
Sahira masih di rawat di rumah sakit. Sudah dua hari semenjak Filio di tahan tidak ada satu pun makanan yang berhasil masuk, semuanya di muntahkan oleh Sahira.
Averyl memandang sendu pada tubuh menantunya yang tengah terlelap, wajahnya sangat pucat. Averyl mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Eduard. “Ayah bagaimana dengan Filio, ibu sangat khawatir dengan keadaan Sahira.”
[Akan Ayah usahakan, ibu jaga Sahira saja. Tenangkan dia.]
“Baik Ayah.”
Sahira terbangun karena mendengar suara Averyl. “Bagaimana dengan Filio Bu?”
Sahira menaruh harapan besar pada jawaban Averyl.
“Belum ada perkembangan, jangan khawatir Filio pasti bisa keluar secepatnya.”
Sahira tersenyum mencoba meyakinkan dirinya, bahwa Filio akan segera pulang.
Filio berada di sel tahanan sementara. Karena interogasi belum selesai. Kini Filio kembali di bawa kembali ke ruang interogasi. Ia duduk dengan tangan di atas meja dalam keadaan terborgol.
Seorang pria duduk di hadapannya dengan laptop yang menyala. “Seharusnya kamu mengakui ini perbuatanmu sendiri, agar semuanya dapat di proses dengan cepat. Lihat kemari.”
Pria tersebut memutar rekaman kamera pengawas. Rekaman berisi tubuh Kiren yang berjalan masuk ke dalam ruangan Filio. Tidak berapa lama Filio keluar dengan wajah yang penuh amarah. Lalu di susul Kiren yang ikut keluar. Pria tersebut menunjuk bagian leher Kiren yang memar. “Buktinya sudah sangat jelas, kamu sudah tidak bisa mengelak.”
Filio memilih diam. Pria di depannya bersikuku menyalahkan Filio, bahkan saat Filio di dampingi pengacara pun tidak ada gunanya. Dia sudah tidak bisa membela diri.
Satu jam Filio duduk di ruangan tersebut, sampai akhir pun Filio memilih diam dan tidak berbicara sedikit pun.
“Kasus ini akan di serahkan ke kejaksaan,” tandas pria tersebut. Ia keluar dari dalam ruang interogasi membawa serta laptopnya.
Dua orang pria masuk untuk membawa Filio kembali ke sel tahanan. Filio berjalan menuju sel, ia duduk di balik jeruji besi dengan perasaan khawatir akan keadaan Sahira.
Sementara di rumah Eduard tengah berkumpul bersama Simon dan Erik.
“Saya tidak dapat menemukan keberadaan pria yang membawa Rangga. Saya juga sudah mengecek seluruh transportasi. Tidak ada tanda-tanda keberangkatan Rangga.”
Eduard menatap Erik. “Kiren menolak semua yang saya tawarkan, ia tidak ingin berdamai atas kasus ini.”
“Apa yang membuatnya tidak mau berdamai? Bahkan jika Filio di nyatakan bersalah pun ia hanya mendapat uang kompensasi yang kecil. Tidak sebanding dengan yang kita tawarkan.” Eduard sedikit heran dengan kasus Filio kali ini, selama ini kejahatan apa pun yang di lakukan Filio sangat mudah di selesaikan dengan uang. Tapi kali ini semua orang seperti tidak tertarik dengan uang yang Eduard tawarkan.
“Apakah boleh saya mengambil alih?” Simon ingin segera menyelesaikan masalah yang di hadapi tuannya.
Eduard mengerti arah tujuan Simon, asisten pribadinya itu pasti memilih bermain curang.
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Kita sandera orang terdekat kiren.”
Erik menggelengkan kepalanya. “Tidak bisa, dia hanya wanita lajang dan sebatang kara. Tak ada yang bisa kita sandera, terlalu berisiko jika kita menyandera kiren.”
“Kalau begitu biarkan kasus ini berlanjut, saya memiliki beberapa kenalan di pengadilan.”
Eduard menyetujui rencana Simon. “Kalau begitu lakukan dengan benar Simon. Temui Filio, dia pasti sangat merindukan istrinya.”
“Baik Tuan, kalau begitu saya pamit.”
Saat waktunya tiba Simon di persilahkan untuk masuk menemui Filio.
Simon duduk menunggu Filio, tidak lama Filio di antar dua orang penjaga untuk menemui Simon.
“Bagaimana kabarmu my son?” Simon sudah menganggap Filio seperti anaknya sendiri. Meskipun mereka jarang bertemu karena Simon fokus meneruskan perusahaan Eduard saat Eduard berada dalam penjara.
“Buruk,” keluh Filio.
“Ah pasti kau merindukan istrimu.” Simon mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan video kepada Averyl.
Saat panggilan tersebut di terima, Simon memberikan ponselnya pada Filio.
Averyl tersenyum saat melihat wajah Filio, ada rasa tenang. “Kamu pasti merindukan Sahira.”
Dari layar ponsel Simon tampak Averyl berjalan dan kini menampilkan wajah pucat Sahira.
Filio yang melihat istrinya pucat merasa tidak berguna, di saat kesulitan sang istri sedang mengandung anaknya Filio malah tidak mampu mendampingi istrinya.
Filio mencoba tersenyum. “Kamu sepertinya tidak baik-baik saja,” ungkap Filio.
“Iya, anak kita sangat manja. Ia tidak mau makan,” adu Sahira.
“Kalian harus makan dong, supaya aku bisa tenang.”
Sahira tersenyum dan mengangguk kecil. “Aku akan berusaha lebih keras lagi.”
“Terima kasih, maaf kan aku belum bisa menemani kalian.” Filio mematikan sambungan videonya, ia tidak ingin Fiona melihatnya menangis.
Di balik wajah datarnya Simon tersenyum melihat jagoannya yang sering membuat masalah kini meneteskan air mata.
Simon menepuk pundak Filio. “Kami akan berusaha mengeluarkanmu, jangan terlalu banyak berpikir. Sahira aman dalam penjagaan bodyguard apalagi ibumu dua puluh empat jam menemani istrimu.”
“Kapan aku akan keluar?”
“Setelah berkas masuk ke kejaksaan, kamu bisa pulang.”
Waktu bertemu sudah habis, Simon keluar. Tujuannya kali ini untuk menemui kenalannya.
Simon cukup dekat para petinggi di kejaksaan. Ia di antara pegawai resepsionis menuju ruang tempat mereka akan bertemu.
Mereka berbasa-basi Sebelum menuju pada bagian inti dari maksud kedatangan Simon.
Simon menceritakan perkara yang Filio alami. Pria berpangkat wira tersebut mengecek ponselnya, untuk melihat kasus yang di maksud Simon. Kasus tersebut memang sudah di masukkan ke kejaksaan, bahkan tanggal sidangnya pun sudah di tetapkan.
Pria tersebut menatap Simon lekat-lekat, ia tidak mengira Simon membuat masalah dengan Gilbert. “Maaf Simon, tapi untuk kasus ini saya tidak bisa membantu.”
Simon cukup terkejut dengan jawaban yang tidak memuaskan. Kalau pria berpangkat wira di kejaksaan tidak bisa membantunya lalu ke mana lagi ia harus meminta bantuan. Semua orang seperti menolak membantu untuk mengatasi hal sepele ini.
“Benarkah, tapi ini kasus kecil. Saya rasa Anda bisa mengatasinya.”