
Sahira tersadar dari lelapnya. Suara detak jantung yang tenang menyadarkan Sahira kejadian panas semalam.
Sahira baru menyadari betapa bodohnya ia, dengan mudah terpengaruh oleh sentuhan Filio.
Sahira merasa kulit pipinya memanas saat menyadari pemandangan indah di depannya, otot-otot perut Filio terlihat sangat jelas.
Filio membelai rambut Sahira yang berada di atas dadanya. “Kau tidak ingin bangun, ini sudah siang.”
Sahira menarik diri dan menutupi tubuhnya dengan selimut. “Kamu mandi lebih dulu saja.”
Filio menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia berjalan dengan santai menuju kamar mandi.
Sahira menutup kedua matanya, Filio sungguh tidak tahu malu menunjukkan tubuh polosnya hanya memakai ****** ***** saja.
Sahira mengintip lewat celah jarinya, setelah memastikan tidak melihat keberadaan Filio ia membuka kedua telapak tangannya.
Saat mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, refleks Sahira menengok. Mulutnya menganga melihat pemandangan yang tidak ingin di lihatnya.
“Apa kamu masih ingin melihat tubuh polosku, mari mandi bersama,” goda Filio dengan bibir tersenyum.
Sahira mengambil bantal yang ada di belakang kepalanya, lalu melemparkan bantal tersebut ke arah Filio. Dengan sigap Filio menutup pintu kamar mandi sebelum terkena lemparan Sahira.
Sahira menggigit kecil bibir bawahnya, menahan senyuman yang hampir terbit dari bibirnya. Sahira turun dari tempat tidur mengambil pakaian yang berserakan. Kepalanya terus mengulang menampilkan senyuman yang baru ia lihat dari Filio. Sebelumnya ia tidak pernah melihat senyum Filio yang menggemaskan.
Sahira menepuk dadanya, karena jantungnya berdebar. “Sadar Sahira, dia hanya pria gila.”
***
Setelah selesai membersihkan tubuhnya Sahira pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Waktunya tidak banyak karena ia kesiangan.
Sahira memilih menu simpel, oatmeal dengan campuran buah-buahan. Dengan waktu yang cukup singkat Sahira menyajikan sarapan buatannya ke atas meja makan.
Zeina sudah siap dengan seragam sekolahnya dan duduk di tempat makannya. “Waah sudah lama Zeina tidak makan oatmeal, ini sangat enak Bu,” puji Zeina. Ia makan dengan sangat lahap.
Saat Filio datang, sebisa mungkin Sahira menghindari kontak mata dengan Filio.
Filio memandang mangkuk yang ada di depannya. Kepalanya berisi kenangan dengan Razita, istri pertamanya itu selalu malas membuat sarapan. Oatmeal adalah sarapan pagi yang selalu di buatkan Razita.
Sahira hendak menyuapkan sesendok oatmeal ke dalam mulutnya namun ucapan Filio menginterupsi.
“Aku ingin salad buah.” Filio mendorong mangkuk di depannya agar menjauh.
Dengan sangat terpaksa Sahira menjeda acara sarapannya. Ia kembali dapur, mengambil beberapa buah-buahan serta satu botol yoghurt.
Sahira mulai memotong buah. Ia cukup terkejut saat mendapati kehadiran Filio di sampingnya hingga tidak sadar pisau yang sedang di pakai memotong membuat jarinya terluka.
“Ceroboh.” Filio mengambil jari Sahira dan menghisap darah yang keluar.
Tubuh Sahira hanya diam membeku, entah mengapa Sahira menyukai sisi hangat dan cekatan yang Filio miliki. Dalam pandangan Sahira, Filio tampak lebih tampan beribu-ribu kali lipat dari biasanya.
Setelah memastikan jari Sahira tidak mengeluarkan darah lagi, Filio mengambil kotak P3K dan mulai membalut jari Sahira yang terluka.
“Kenapa pipimu semerah tomat?”
Sahira kalang kabut mendapat pertanyaan yang membuatnya sangat malu. “Iii-ini karena aku melihat darah,” jawab Sahira gugup.
“Biar aku saja,” Filio mengambil alih pekerjaan Sahira. Ia memotong buah dengan sangat teliti.
Filio menengok pada Sahira yang tengah memperhatikannya. “Kenapa kamu masih di sini, tidak sarapan?”
Sahira menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Aaah iya aku lupa.” Dengan kecepatan penuh Sahira berjalan menuju meja makan.
Sahira duduk di samping Zeina dan mulai memakan sarapannya. “Zeina, Papi tidak suka oatmeal?” tanya Sahira pada Zeina.
Zeina menelan oatmeal yang berada di dalam mulutnya. “Dulu Papi suka oatmeal, Mami yang suka membuat oatmeal untuk sarapan Pagi. Ada banyak foto yang di ambil Mami saat Papi sarapan.”
Kini Sahira mengerti kenapa Filio tidak ingin makan oatmeal. Mungkin oatmeal mengingatkannya pada Razita. Sahira jadi teringat Rangga, selama mereka menikah ia tidak pernah membuatkan sarapan untuk Rangga. Mantan suaminya tidak terbiasa sarapan.
Sahira memasukkan satu sendok oatmeal ke dalam mulutnya. Sampai kapan pun kejahatan Filio tidak ter maafkan. Sahira akan berusaha membuat Filio jatuh cinta, dan saat tiba waktunya. Sahira akan mencampakkan Filio. Pria tidak berhati seperti Filio harus merasakan sakitnya mencintai.
***
Siang itu Filio menepati janjinya untuk menemani Zeina dan Sahira berbelanja untuk acara besok.
Filio seperti asisten yang menenteng barang-barang milik Sahira dan Zeina. Filio menyesal tidak mengikut sertakan Erik.
“Aku tunggu di resto sana ya,” ucap Filio pada Sahira. Ia menyerahkan black card miliknya.
Filio masuk ke dalam resto memesan minuman, ia memandang setumpuk paper bag di sampingnya. Hal yang paling menyebalkan menurut Filio. Apalagi putri kecilnya sangat suka belanja.
Filio menikmati secangkir kopi seraya memeriksa beberapa email penting yang di kirim Erik.
Lewat ekor matanya Filio menangkap siluet Sahira dan Zeina. Ia mengalihkan pandangan ke arah istrinya.
Filio menghampiri mereka, tangan Filio melingkar dengan sangat lancang di pinggang Sahira. “Kamu tidak kenapa-napa sayang?”
Sahira melirik Filio dengan terheran-heran. “Aku baik-baik saja, hanya terkena tumpahan minuman dingin.”
“Maaf saya tidak bermaksud menyakiti istri Anda,” pria yang menumpahkan minuman ke tubuh Sahira tersenyum penuh arti pada Filio.
Filio yang menangkap senyum mesum dari pria di depannya, segera menarik tangan Sahira dan Zeina.
Sahira mengeluarkan tisu lalu mengeringkan keringat di kening Zeina. “Sebentar ya, Ibu pesankan.”
Setelah memesankan minuman, Sahira berjalan menuju kamar mandi. Ia harus membersihkan bajunya yang terkena minuman pria tadi.
Bermodalkan tisu saja tidak membuat nodanya hilang, namun sedikit beruntung karena bajunya kini mulai mengering. Sahira keluar dari kamar mandi, ia terkejut saat pria tadi mengimpitnya ke tembok.
“Hi cantik.” Pria berjambang tersebut tersenyum penuh arti pada Sahira.
“Pergi!” bentak Sahira. Entah mengapa ia merasa pria di hadapannya lebih gila dari Filio. Ini tempat umum kenapa pria ini berani mendekatinya.
“Aku suka wanita bersuami sepertimu.” Pria tersebut mencondongkan kepalanya pada wajah Sahira.
“Tapi aku tidak suka, jadi pergilah!” bentak Sahira. Ia berusaha mendorong pria di hadapannya. Namun pria itu malah mengunci tangannya.
“Lepaskan brengs*ek!” bentak Sahira lagi.
Bukannya takut dan melepaskan, pria itu malah semakin tertarik dengan Sahira.
Sahira merasa beruntung saat pria itu terhuyung begitu mendapat pukulan dari Filio.
Filio yang murka memukul pria tersebut dengan membabi buta. Pria berjambang tersebut tidak bisa mengalahkan Filio. Tubuhnya ambruk ke lantai, dengan bagian wajah yang memar.
Rasanya Filio belum cukup puas, meskipun pria itu sudah kehilangan kesadaran, ia membawa tempat sampah untuk memukulkannya pada pria sialan yang berani menggoda istrinya.
Sahira menahan tangan Filio. “Sudah cukup, dia sudah pingsan.”
Filio melempar tempat sampah tersebut ke sembarang arah. Tangannya menangkup kedua sisi pipi Sahira, “Dia tidak macam-macam padamu?”
Sahira bisa melihat wajah khawatir Filio. Ia memeluk Filio, “Aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhku selain kamu.” Rasanya Sahira ingin muntah mendengar gombalan yang keluar dari mulutnya sendiri.
Sepertinya Filio terjerat karena ucapan Sahira. Pria itu memeluk Sahira tak kalah eratnya.
Sahira dan Filio melepaskan pelukan mereka. “Ayo cepat Zeina pasti menunggu,” ajak Filio. Tangan Filio menggenggam erat tangan Sahira. Mereka bergandengan tangan menuju meja Zeina.
“Papi dan Ibu kok lama, Zeina sudah tidak sabar untuk segera makan,” keluh Zeina.
sebelum mereka datang Filio memang sengaja telah memesan beberapa makanan untuk makan malam mereka.
Filio mengelus puncak kepala Zeina. “Ayok kita makan.”
Zeina mengerucutkan bibirnya, “Papi Zeina mau di suapi,” pinta Zeina dengan nada manjanya.
“Memangnya Zeina tidak malu?” tanya Filio.
Zeina menggelengkan kepalanya, mulutnya terbuka menunggu suapan Filio.
Entah mengapa gadis kecilnya sangat manja hari ini. Filio mengikuti keinginan Zeina.
Makanan Zeina sudah habis, ia terlihat mengantuk. Filio menghabiskan makanannya dengan cepat.
Filio memutuskan untuk pulang, karena sudah malam. Apalagi Zeina terlihat mengantuk.
Sesampainya di rumah Vira segera melaksanakan tugasnya untuk membersihkan tubuh Zeina dan menemani putri tuannya untuk tidur.
Sementara Sahira dan Filio kembali ke kamar. Sahira memperhatikan barang belanjaannya dan Zeina yang menumpuk di pojok kamar. Ia memisahkan beberapa barang untuk keperluan besok.
Melihat istrinya yang sibuk Filio lebih memilih masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Ucapan Sahira terus terngiang-ngiang di kepala Filio, ada rasa menggelitik di hatinya.
Filio keluar dari walk in closet dengan pakaian tidurnya. Pandangannya tertuju pada Sahira yang sibuk merapikan barang-barang. “Pergi mandi dulu saja, keperluan besok biar Vira yang tangani.”
Sahira menutup ransel untuk di bawa besok. Kepalanya menengok ke arah Filio. “Tidak perlu sudah selesai,” tandas Sahira.
Kini giliran Sahira yang membersihkan tubuhnya. Ritual mandi Sahira tidak terlalu lama, ia ingin segera beristirahat agar besok tubuhnya fit.
Sahira bergabung dengan Filio yang santai memainkan ponsel. Ia merebahkan tubuhnya di samping Filio. Sahira menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.
Suara ketukan di pintu menarik perhatian Filio, ia turun dari tempat tidur untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka tampak wajah lelah Zeina. “Zeina ingin tidur bersama Papi dan ibu.”
Filio menggendong tubuh Zeina ke tempat tidur. Zeina memeluk tubuh Sahira dengan erat. “Ibu jangan pernah tinggalkan Papi ya. Zeina sangat menyayangi Papi, ibu juga harus berjanji tidak akan membuat Papi sedih.”
Sahira membalas pelukan Zeina, mengecup kening putri sambungnya. “Iya sayang, ibu berjanji.” Meskipun berjanji Sahira tidak yakin dengan ucapannya, bagaimana pun Sahira sudah bertekad untuk membalas perbuatan Filio.
Zeina melepaskan pelukannya, ia mengubah posisi tidurnya menghadap Filio. Memeluk ayahnya dengan sangat erat. “Papi harus menyayangi dan mencintai Ibu. Jangan marah-marah pada Ibu, Zeina menyayangi ibu. Zeina senang Papi memilih Ibu Sahira untuk Zeina.”
“Papi akan berusaha,” bisik Filio di telinga Zeina.
“Ibu, Zeina ingin di peluk ibu juga,” pinta Zeina.
Sahira mengikuti keinginan Zeina. Ia memeluk tubuh Zeina, begitu juga dengan Filio yang memeluk Zeina dengan erat.
“Sayang sekali Zeina tidak bisa bertemu Oma dan Opa,” keluh Zeina dengan lirih. Matanya mulai menutup, untuk pergi ke alam mimpi.
Entah mengapa Filio merasakan firasat yang tidak mengenakan. Tapi ia menepisnya jauh-jauh, memejamkan Kedua matanya untuk segera pergi ke alam mimpi menyusul Zeina.
Tubuh Sahira sangat lelah, ia merasa seperti memiliki keluarga utuh sesuai keinginannya. Tangan Sahira memeluk Zeina dengan sangat erat, ada penyesalan dalam dirinya karena berbohong pada Zeina.