The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Permintaan Pertama



Kegiatan panas di siang hari membuat Sahira lelah, ia tertidur pulas di pelukan Filio karena semalaman kurang tidur.


Filio bangun lebih dulu ia membersihkan tubuhnya dan kembali ke atas tempat tidur memeluk Sahira. Jarinya membelai pipi lembut milik istrinya yang menggemaskan.


Ada rasa nyaman yang membuat Filio tenang saat bersama Sahira. Ia membawa lari Sahira tanpa alasan adalah rencananya. Ia ingin Sahira merasa senang saat bersamanya dan memilih kembali bersama. Beruntung Averyl tidak meminta Filio menceraikan Sahira, karena sampai kapan pun Filio tidak berniat melepaskan Sahira. Sahira adalah wanita yang berhasil membuatnya terjaga semalaman, wanita yang berhasil membuat Filio sering khawatir. Apalagi saat melihat Sahira pergi ke hotel tempat ia bertemu salah satu kliennya. Beruntung saat itu Filio melihat Sahira dan memutuskan untuk mengikuti. Entah apa yang akan terjadi jika ia tidak datang, yang pasti Adnan bukan pria baik-baik.


Sahira menggeliat, kedua kelopaknya terbuka dan langsung bertemu pandang dengan manik Filio. “Fio,” cicit Sahira.


“Ada apa sayang?”


Tidak ada jawaban dari mulut istrinya namun yang di rasakan Filio pelukan Sahira semakin erat.


“Mau bermain air?”


Sahira menggeleng. “Mau jalan-jalan di pantai saja.”


“Aku tunggu di depan ya.”


Sahira mengangguk. Ia menatap punggung Filio yang hilang di balik pintu. Sahira pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang lengket.


Sahira keluar menghampiri Filio. Manik Filio menatap tubuh ramping Sahira yang memakai dress selutut tanpa lengan. Tanpa sadar bibir Filio tersenyum melihat penampilan istrinya yang tampak seperti remaja karena tubuhnya yang kecil dengan tinggi seratus lima puluh lima centimeter.


Sahira menggandeng tangan Filio, menuntunnya keluar dari rumah menuju pantai.


Sore itu cuaca masih terasa panas, namun semilir angin yang sejuk membuat siapa saja betah berlama-lama di pantai.


Sahira melepas alas kakinya. “Biar aku yang pegang,” tawar Filio. Sahira memberikannya pada Filio.


Sahira berlari menuju bibir pantai, merasakan sejuknya air pantai yang menerpa kaki polosnya.


Filio menghampiri Sahira memeluk istrinya dari belakang tanpa aba-aba. Dagunya ia tumpukan pada pundak sang istri. Mereka menikmati matahari terbenam di ufuk barat.


Deburan ombak kecil menabrak kaki pasangan yang memadu kasih. Di iringi irama detak jantung yang berpacu satu sama lain. Langit yang berwarna jingga memantul memberikan kesan hangat.


“Jika aku memintamu kembali, apa kamu mau hidup bersamaku lagi?”


Sahira hendak menengok ke belakang, hingga pipinya terbentur bibir Filio. “Aku tidak tahu.”


Detak jantung Filio berpacu, ia sudah menyiapkan rangkaian kata yang akan ia ucapkan untuk Sahira. Namun yang keluar hanya. “Aku mencintaimu Sahira Aolani.”


Jagung Sahira berdebar, pipinya bersemu. Ia memalingkan wajahnya kembali menatap laut lepas.


Dada Filio berdebar menunggu jawaban Sahira. Tapi istrinya malah diam saja. “Kenapa diam saja?”


“Seharunya bagaimana?”


Filio mencubit pipi gembil Sahira. “Kamu mengujiku?”


Sahira melepaskan tangannya Filio yang berada di perutnya. Ia berlari menjauh dari Filio. “Tangkap aku kalau bisa,” teriak Sahira.


Filio berlari jaraknya dengan Sahira hanya lima meter, sangat mudah bagi Filio menangkap Sahira.


Sahira berlari kecil sesekali menengok ke belakang. Saat tubuh Filio sudah mendekat Sahira menghentikan langkahnya. “Diam, jangan mendekat.”


Sahira memegang perutnya yang terasa kram. Ia menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan, mencoba untuk tidak panik.


Filio berdiri dengan wajah bingung. Sahira menyuruhnya jangan mendekat, tapi Filio khawatir. Ia berlari menghampiri Sahira. “Kenapa perutmu sakit?” Filio ikut meraba perut Sahira.


Sahira mengangguk. “Tolong panggilkan dokter kandungan,” pinta Sahira.


Filio merebahkan tubuh Sahira ke atas tempat tidur. Tangan Filio menarik selimut untuk menutupi tubuh Sahira.


Sahira memejamkan matanya, bibirnya merapalkan doa untuk janinnya. Sementara tangannya memegang perutnya yang terasa sakit.


Beruntung dokter yang di panggil Filio segera datang, Sahira di periksa oleh dokter.


Setelah selesai memeriksa, dokter merapikan alat medisnya kembali. Ia berdiri dan memandang wajah Filio. “Kandungnya baik-baik saja, hanya kram biasa. Di usahakan jangan beraktivitas terlalu berat. Ini resep obat untuk penguat kandungan serta vitamin untuk ibu dan janin.”


Filio merima resep dari dokter, ia mengantar dokter sampai pintu depan.


Filio kembali ke kamar, ia duduk di samping Sahira. “Kenapa tidak memberitahuku?”


Sahira menundukkan kepalanya. “Maaf. Ini kehamilan pertamaku, dan aku takut jika kamu kasar lagi. Aku tidak mau kehilangan bayiku.”


Filio membawa Sahira ke dalam pelukannya. “Aku berjanji tidak akan kasar lagi kepadamu, jadi kembalilah tinggal bersamaku.”


Sahira senang mendengar ucapan Filio. “Iya aku mau.”


“Aku lapar, kita belum makan siang,” keluh Sahira.


Filio sampai lupa jika mereka melewatkan jam makan siang, padahal matahari hampir terbenam. “Mau makan apa?”


“Spageti carbonara,” mata Sahira berbinar tidak sabar merasakan nikmatnya spageti carbonara yang gurih dan creamy.


“Oke aku akan pesankan.”


Wajah Sahira tampak cemberut dengan bibir yang mengerucut. “Itu hanya spageti masa kamu tidak bisa membuatnya sendiri?”


“Ya sudah aku buatkan,” tandas Filio pasrah. Ia pergi ke dapur untuk membuat spageti carbonara keinginan Sahira.


Filio mengambil beberapa barang yang ia perlukan di dalam lemari pendingin. Filio lebih dulu merebus air dan memasukkan Spageti, lalu memotong daging dan jamur. Selesai di potong Filio mulai menumisnya bersama dengan bawang bombai hingga mengeluarkan aroma. Di rasa cukup matang Filio menuangkan susu serta keju. Saus carbonara hampir jadi terakhir ia masukan tiga kuning telur.


Tangan Filio yang terlihat cekatan dalam memasak, Sahira memandangi suaminya yang terlihat tampan dari belakang.


Filio meniriskan spageti lalu mencampurkannya dengan saus. Tangan Filio mengaduk-aduk spageti di atas wajan yang sudah ter lumuri saus.


Filio menggulung spageti dan menatanya ke atas piring. Sentuhan terakhir Filio memberikan parutan keju, lada hitam dan parmesan parut.


Dalam waktu dua puluh menit spageti carbonara pesanan Sahira sudah selesai. Filio membawa dua piring spageti ke pantry di sana wajah Sahira tampak berbinar-binar.


Sahira menerima sepiring spageti yang di buat Filio, dari warna dan aromanya cukup menggiurkan. Sahira mencoba suapan pertamanya. “Enak,” puji Sahira.


Filio bisa bernafas lega mendengar pujian Sahira. Ia mulai menikmati spageti buatannya sendiri.


Pada suapan ketiga Sahira merasa mual, ia berlari ke wastafel mengeluarkan isi perutnya.


Filio menghentikan aktivitas makanya. Ia berjalan menghampiri Sahira, tangganya membantu menggenggam rambut Sahira yang tergerai.


Sahira selesai mengeluarkan makanan dalam lambungnya. Ia berbalik dengan wajah yang memerah. “Sepertinya kuning telurnya terlalu banyak, tolong buatkan spageti lagi dengan sedikit keju dan satu kuning telur.”


Wajah Filio melongo mendengar permintaan istrinya. Ia sudah susah payah membuatnya. “Aku akan pesankan sesuai keinginanmu.”


“Tidak mau,” bibir Sahira mengerucut. “Kamu saja yang buatkan lagi, ya sayang. Aku mohon.”


Mulut Filio berdecap. Ia kembali ke dapur dengan sangat terpaksa.