The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Kehilangan



Sahira membawa satu koper bersisi barang-barang miliknya. Tangan Sahira membalas lambaian Averyl sebelum masuk ke dalam taksi.


Sahira tidak berani menatap Filio. Ada rasa tidak rela meninggalkan rumah Filio, namun yang terpenting untuk saat ini adalah kandungannya.


Ini pertama kalinya dalam hidup Sahira bisa mengandung. Dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan tuhan kepadanya. Sahira tidak bosan memberikan kasih sayang kepada janinnya dengan mengelus perutnya yang masih rata.


Taksi yang di tumpangi Sahira mulai melaju meninggalkan kediaman Filio. Filio masuk ke dalam rumah, dan mengurung dirinya di kamar.


Sahira memilih sebuah kontrakan yang dekat dengan sekolah, agar ia tidak mudah lelah.


Setelah melakukan transaksi dengan pemilik kos Sahira menempati kamar yang ada di lantai satu di pojokkan karena semuanya sudah penuh. Setidaknya Sahira tidak terlalu merasa terganggu dengan aktivitas tetangga.


Sahira membuka kunci pintu dan masuk ke dalam. Sebuah ruangan persegi berukuran lima kali enam meter persegi, berisi singel bed, Lemari kecil, dan kamar mandi.


Sahira menutup pintu dan menguncinya. Ia mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Berada di dalam kamar kos membuatnya merasa kesepian. Pikirannya melayang pada Filio. “kamu merindukan Ayah ya, nanti kita akan bertemu Ayah kalau kamu sudah lahir.”


Sahira memilih menyibukkan diri dengan membereskan barang-barangnya. Tubuh Sahira di banjiri keringat yang membuatnya merasa tidak nyaman.


Sahira masuk ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan tubuhnya dan berpakaian. Sahira melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan belas lewat lima menit.


“Ternyata sudah masuk jam makan malam, pantas saja kamu lapar. Ayo makan bersama ibu.” Sahira menepis rasa sepinya dengan berbicara pada janin di rahimnya.


Sahira keluar dari kamar. Berjalan menyusuri lorong yang sepi. Sampai di tepi jalan Sahira melirik ke kanan, ke kiri. Di sebelah kiri ada kedai yang menjual makanan. Sahira berjalan ke sana, memesan satu porsi nasi berserta lauk Pauk.


Sahira membawa piringnya menuju meja di bagian pojok. Namun langkahnya terhenti saat guru olahraga yang ia temui beberapa hari lalu di hotel tengah menikmati makanannya. “Bolehkah saya bergabung?”


Pria tersebut menengok, dan tersenyum saat melihat wajah Sahira. “Silahkan.”


Sahira duduk di kursi yang berhadapan dengan guru tersebut. “Kita belum berkenalan, Sahira,” Sahira tersenyum tangannya terulur untuk bersalaman.


Guru tersebut menerima uluran tangan Sahira. “Adnan.” Tangan mereka bersalaman.


Sahira memutus lebih dulu, rasa laparnya membuat ia fokus menyantap makanannya.


“Suamimu yang pencemburu itu tidak ikut?” Adnan membuka suaranya.


“Tidak, dia sedang sibuk. Ngomong-ngomong waktu itu bapak sedang apa di kamar hotel?” Sahira mulai menjalankan aksinya, ia ingin tahu kenapa di sana tidak ada Rangga.


“Saya sedang menghadiri seminar, kebetulan merasa lelah dan memilih menginap.”


Sahira tidak bertanya lagi, meskipun ia cukup penasaran. Karena mereka baru kenal, Sahira merasa sangsi jika mengorek informasi lebih detail kenapa Adnan berbohong soal berkas dari kepala sekolah. Padahal isinya hanya daftar siswa kelas tiga. Dan satu kertas kosong bertuliskan temui aku lain kali.


Setelah selesai menghabiskan makannya Sahira pamit lebih dulu. Ia berjalan menuju kamar kos sambil menimbang-nimbang untuk menghubungi Rangga atau tidak. Sahira memutuskan untuk mencoba menghubungi Rangga, namun nomornya tidak aktif.


Sahira membaringkan tubuhnya di tempat tidur, menarik selimutnya sampai ke dada. Sahira merasakan kekosongan dalam hatinya. Merasa sangat kesepian bahkan belum satu hari di dalam kamar kos.


Tubuh Sahira berguling ke kanan dan ke kiri. Mencari posisi tidur yang nyaman, namun rasanya sama saja tidak ada yang istimewa.


“Kita akan lebih baik berada di sini, di bandingkan hidup dengan Ayah. Ibu takut jika Ayah hilang kendali dan kasar seperti kemarin.”


“Iya ibu tahu kamu pasti senang berada di samping Ayah dan mendapatkan kasih sayang darinya.”


Kaki Sahira terasa pegal, ia bangun dan memijat kakinya sendiri. Rasa sedih teringat Filio membuat Sahira menangis tiba-tiba. Selama ini jika ia merasa pegal tanpa di pinta Filio selalu memijat kakinya, tapi sekarang Sahira harus memijat sendiri.


“Fio,” panggil Sahira di tengah tangisnya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa secengeng ini, tapi Sahira ingin berada di dekat Filio.


“Apa yang harus ibu lakukan Nak?” Tanya Sahira pada janin di perutnya.


***


Filio berada di kamar besar miliknya. Sudah tiga jam berada di atas tempat tidur tapi Filio tidak kunjung pergi ke alam mimpi. Pikirannya penuh dengan kenangan bersama Sahira. Wanita yang selalu berani menentangnya, wanita yang selalu berani menggodanya. Filio mengacak rambutnya dengan kasar.


Filio mencoba menyingkirkan pikiran tersebut dengan masuk ke dalam ruang kerja. Ia membaca beberapa email yang di kirimkan Erik.


Semua email sudah Filio baca, tapi rasa kantuknya lenyap tak bersisa. Perutnya terasa lapar, Filio pergi ke dapur. Ia teringat oatmeal yang di buat Sahira.


Tangan besar Filio membuat oatmeal, memotong buah-buahan dan menyusunnya. Filio melahap makanan tersebut, kilasan wajah kesal Sahira yang menggemaskan datang tanpa permisi. Filio rasa seluruh dunianya terasa lebih hidup jika ada Sahira. Tapi kini ia merasa kesepian tanpa Sahira di sampingnya.


Andai saja hari itu ibu dan ayahnya tidak datang, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Dan Sahira masih berada di rumah ini.


Filio menggenggam gelas bening berisi air mineral dengan kekuatan penuh hingga pecah. Darah segar mengalir keluar dan menetes ke atas meja makan.


Filio menyesal tidak bisa mengontrol emosinya hingga menyiksa Sahira kembali. Ia teringat Video yang ia dapat. Tangan yang berlumuran darah mengambil ponsel di celana tidurnya. Filio baru tersadar bahwa pengiriman video itu bukan Erik, melainkan nomor baru.


Kali ini Filio merasa sangat bodoh, terprovokasi oleh orang lain. “Ah Sial.”


Filio segera menelepon Erik. Erik yang tengah tidur terlelap terpaksa bangun dan menerima panggilan Filio. “Ada apa Tuan menelepon saya pagi buta sekali, padahal Empat jam lagi kita akan bertemu di kantor.”


“Periksa nomor yang aku kirimkan!” Filio memutus sambungan teleponnya.


Erik menghembuskan nafas kasarnya sebelum kembali menutup mata.


Filio berjalan ke kamar, Ia terus memandangi foto pernikahannya bersama Razita. Tangannya mengepal sempurna. Karena Razita lah yang berhasil menghancurkan hidupnya. Perselingkuhan itu membuat sikap kasar Filio muncul kembali. Padahal selama mereka menikah tidak pernah sekalipun Filio berbuat kasar, saking mencintai istrinya Filio melakukan apa pun yang di inginkan Razita. Namun perempuan tersebut malah membalas kebaikannya dengan melemparkan kotoran tepat di muka Filio. Satu hal yang Filio benci karena Razita berani berse’tubuh dengan musuh Filio bahkan Rangga pun menjadi salah satu teman tidurnya Razita.


Filio mencopot foto tersebut dari dinding dan melemparkannya ke lantai. Bunyi pecahan kaca di tengah keheningannya malam terdengar amat nyaring.