The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Terkejut



“Tidak perlu datang, tidak penting.” Filio menutup sambungan teleponnya.


Jari Filio mengetuk-ngetuk meja kerja, dengan irama yang teratur. Semuanya terasa janggal, mengapa bisa dalam hitungan menit setelah kepergian Filio Erika di kabarkan meninggal.


Filio berdecap, feeling-nya merasa bahwa Eduard yang melakukan ini semua. “Selalu saja ikut campur,” keluh Filio.


Filio sudah merasa sangat dewasa, tapi mengapa Ayahnya selalu saja menganggap Filio anak kecil. Sebelum Filio bertindak selalu saja Eduard membereskan semua kekacauan yang di buat Filio.


Hari-hari berlalu begitu cepat. Hubungan Sahira dan Filio semakin membaik. Sahira selalu mandi tengah malam karena ulah Filio.


Malam ini Sahira memilih tidur, karena badannya terasa lelah.


Filio naik ke atas tempat tidur. Tangannya menepuk pipi istrinya yang terlelap. “Kamu tidak ingin mandi?”


“Aku lelah,” keluh Sahira dengan mata tertutup.


Filio memijat kaki Sahira. Dalam tidurnya Sahira ingin menolak, namun kalah dengan rasa kantuk. Sahira menikmati pijatan Filio hingga tertidur sangat lelap.


Filio berhenti memijat Sahira setelah mendengar dengkuran halus milik istrinya. Filio ikut bergabung menenggelamkan tubuhnya di balik selimut.


Filio tidur dengan posisi miring menghadap Sahira. Tangannya merapikan anak rambut Sahira yang menutupi wajah cantik istrinya.


Debaran jantung Filio membuat hati dan pikirannya tidak aman. Bagaimana mana bisa ia tertarik pada wanita bekas musuhnya sendiri.


“Kau tidak jatuh cinta Filio, semua ini terjadi karena hasrat yang terbendung setelah kematian Razita. Ingatlah wanita hanya mementingkan dirinya sendiri!” Filio selalu menanamkan pikiran itu pada dirinya sendiri, agar tidak mudah jatuh ke dalam lubang yang sama lagi.


Sahira terbangun dengan kepala yang terasa berat. Namun ia menepis rasa sakitnya, bagaimana pun hari ini ia harus melakukan pembagian rapor semester anak didiknya.


Sahira terbangun kesiangan tidak sempat sarapan, bahkan Vira bilang Filio sudah pergi dari setengah jam yang lalu.


Pagi itu Sahira di antar sopir menuju sekolah. Sahira mengambil rapor anak didiknya dari ruang guru. Sahira berjalan menuju ruang kelas dengan setumpuk rapor di tangannya, perutnya terasa melilit namun Sahira hiraukan.


Semua rapor sudah siap, beberapa orang tua siswa sudah mulai berdatangan. Setelah semuanya kumpul Sahira memberikan sepatah dua patah kata sebelum membagikan rapor siswa kepada orang tua.


Acara selesai dalam dua jam, kini Sahira bisa bernafas dengan lega. Perutnya terasa sangat sakit. Ruang kelas sudah kosong, Sahira hendak berjalan menuju ruang guru dengan langkah pelan menahan sakit di perutnya.


Pandangan Sahira mengabur, tangannya memegang perutnya yang semakin terasa sakit. Sahira kehilangan kesadaran tubuhnya luruh ke lantai.


***


Sahira tersadar, hidungnya mencium aroma minyak kayu putih yang cukup kentara menimbulkan rasa mual. Hingga Sahira muntah, yang keluar hanya cairan bening karena perutnya belum terisi makanan.


Perut Sahira terasa semakin sakit. Petugas UKS memberikan Sahira air hangat.


Sahira menenggak habis minum tersebut karena mulutnya terasa sangat pahit.


“Ibu Sahira mau kami antar ke rumah sakit?”


Sahira menggeleng, ia rasa ini hanya masuk angin biasa. “Tidak perlu.”


“Boleh minta tolong ambilkan tas saya,” pinta Sahira.


Petugas UKS memberikan tas milik Sahira.


Sahira menerimanya. Ia mengeluarkan obat asam lambung miliknya, berharap sakit di perutnya mereda.


Sahira memutuskan untuk pulang karena badannya sudah lebih baik, dan pening di kepalanya sudah hilang meskipun perutnya terasa sakit.


Sahira di jemput oleh sopir. Sudah setengah jam berlalu sejak meminum obat namun sakit di perutnya tidak kunjung mereda. Sahira meminta sopir untuk mengantarnya ke klinik.


Sebelum turun Sahira angkat bicara. “Pa tunggu di sini sebentar ya, asam lambung saya tidak kunjung mereda. Bapak tidak perlu memberitahu Filio, saya takut Filio khawatir.”


Sahira keluar dari mobil. Ia melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Sahira memutuskan duduk di kursi tunggu karena tidak kuat menahan sakit perutnya.


“Ibu Sahira Aolani.” Suara speaker menggema menyadarkan Sahira.


Sahira bangkit, wajahnya meringis saat merasakan sakit di perutnya. Dengan langkah perlahan Sahira masuk ke ruang pemeriksaan.


Sahira duduk di hadapan dokter. “Ada keluhan apa Bu?”


“Perut saya sangat sakit dok. Saya memiliki riwayat asam lambung, namun kali ini obat yang biasa saya minum tidak kunjung mereda.”


Dokter memperhatikan wajah Sahira yang pucat pasti. “Kalau begitu kita periksa dulu ya Bu.”


Sahira di tuntun perawat menuju brankar, ia merebahkan tubuhnya. Sahira menerima selimut yang di gerai perawat untuk menutupi bagian perut Sahira.


Perawatan melakukan tugasnya untuk mengukur tensi darah Sahira, hasilnya normal. Dokter menghampiri Sahira dengan sarung tangan. Dokter mulai memeriksa bagian perut Sahira.


Sahira meringis saat dokter menyentuh perut bagian bawahnya. “Apa ibu telat datang bulan?”


Pertanyaan dokter menyandarkan Sahira, sekarang sudah memasuki akhir bulan tapi Sahira belum datang bulan. “Sepertinya iya dok.”


“Kalau begitu kita coba tes kehamilan dulu ya.”


Perawat membantu Sahira berjalan menuju kamar mandi. “Ini Bu untuk menampung urin.”


Sahira menerimanya dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah buang air kecil Sahira menatap tampungan urine yang ada di tangannya.


Sahira membuka pintu kamar mandi lalu memberikan pada perawat. Selagi menunggu hasil tes kehamilan Sahira duduk dengan gelisah.


Perawat mulai memasukkan alat tes kehamilan pada wadah penampung urine. Setelah tercelup dan air mulai naik perawat mengikuti prosedur pemakaian alat tes tersebut dan menyimpannya di atas bidang yang datar. Pada menit ke tiga hasilnya keluar, perawat memberikannya kepada dokter.


Dokter duduk di hadapan Sahira. Sementara Sahira menunggu dengan gelisah.


“Selamat Bu, hasilnya positif. Perawat akan mengantar ibu menuju ruang pemeriksaan kandungan.”


***


Pemandian air hangat private room milik Eduard sengaja di kosongkan. Tubuh kekar Eduard menikmati sensasi air hangat. Indera penciumannya di manjakan oleh roma terapi yang menguar di udara.


Satu batang rokok terselip di tangannya. Punggungnya bersandar, kakinya terlentang di bawah air. Rasanya sangat nikmat.


Pintu ruang tersebut di ketuk oleh seseorang dari luar. “Masuk!”


Pria yang mengetuk pintu mendekati pemandian. Dan membungkuk memberi hormat.


“Ada apa?”


“Nona Sahira melakukan pemeriksaan di klinik tanpa sepengetahuan Tuan Filio.”


Eduard menekan rokok yang tersisa ke dalam asbak yang tersedia di dekatnya. “Lalu apa masalahnya?”


“Nona Sahira positif hamil.”


“Apa?”


Saking terkejutnya Eduard reflek berdiri, bahkan ia melupakan tubuh polosnya.


Simon berdecap, ia mengalihkan pandangan ke arah samping. Rasanya terlalu menjijikkan jika melihat barang yang sama seperti miliknya