The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Terjebak



Filio sudah bisa kembali beraktivitas, namun ia memilih menemani istrinya yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur karena bekas operasi di perutnya.


Di tangan Filio terdapat satu piring spageti yang ia buat sesuai permintaan Sahira. Filio mulai menyuapi istrinya yang seharian ini muntah jika makan.


Saat Sahira tampak mual tangan Filio dengan cekatan mengambil pus basin untuk menampung muntah Sahira.


“Hoek,” Sahira kembali memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke mulutnya.


Filio memandang wajah istrinya yang pucat dan tampak menahan rasa sakit saat muntah. Filio menyimpan pus basin kembali ke tempatnya. Ia mengambil segelas air minum untuk Sahira.


Sahira meneguk air, matanya terpejam saat kembali merasa mual. Sahira menenangkan dirinya, agar ia tidak kembali muntah.


Filio membelai lembut rambut Sahira, ia tidak tega melihat istrinya muntah-muntah terus karena morning sick. “Mau aku bantu untuk tiduran kembali?”


Sahira menggeleng, ia lebih senang duduk bersandar. Rasa mualnya tidak terlalu kentara saat ia duduk.


Seorang perawat masuk dengan buket bunga yang cukup besar di tangannya. “Maaf mengganggu, saya ingin mengantarkan bunga ini.”


Filio menerima bunga tersebut, amarahnya muncul saat membaca note dalam bunga tersebut. ‘Sahira aku mencintaimu’


Filio membuangnya asal, ia mencekik perawat tersebut. “Siapa yang menyuruhmu!”


Sahira yang terkejut dengan reaksi Filio mencoba memanggil Filio dengan suara seraknya. “Hentikan Fio, jangan sakiti dia.”


Perawat tersebut tampak ketakutan. “Saya hanya di minta bapak satpam untuk mengantarkan ini ke ruangan ibu Sahira.”


Filio melepaskan cekikikannya pada perawat. Ia berjalan dengan langkah tergesa meninggalkan ruang rawat Sahira.


“Maafkan sikap suami saya ya Sus.”


Perawat tersebut tidak menjawab permintaan maaf Sahira ia malah menangis sesenggukan.


Sahira merasa tidak enak para perawat tersebut, entah apa yang ada di bunga itu hingga membuat Filio hilang kendali.


Shira meraih ponselnya dan menghubungi Averyl. “Bu, Fio hilang kendali. Tolong secepatnya ke rumah sakit.”


[Baik Nak, tunggu ibu di sana ya.]


Filio pergi ke ruang keamanan untuk memeriksa kamera pengawas. Setelah ia menjelaskan perkaranya pihak rumah sakit memberi ijin.


Sialnya pengirim bunga tersebut memakai masker, bahkan pelat nomor yang di pakainya pun tidak terdaftar.


Filio meminta Erik untuk menyelidiki kasus ini lebih dalam. Ia bersumpah akan membunuh siapa pun yang berani mengusik hidupnya.


Erik memutar balik mobilnya menuju tempat Rangga di sekap. Dua orang penjaga menunduk memberi hormat pada Erik.


Rangga tengah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia bangkit dan menatap Erik. “Ada apa?”


Erik keluar dari ruang tersebut tanpa sepatah kata pun. Ia masuk ke ruang keamanan untuk melihat kamera pengawas. Semuanya tampak berjalan seperti biasanya tidak ada yang mencurigakan. Erik rasa pelakunya bukan Rangga. Ia akan memperketat penjagaan dan tidak akan lengah seperti sebelumnya.


***


Seorang pria dengan masker tersebut menunggu orang yang telah menyuruhnya. Di Sebuah jalan buntu yang tidak mungkin orang berlalu-lalang. Ia melakukan ini semua semata karena uang, selama ini ia akan menerima perintah apa saja jika bayarannya cukup besar.


Sebuah mobil sport keluaran terbaru berhenti tepat di samping pria bermasker. Kaca mobilnya turun menampakkan wajah tampan nan rupawan. Memiliki mata coklat terang dengan rambut yang berwarna hitam pekat.


“Saya sudah menjalankan tugas sesuai perintah.”


Pria dari dalam mobil, tersebut menyeringai. Rencananya berhasil. Ia melemparkan keresek hitam pada pria tersebut. Lalu kembali melajukan mobilnya.


Mobilnya berjalan menuju pemukiman yang cukup sepi, lalu berhenti di trotoar jalan. Dari tempatnya ia bisa melihat tiga orang penjaga di pintu masuk. Senyum meremehkan terbit dari bibirnya.


Ponsel yang berada di sakunya berdering, ia mengambil dan menerima panggilan tersebut. “Sekarang!”


Perintah sudah di terima, suara sirine menggema menuju bangunan tersebut. Tiga mobil polisi berhenti tepat di depan rumah yang di jaga ketat.


Erik yang tengah berada di ruang keamanan melihat polisi datang segera mengaktifkan bom untuk menghancurkan tempat ini. Ia berlari ke ruangan Rangga.


Tak lupa Erik membius Rangga dan membawa pria itu lari lewat pintu belakang. Mobil sudah siap, Erik masuk dan mulai melajukan mobilnya.


Suara ledakan yang cukup besar mengundang senyum menyeringai dari pria dengan manik coklat terang. Dia memutar balik mobilnya, dan berbelok pada jalan yang berada di sebelahnya.


Dari tempatnya ia bisa melihat anak buahnya tengah menghadang mobil Erik. Ia menyiapkan tiga puluh orang untuk melawan Erik yang hanya bersama dua bawahannya.


Ia hanya menunggu, menjentik-jentikan ibu jari dan telunjuknya hingga menimbulkan bunyi. Tidak lama jendela mobilnya di ketuk. Ia membuka kunci pintu mobilnya.


Dua orang bawahannya membawa tubuh Rangga yang terikat dan memasukkannya ke dalam jok penumpang. Setelah pintu belakang tertutup ia kembali menekan tombol kunci dan mobilnya mulai melaju membelah jalanan besar.


Rangga tersadar, ia membuka mata dan terkejut saat merasakan tubuhnya di ikat. “Sial, kenapa Erik membawaku ke tempat kumuh seperti ini,” keluh Rangga.


Menurut pria bermanik cokelat terang Rangga tidak pantas berada di tempat yang layak seperti yang Erik lakukan.


“Erik sialan kamu,” teriak Rangga sekencang-kencangnya.


Mata Rangga membola kala pintu yang terbuka menampilkan wajah yang tak pernah ingin ia temui lagi.


“Halo Rangga, kita bertemu lagi.”


Sapaan yang terdengar ramah bagi orang lain, namun tidak di telinga Rangga. Rangga mengenal pria dengan manik coklat terang tersebut memiliki jiwa psikopat.