
“Kenapa tidak boleh ada yang masuk ke kamar Filio, apa dia mengunci wanita simpanannya di dalam?” ucap Fiona asal. Entah mengapa Kakaknya itu sangat sulit di tebak semenjak kematian Razita.
“Ada apa.” Fiona dan Vira menoleh ke asal suara.
“Fio aku ingin mengambilkan mantel dan sandal untukmu. Lihat lah adikmu ini begitu peduli terhadap kakaknya,” ujar Fiona.
Filio berjalan menuju Fiona yang berdiri di depan kamarnya. Filio mengacak puncak kepala Fiona adiknya. “Pergilah. Zio bilang ada sedikit masalah di rumah, dia menunggu di depan.”
Fiona menyingkirkan tangan Filio. “Aku bukan anak kecil lagi Fio!” ketus Fiona.
Fiona memeluk kakaknya erat, “Kabari aku Fio jika merasa kesepian, aku akan menemanimu. Tapi lebih bagus jika kamu mencari istri baru.”
Filio membalas pelukan adiknya. “Ah rasanya aku ingin mencekik lehermu,” ancam Filio dengan nada dinginnya.
Fiona tahu Filio hanya bercanda, meskipun bagi orang lain ucapan Filio barusan seperti sebuah ancaman. Fiona melepaskan pelukannya, dan memukul dada Filio. “Wanita mana yang mau bersamamu jika kau masih bersikap seperti itu.”
Selama ini hanya Fiona yang tahu sisi gelap Filio. Kembarannya itu memang sedikit gila, berapa banyak pria yang hampir mati karena berani menggoda adiknya. Fiona saja sampai tidak bisa menghitungnya.
“Semakin tua kau semakin cerewet,” sindir Filio.
“Kau juga semakin tua, tapi masih menjadi duda. Sepertinya sebutan duda tua cocok untukmu,” Fiona menjulurkan lidahnya meledek Filio. Ia berlari untuk menghindari amukan Filio.
Filio tidak ingin ambil pusing dengan tingkah Fiona. Ia berjalan menuju pantry, mengambil satu botol minuman beral'kohol dan menenggaknya.
Eduard dan Averyl memperhatikan Filio dari kejauhan. “Bagaimana itu?”
“Biarkan saja dulu, Filio butuh waktu untuk sendiri.” Eduard menuntun Averyl menuju kamar tamu.
“Kamu tunggu di sini dulu ya sayang,” perintah Eduard. Ia berjalan keluar menuju sistem keamanan di rumah ini.
Para pekerja Filio menunduk hormat. “Kalian bisa keluar, aku hanya perlu bicara denganmu.” Mata Eduard menatap pria tidak berambut.
Dua pekerja lainnya keluar menuruti perintah Eduard. Setelah memastikan hanya mereka berdua di dalam ruangan tersebut, Eduard berjalan menuju monitor yang menampilkan rekaman kamera pengawas yang terpasang di kediaman Filio.
“Ada info terbaru?”
Pria itu mengotak-atik file yang ada, ia memutar ulang rekaman semalam.
Eduard berdecap saat melihat Filio menyeret gadis yang ia kenal sebagai mantan istri Rangga. “Ada kamera di kamar Filio?”
Kepala tanpa rambut tersebut menggeleng. “Tidak ada Tuan, kamar Tuan Filio sangat privasi.”
“Sudah berapa lama wanita itu di dalam?”
“Enam belas jam.”
Tangan Eduard mengepal. Bagaimana pun juga ia harus mencegah tindak kriminal di rumah Filio lagi.
Eduard mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Erik. “Temui saya di ruang keamanan.”
Dalam hitungan detik Erik sampai di ruang Keamanan. “Ada yang bisa saya bantu Tuan?”
“Baik Tuan.”
Eduard keluar dari ruang keamanan, ia menghampiri Filio yang masih sibuk menenggak minumannya. “Ibu tidak enak badan, Ayah akan membawanya pulang. Ikutlah bersama kami, agar kamu tidak merasa sendirian.”
“Pergilah Ayah, jaga ibu baik-baik. Aku akan tetap di sini.” Filio membuka botol kedua dan menenggaknya lagi.
Eduard merampas botol minuman Filio. “Jangan terlalu banyak minum, kau harus tetap sadar.”
“Ayaaah,” keluh Filio. Ia berusaha mengambil botol yang di pegang Eduard.
“Kau harus beristirahat di kamar, biar Ayah antar.”
Filio menepis tangan Eduard yang hendak merangkulnya. “Tidak perlu Ayah, aku bisa sendiri.”
Eduard memperhatikan langkah Filio yang sempoyongan, anak lelakinya itu memang susah di sentuh dan keras kepala.
Langkah Filio terhenti di depan kamarnya, ia merogoh sakunya untuk mengambil kunci. Namun pandangannya yang sedikit mengabur membuat Filio tidak bisa memasukkan kuncinya dengan tepat, hingga kunci yang di pegang Filio menimbulkan bunyi saat jatuh ke lantai.
“Ah Sial!”
Mendengar suara Filio dari luar Sahira menutup matanya kembali. Ia tetap tenang saat pintu terbuka. Ada rasa lega dalam hati Sahira saat Filio tidak mengunci kamarnya, ini kesempatan emas untuk melarikan diri. Rasa bersalah karena tidak bisa menjaga Zeina masih ada, tapi Sahira juga tidak ingin menjadi pelampiasan Filio. Suaminya itu tidak akan bisa memaafkannya dengan mudah.
Dengan jelas Sahira mendengar langkah kaki Filio yang mendekat.
Filio menendang-nendang kaki Sahira menggunakan sepatu mahalnya yang terbalut lapisan tanah. Namun tidak ada tanda-tanda Sahira terbangun, “Sial, dia lemah sekali!”
Sahira terus berdoa agar Filio tidak menyiksanya lagi. Ia bisa bernafas lega saat mendengar langkah kaki Filio menjauh.
Filio menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Matanya mulai terpejam, menikmati sensasi asing setiap meminum alk'ohol.
Sudah tiga puluh menit Sahira memejamkan matanya. Ia tidak mendengar gerakan Filio sedikit pun.
Sahira bangkit, meneliti keberadaan Filio yang masih berada di tempat tidur.
Arah pandang Sahira tertuju pada pintu kamar. Ia harus melarikan diri secepatnya.
Sahira menyeret kakinya yang terikat, dengan sisa tenaganya sebisa mungkin Sahira harus lari dari jerat Filio. Satu meter lagi Sahira akan sampai di pintu, Ia menyemangati dirinya sendiri. “Ayo Sahira sedikit lagi,” batin Sahira.
Sahira mengabaikan rasa sakit pada kaki, serta perutnya yang terasa sakit karena asam lambungnya naik. Sahira bisa bernafas lega saat tangannya yang di ikat dapat menyentuh gagang pintu.
Sahira menengok ke belakang untuk memastikan Filio masih tertidur. Ia membuka gagang pintu dengan sangat perlahan, Sahira melirik lagi ke tempat Filio tertidur.
Sahira merasa beruntung karena Filio tertidur cukup pulas. Ia membuka pintu dan menyeret tubuhnya keluar dari pintu.
Malam itu Vira hendak mengecek kamar Zeina, ia sedikit lupa jendela kamar Zeina sudah Vira tutup atau belum. Namun langkahnya terhenti di depan kamar Filio saat melihat tangan dan kaki Sahira yang terikat, serta mulut yang tertutup lakban berada di ambang pintu.
Sahira merasa gembira melihat kehadiran Vira, ia bisa meminta bantuan padanya.
Tubuh Sahira membeku saat merasakan pipinya di kecup seseorang dari arah belakang. “Kamu mau ke mana sayang?”