The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Salam Tempel



“Halo Rangga, kita bertemu lagi.”


“Lepaskan saya Gilbert,” ucap Rangga dengan nada memohon. Rangga ingat betul manik coklat terang itu, milik pria yang fotonya di tunjukan Razita. Bahkan Rangga ingat kejadian saat Razita masih hidup yang menceritakan Gilbert dengan wajah tersenyum masih terputar jelas di kepalanya.


Pria dengan manik coklat terang yang di panggil Gilbert oleh Rangga. Berjalan mendekat ke arah tawanannya. Tepat di depan Rangga sebuah senyum mengeringkan timbul dari bibir Gilbert.


Seorang pria berjalan menghampiri Gilbert dan Rangga. Ia membawa sebuah nampan berisi botol obat, jarum suntik, pisau bedah dan pisau daging dengan ukuran besar.


Gilbert mengambil jarum suntik, dan menusuknya pada botol obat. Setelah jarum suntik terisi, Gilbert menancapkan jarum suntik ke leher Rangga.


“Jangan Tuan saya mohon,” pinta Rangga. Namun Gilbert menekan jarum suntik dan mengeluarkan obatnya hingga semuanya masuk ke dalam tubuh Rangga.


Tubuh Rangga mulai terasa kebas. Namun ia masih dalam keadaan sangat sadar.


“Berapa kali kamu berse’tubuh dengan Razita?"


“Lepaskan aku, aku tidak pernah memaksanya. Dia yang memintanya sendiri.” Jawaban Rangga terdengar sangat lirih karena dalam pengaruh obat.


“Hmmm, menarik.”


Pria yang membawa nampan membuka ikatan pada tangan kanan Rangga. Setelah ikatannya lepas, pria itu memposisikan ibu jari Rangga.


Gilbert mengambil pisau daging yang sudah tersedia. Ia mengangkat pisau tersebut dan memotong ibu jari Rangga.


Rangga tidak merasakan sakit sama sekali, namun melihat ibu jarinya yang menggelinding jatuh ke bawah membuat perasaan Rangga campur aduk. Dia sangat ingin berteriak namun mulutnya tidak mengeluarkan suara apa pun.


Gilbert memberikan perintah pada bawahannya untuk menyiapkan ibu jari Rangga yang sebelahnya lagi.


“Jangan tuan saya mohon.”


Gilbert tidak menggubrisnya sama sekali. Ia kembali memotong ibu jari tangan Rangga.


Ibu jari kedua Rangga jatuh ke lantai tergeletak bersamaan dengan darah yang mulai mengalir.


Dua ibu jari yang mengeluarkan darah segar tampak sangat indah bagi Gilbert. Ia menelitinya dengan bibir yang menyunggingkan seulas senyum tipis.


Rangga sedikit meringis. Kedua tangannya mulai terasa berdenyut, sepertinya obat bius yang di berikan Gilbert mulai menghilang.


Seakan tak cukup, Gilbert mengambil pisau bedah yang cukup panjang. Gilbert menusuk dada Rangga, tusukkannya tepat di jantung Rangga.


Mata Rangga membelalak, dengan mulut terbuka saat malaikat Maut mencabut nyawanya.


Gilbert menarik kembali pisau bedah yang sudah tertancap di jantung Rangga. Ia merobek baju Rangga.


Pisau bedah yang di pegang Gilbert mulai menyayat bagian dada Rangga membentuk huruf R ... A ... Z ... I ... T ... Terkahir huruf A.


Darah mengalir dari mahakarya Gilbert, bibirnya tersenyum melihat kesempurnaan ciptaannya.


***


Filio kembali menuju ruang rawat Sahira. Ia menghampiri istrinya yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur.


Hati Sahira merasa tenang melihat suaminya baik-baik saja. Meskipun keringat tampak membanjiri keningnya. “Duduk dan minumlah kamu pasti kelelahan.”


Filio mengikuti perintah istrinya. Filio menggenggam erat tangan Sahira. “Apa pun yang terjadi kita harus tetap bersama. Dan aku akan menjaga kalian.”


Sahira melihat raut wajah Filio yang bersungguh-sungguh. “Belajarlah mengendalikan emosimu.”


“Iya sayang maafkan aku.”


Eduard dan Averyl masuk ke dalam ruang rawat Sahira. “Maaf sayang kami terlambat, jalanan cukup macet karena ada pengeboman.”


Eduard duduk, ia terus menempelkan handphone ke telinganya. Ia menghubungi Erik namun tidak kunjung di angkat.


“Ayah menelepon siapa sih?” tanya Averyl dengan nada curiga, sepanjang perjalanan suaminya tampak gelisah bahkan terus memegang ponselnya.


“Simon tidak menjawab telepon Ayah.” Eduard memilih berbohong ia tidak ingin memperkeruh suasana. Bahkan Eduard tak akan bisa membayangkan jika Filio tahu Rangga masih hidup dan Eduard yang menyelamatkannya.


“Penting banget?”


Semua mata yang ada di ruangan rawat Sahira tertuju pada pintu, terdengar suara ketukan dari luar. Eduard berjalan dan membuka pintu.


Empat orang polisi berdiri di depan pintu. “Kami perlu bertemu dengan Tuan Filio Havelaar.”


“Ada masalah apa pak?”


“Tuan Filio telah melakukan tindak penganiayaan, dan kami membawa surat perintah untuk melakukan penahanan.”


Eduard menghembuskan nafas. “Silahkan Filio ada di dalam.”


Empat orang polisi masuk dan mengeluarkan borgol. “Tuan Filio ikut kami ke kantor, anda di nyatakan sebagai tersangka kasus penganiayaan.”


“Apa-apan ini pak, lepaskan.”


Eduard menatap tajam ke arah Filio. Ia ingin anaknya tidak berontak agar Eduard dapat dengan mudah membebaskan Filio.


Melihat tatapan sang Ayah, Filio pasrah saat tangannya di borgol. Ia memandang wajah pucat Sahira yang terlihat sangat terkejut. “Ibu Fio titip Sahira ya.”


Averyl mengangguk. Ada rasa tidak rela melihat anaknya di bawa, namun Averyl sangat yakin Eduard akan segera membebaskan Filio.


Air mata Sahira jatuh saat melihat punggung Filio yang mulai menjauh dan menghilang di balik pintu.


Eduard keluar dari ruang Sahira. Ia kembali mencoba menghubungi Erik, panggilannya kali ini di terhubung. “Bagaimana, apa kalian baik-baik saja?”


[Kami hampir tewas karena di hadang puluhan orang. Yang jadi masalah, sepertinya ada orang yang membantu Rangga. Dia berhasil kabur.]


“Ah Sial! Filio di tahan karena penganiayaan. Kita perlu membebaskannya, urusan Rangga biar Simon yang mengerjakan.”


“Sekarang juga kamu ke kantor polisi dan urus Filio!”


[Baik Tuan.]


Erik segera melaksanakan perintah Eduard. Indera penglihatannya menatap mobilnya yang hancur, ia tidak mungkin memakai mobil itu untuk pergi ke kantor polisi.


Erik memberhentikan sebuah taksi, ia pergi ke klinik lebih dulu untuk mengobati lukanya. Rasanya tidak etis datang ke kantor posisi dengan wajah babak belur sementara ia akan menjamin orang.


Selesai dengan urusan lukanya, Erik pergi ke kantor polisi. Ia datang untuk melihat kasus yang terjadi pada Filio.


Erik kebetulan memiliki koneksi, sehingga dengan mudah ia mendapatkan salinan berkas Filio. Dalam berkas Filio, semuanya bukti sangat lengkap bahkan hasil rekaman cctv-nya sangat jelas. Dan bukti fisum tertera di sana.


Erik mencoba menghubungi pelapor. “Halo dengan ibu Kiren.”


[Iya, ini saya sendiri.]


“Saya asisten pribadi dari tuan Filio ingin mengajak Anda bertemu untuk masalah yang terjadi sekarang.” Erik berbicara dengan sangat sopan, berharap Kiren membebaskan Filio.


[Saya tidak ingin bertemu dengan siapapun, termasuk Tuan Filio yang telah menyakiti saya. Saya rasa tuan Filio pantas mendapatkan hukuman atas perbuatannya!]


Belum sempat berbicara teleponnya terputus begitu saja. “Ah sial, sepertinya harus dengan cara lain.”


Erik kembali masuk ke dalam kantor posisi untuk bertemu pimpinan. Kedatangan Erik di sambut dengan hangat, ini bukan pertama kalinya ia kemari untuk mengurus kasus Filio.


“Halo pak apa kabar?” Erik mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan kepala kepolisian.


“Kabar saya baik, ada yang bisa saya bantu Erik?” Pria dengan perut buncit di depan Erik tersenyum sangat hangat.


‘Cih dasar mata duitan,' batin Erik.


“Saya kemari ingin meminta bantuan agar bapak bisa membebaskan Tuan Filio.”


Begitu terucap nama Filio, wajah semringah kepala polisi menjadi berubah seperti ketakutan. “Kalau masalah itu maaf Erik saya tidak bisa membantu.”


Benar dugaan Erik pria ini sengaja memancing untuk di berikan lebih. Tidak ingin kehilangan kesempatan Erik memilih menyetujui permainan kepala polisi. “Akan saya lebihkan dari biasanya, Seratus kali lipat.”


“Maaf Erik berapa pun kamu bayar saya, saya tidak bisa membantu,” tandas kepala polisi. “Lebih baik Anda keluar sekarang!”


Erik keluar dengan perasaan dongkol, karena tidak berhasil membebaskan Filio. Ada yang aneh menurut Erik, tidak biasanya kepala polisi menolak uang. Rasanya tidak mungkin pria yang terkenal mata duitan, menolak uang yang ia tawarkan.