
Sahira menangis sesenggukan, ia tidak menyangka akan kehilangan Rangga secepat ini. Pria yang ia perjuangkan kini di lalap api di depan matanya sendiri.
“Pria lemah seperti dia tidak pantas di tangisi, hapus air matamu!” Rasanya Sahira ingin mencekik pria tidak punya hati nurani seperti Filio.
“Kenapa kamu membunuh Rangga, baji*ngan!” Sahira memukul dada Filio melampiaskan kemarahannya.
Filio mendorong tubuh Sahira hingga punggungnya membentur mobil. Tangan Filio mengeluarkan senjata api dan menodongkannya tepat di kening Sahira. “Kau ingin pergi menyusulnya juga?”
Jika ingin bertindak gegabah Sahira saat ingin menyusul Rangga, namun ia teringat pada Aditama orang tua Rangga yang masih membutuhkannya.
Dengan seluruh kekuatannya, Sahira mendorong tubuh Filio. Ia menghapus air matanya dan masuk ke dalam mobil.
Filio tersenyum miring melihat kelancangan Sahira. Istrinya itu mulai berani sekarang.
Filio masuk ke dalam mobil, dan membawa Sahira pulang. Sesampainya di rumah kedatangan mereka di sambut tangis Zeina.
“Zeina kenapa menangis?” tanya Sahira memeluk tubuh mungil Zeina.
Di tengah tangisnya Zeina menjawab pertanyaan Sahira. “Kenapa Ibu tidak bilang kalau di culik, kalau Zeina tahu ibu di culik Zeina akan melawan para penjahat itu.”
Sahira menahan senyuman yang hampir terbit di bibirnya, bagaimana bisa makhluk kecil ini sangat menggemaskan tidak seperti bapaknya.
“Sayang sekali, mulut ibu di bekap penjahat. Jadi tidak bisa meminta bantuan Zeina.”
Zeina melepaskan pelukannya, ia membelai rambut Sahira. “Ibu jangan di culik lagi ya, Zeina sangat khawatir.”
Sahira mengangguk patuh, ia mengecup pipi Zeina. “Ayo kita makan, ibu sangat lapar. Para penculiknya tidak memberikan ibu makanan, lihat perut ibu jadi kurus begini.” Sahira menunjukkan perutnya yang rata.
Zeina meraba perut datar Sahira. “Ibu di sana ada adik bayi Papi tidak?”
Suara Filio yang tersedak mengundang perhatian Sahira dan Zeina. “Sepertinya Papi butuh minum,” Filio berjalan menuju dapur dengan perasaan canggung. Mengapa ia harus tersedak segala mendengar pertanyaan Zeina.
“Ada tidak Bu? soalnya ibunya teman Zeina di perutnya ada adik bayi.” Zeina menunggu dengan tidak sabar, ia menginginkan adik juga supaya memiliki teman bermain saat di rumah.
Sahira tersenyum, “Belum ada, siapa tahu besok ada. Zeina bantu doakan ya,” pinta Sahira.
“Baik Bu, Zeina akan doa banyak-banyak.”
Sahira mengacak puncak kepala Zeina. “Ayo kita makan.”
Zeina menggenggam tangan Sahira, dan berjalan beriringan menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan sudah ada Filio yang tengah menyiapkan makanan untuk Zeina.
“Papi,” panggil Zeina.
Filio menghentikan pergerakannya, “Kenapa sayang.”
“Papi harus banyak-banyak berdoa, supaya di perut ibu ada adik bayi. Zeina sangat ingin punya adik bayi kembar Pi.”
“Papi tidak bisa menentukan adik bayinya kembar atau tidak. Tapi kalau Zeina sangat menginginkan adik bayi Papi bisa mengabulkannya dengan cepat.” Filio melirik Sahira, tapi istrinya itu sengaja mengalihkan perhatian pada makanan di atas meja makan.
“Hore, besok bisa Pi?” wajah antusias Zeina selalu menggemaskan bagi Filio.
“Bisa, tapi malam ini Zeina tidur sendiri ya.” Filio menyimpan piring berisi makanan ke hadapan Zeina.
“Yah, padahal Zeina ingin tidur di temani ibu lagi,” protes Zeina dengan wajah sedihnya.
“Kalau begitu Papi tidak bisa mengabulkan permintaan Zeina,” ucap Filio. Tangannya sibuk menyendok lauk untuk makan malamnya.
Bibir Zeina mengerucut. “Tapi hanya malam ini ya Pi, besok ibu harus tidur bersama Zeina.”
“Oke.”
Sepanjang makan malam, detak jantung Sahira terus berdegup kencang. Ucapan Filio berhasil membuatnya salah tingkah, antara tidak mau dan tidak percaya.
Pria kasar seperti Filio akan seperti apa di atas ranjang. Sahira tidak sanggup membayangkannya.
“Tidak kenapa-napa, hanya pegal leher saja.” Sahira menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri.
“Ibu istirahat saja kalau begitu, besok kita harus berbelanja untuk keperluan ke hutan.” Zeina cukup khawatir dengan keadaan Ibunya, padahal besok ia ingin membeli banyak barang untuk keperluan ke hutan.
“Kalau begitu ibu ke kamar dulu ya, Zeina habiskan makan malamnya.”
“Baik Bu.”
Sahira pergi ke kamar lebih dulu. Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket.
Saat air mengenai tubuhnya Sahira teringat akan Rangga. Andai saja Filio tidak mencegahnya Sahira sangat ingin masuk dan menolong Rangga.
“Maafkan aku Rangga,” lirih Sahira di ikuti air mata yang mengalir.
Sahira tidak menyadari kedatangan Filio. Ia terkejut saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
Filio menghisap ceruk leher Sahira, tangannya meraba perut rata Sahira.
Sahira menahan tangan Filio. “Lepaskan aku ingin mandi.”
“Diamlah, aku hanya mengikuti keinginan Zeina.” Tangan nakal Filio berpindah meraba gundukan kenyal milik Sahira.
Sahira mencoba menahan hasra*tnya, namun setiap sentuhan Filio berhasil membuatnya kalang kabut dan menginginkan lebih.
Berhasil membuat Sahira kehilangan akal sehat, Filio membawa tubuh polos Sahira ke atas tempat tidur.
Mata Filio menatap setiap lekuk tubuh Sahira, sementara lengannya membuka kancing kemejanya.
Filio menindih tubuh Sahira, ia menyambar bibir tipis Sahira dengan penuh gai*rah. Mereka melepaskan pagu*tan saat kehabisan nafas.
Filio dan Sahira saling pandang, keduanya di penuhi gair*ah. Tidak membuang waktu Filio segera mengambil langkah cepat untuk menikmati tubuh Sahira.
Mereka bergelut saling memberikan kepuasan, hingga mendapatkan pelepasannya masing-masing.
***
Aroma rumah sakit yang khas cukup mengganggu indra penciuman pria yang tengah berdiri di samping ranjang pasien.
“Aaaa,” suara teriakan pasien cukup mengejutkan.
Seorang dokter dan perawat datang dengan langkah tergesa karena mendengar suara teriakan.
Nafas Rangga terengah, dadanya berdetak kencang. Bayangan ledakan di ikuti api menyambar jelas di ingatannya.
Dokter segera memeriksa keadaan Rangga. Setelah memastikan keadaannya baik-baik saja, dokter tersebut menunduk memberi hormat. “Pasien baik-baik saja hanya syok.”
Rangga mengedarkan pandangannya, maniknya berhenti di satu titik pada pria yang berdiri di bagian barat. Tubuhnya terlihat tegap, wajahnya masih tampan seperti dulu. Namun kali ini pria yang Rangga kenal terlihat lebih tua dengan beberapa garis halus pada wajahnya.
“Om.” Rangga tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Rangga sangat yakin bahwa ia tidak salah lihat, pria yang telah menghancurkan hidupnya dan Aditama berdiri tepat di depannya sekarang.
“Kau berhutang nyawa!”
“Apa mau Om, Ayah sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Tapi kenapa Filio ikut campur dan merebut istriku,” teriak Rangga dengan nada frustrasinya.
Eduard tahu betul apa yang di katakan Rangga. Ia mendapat laporan dari orang kepercayaan bahwa Rangga menikah dengan wanita secara diam-diam.
Ini adalah salah satu alasan Eduard kembali mengawasi putranya, setelah kepergian Razita Eduard merasa harus mengawasi putranya.
Eduard mengeluarkan roko dan membakarnya. Kepulan asap keluar dari mulut Eduard.
“Kau tidak punya pilihan selain membiarkan Filio memiliki Sahira.”
“Aku akan merebut kembali milikku,” tegas Rangga. Ia mencabut selang infus yang ada di tangannya.
Eduard membuang roko yang baru ia sesap satu kali, lalu menginjaknya. Dengan gerakan cepat Eduard menodongkan senjata apinya tepat di dahi Rangga.