus lihat jadwal dulu,” jawab Filio. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya.


“Papiii, tidak ada orang tua yang ikut. Masa Papi mau ikut, yang ada Zeina malu,” protes Zeina.


“Kalau Papi tidak boleh ikut, Zeina tidak boleh pergi. Hutan itu tempat yang berbahaya, Papi tidak akan tenang melepaskan kamu sendirian.”


Sahira memperhatikan interaksi Filio dan Zeina. Ia tahu Filio sangat khawatir, bahkan dari raut wajahnya saja sudah terlihat. Entah mengapa Sahira seperti melihat sosok yang sangat hangat dan penyayang saat melihat wajah Filio.


Mendengar celoteh Zeina, akhirnya Filio menatap Sahira untuk meminta penjelasan.


Sahira yang di tatap dengan wajah hangat Filio sedikit gemetar. “Tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Zeina.”


Filio tampak berpikir sejenak. “Baiklah, kalau begitu Papi tidak akan khawatir. Zeina harus bersama Ibu ya, jangan berbuat hal yang akan membahayakan diri Zeina.”


“Siap Papi,” ucap Zeina dengan tangan memberi hormat.


Tingkah Zeina selalu berhasil membuat Sahira tersenyum. Ia sangat mendambakan seorang anak, hanya saja tuhan belum memberinya kepercayaan.


“Ibu mau kan temani Zeina belajar?” Pinta Zeina dengan nada memohon.


Sahira menghabiskan air minumnya. “Ayok, ibu temani.”


Filio memandang kepergian Zeina dan Sahira. Setidaknya kehadiran Sahira sedikit berguna. Filio memilih masuk ke ruang kerjanya, kekacauan yang ia buat harus segera di selesaikan. Bagaimana pun caranya, ia tidak ingin anak perusahaan milik Filio rugi besar karena ulahnya sendiri.


Sahira menemani Zeina belajar. Pukul delapan malam Vira mengingatkan Sahira untuk mengajak Zeina tidur.


“Malam ini ibu tidur bersama Zeina, Papi sudah memberi ijin.”


Sahira mengikuti langkah Zeina, karena gadis kecilnya menarik tangan Sahira.


Zeina membawa ibunya masuk ke dalam kamar pink miliknya. “Bagus tidak kamar Zeina?”


“Bagus Ibu juga suka warna pink. Sepertinya ibu harus meminta Papi untuk mengubah cat kamar menjadi pink juga seperti kamar Zeina,” ucap Sahira asal. Yang jelas ia tidak mungkin berani melakukan hal itu.


Zeina dan Sahira naik ke atas tempat tidur.


“Jangan Ibu, Papi tidak suka warna pink. Kalau ibu ingin, Zeina mau kok berbagi kamar dengan ibu.”


Sahira mencubit pipi Zeina karena gemas. “Zeina kan sudah besar, harus tidur sendiri.” Tangan Sahira menarik selimut, dan menutupi sebagian tubuhnya dan tubuh mungil Zeina.


“Kenapa Zeina harus tidur sendiri, sementara Papi boleh tidur berdua sama ibu. Tidak adil,” keluh Zeina.


Sahira sedikit kelabakan mencari jawaban yang masuk akal untuk anak kecil. “Ibu dan Papi kan sudah dewasa, jadi boleh tidur berdua. Nanti kalau sudah dewasa Zeina juga boleh tidur berdua.”


“Benarkah, dengan siapa Bu?” tanya Zeina dengan wajah gembiranya.


“Dengan pasangan Zeina, kalau sudah dewasa Zeina boleh memilih pasangan yang Zeina cintai.”


“Apakah ibu mencintai Papi?”


Sahira menelan salivanya, entah kebohongan ke berapa kali yang ia lakukan hari ini. “Iya, ibu mencintai Papi.”


Zeina memeluk Sahira erat. “Ibu harus berjanji akan mencintai Papi selamanya, dan ibu juga harus berjanji tidak akan meninggalkan kami.”


Filio yang berada di ambang pintu tersenyum sinis mendengar janji yang di ucapkan Sahira. Matanya menatap ponsel Sahira yang ada dalam genggamannya terus bergetar karena notifikasi yang masuk dari Rangga, berisi kata-kata menjijikkan bagi Filio. Sebelah tangan Filio yang lainnya mengepal dengan sangat erat.


Sahira membalas pelukan Zeina. “Ayo kita tidur, ibu sudah mengantuk.”


Panggilan masuk dari Rangga cukup mengejutkan, pria itu pantang menyerah juga ternyata. Filio menerima panggilan Rangga.


"Selamat malam sayang. Aku ingin bertemu berdua denganmu sayang, tanpa suamimu." Bualan yang terdengar dari telepon membuat Filio merasa jijik.


"Hubungan kalian sudah berakhir, sekarang Sahira milikku," jawab Filio. Ia berjalan menjauh dari kamar Zeina.


"Ayolah Filio sudahi permainan kalian, kembalikan Sahira padaku. Atau kau ingin Sahira mengalami hal yang sama seperti ibumu, sepertinya Sahira akan suka rela bersetub*uh denganku. Karena ia masih sangat mencintaiku."


Filio mematikan sambungan telepon secara sepihak, ia membanting ponsel Sahira ke lantai hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


"Lihat saja Rangga, kau akan mati di tanganku jika berani menyentuh tubuh Sahira."