The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Ceroboh



Filio menatap Sahira yang tengah asyik menghabiskan spageti yang ia buat. Ada perasaan senang melihat istrinya makan dengan lahap.


Sahira menampilkan senyuman untuk Filio. “Terima kasih.”


Sahira mengecup pipi Filio dengan bibirnya yang masih belepotan oleh saus.


“Sahira!” panggil Filio dengan nada dinginnya.


Sahira terkikik, ia mengambil tisu dan membersihkan pipi Filio.


Filio mencubit pipi Sahira. “Aku baru tahu ternyata kamu wanita yang sangat jahil.”


Sahira menampilkan deretan giginya pada Filio lalu melanjutkan aksinya membersihkan pipi suaminya.


“Kalau takdir mempertemukan kita lebih dulu, mungkin sekarang kita memiliki banyak anak.”


Sahira berkacak pinggang. “Kenapa suamiku jadi ceweret sekali. Kepalaku rasanya pengang mendengar ocehanmu.”


Filio memegang pundak Sahira, mendorongnya perlahan hingga mencapai dinding. Tatapan tajam Filio tidak sekalipun membuat Sahira takut wanita itu malah tertawa.


“Kamu tidak takut padaku?”


Kepala Sahira menggeleng. Ia menyingkirkan tangan Filio dari pundaknya. Berjalan meninggalkan Filio menuju kolam berenang yang memberikan pemandangan indah di malam hari.


Sahira duduk di kursi santai, sementara Filio mengikuti Sahira dan duduk di samping istrinya.


Sahira tidak merasa takut lagi pada Filio. Meskipun pandangan Filio mengintimidasi namun Sahira tidak melihat aura kemarahan dalam manik Filio. Dan jika Filio berani menyakiti Sahira lagi, dia akan meminta bantuan Averyl. Filio jadi jinak jika berhadapan dengan ibunya.


“Ibumu wanita yang kuat,” ujar Sahira.


Filio mengalihkan pandangannya dari laut terhadap istrinya. “Dia sangat kuat, namun terlalu ceroboh.”


Kening Sahira mengerut. “Benarkah?”


“Hmmmmm. Saat usiaku enam tahun aku mendapati kamar ibuku penuh dengan darah.”


Sahira menunggu kelanjutan cerita dari suaminya. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Filio. “Mulai saat itu aku tidak pernah takut jika melihat darah. Bahkan saking tidak takutnya aku menusuk dan memukuli orang yang berani mengusik hidupku dan Fiona. Kami pernah menjadi bahan bulian orang-orang, saat ibu mengalami stres berat dan harus bulak balik psikolog karena ulah Ayahnya Rangga.”


Awalnya Sahira tidak percaya dengan ucapan Filio tempo hari, tapi melihat raut wajah kesedihan yang bercampur amarah kini Averyl tahu bahwa yang Filio katakan adalah kebenaran.


“Apa dulu Razita mengalami hal yang sama seperti yang aku rasakan?” Sahira membawa tangan besar Filio ke atas pahanya, tangan Sahira memainkan jemari besar milik Filio.


“Hanya satu kali, saat akhir hayatnya.”


Wajah Sahira terlihat kebingungan mencerna kalimat yang keluar dari mulut suaminya. Ia menegakkan tubuh dan memandang Filio lekat-lekat. “Maksudmu-”


“Razita memutuskan bunuh diri setelah mendapatkan kekerasan?” lanjut Sahira.


“Aku yang membunuhnya.” Filio mendorong tubuh Sahira perlahan ke kursi santai panjang.


Manik Sahira membulat, ia cukup terkejut dengan pengakuan Filio.


“Andai dia tidak berselingkuh, dan berse’tubuh dengan pria lain. Mungkin aku tidak akan membunuhnya. Dia melemparkan kotoran pada mukaku, apa kamu tahu Rangga pernah berse’tubuh dengan Razita?”


“Aku sudah mencintaimu, jadi jangan coba-coba berselingkuh. Karena aku tidak memberikan ampunan padamu.”


Sahira melingkarkan tangannya ke punggung Filio. Menyesap aroma tubuh Filio yang terasa menenangkan. “Aku tidak tahu perasaan apa yang muncul tanpa aku minta, namun sepertinya aku juga mencintaimu.”


Filio memandang manik Sahira, istrinya terlihat sangat jujur. Filio meraba perut Sahira yang masih datar, namun di sana ada darah daging miliknya. “Aku lupa bertanya, jenis kelaminnya apa?”


“Memangnya kenapa?”


“Harus anak laki-laki ya,” pinta Filio dengan nada penekanan.


Sahira mencubit pinggang Filio. “Aw sayang sakit.”


“Kamu kira aku mesin, yang bisa di minta sesuai keinginanmu!” Sahira bangkit dan berjalan meninggalkan tubuh Filio.


Filio segera beranjak menyusul Sahira. Istrinya malah naik ke atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Sahira cukup kesal mendengar permintaan Filio. Menurutnya anugerah dari Tuhan harus di terima dengan baik, bagaimana pun banyak ribuan orang di luar sana yang berjuang untuk memiliki keturunan.


Filio ikut merebahkan tubuhnya di samping Sahira. Memeluk istrinya dari balik selimut dengan sangat erat. “Maaf, mau laki-laki atau perempuan itu tetap anak kita. Terima kasih sudah mau merawatnya di dalam tubuhmu.”


Filio pun tidak masalah jika anak yang lahir seorang perempuan. Hanya saja ia ingin juga memiliki anak laki-laki yang akan jadi penerus perusahaannya.


Tidak kunjung mendapat respons dapat di pastikan ibu hamil satu ini sedang merajuk. Menurut beberapa buku yang Filio baca, wanita akan sangat sensitif jika sedang mengandung.


“Sayang,” panggil Filio. Dengan perlahan ia menyibakkan selimutnya dari wajah Sahira.


Selimut terbuka menampilkan wajah tenang Sahira yang terlelap. Filio memeluk tubuh istrinya dan ikut pergi ke alam mimpi.


Dari gerbang luar seorang pria menghampiri pos penjaga. Di tangannya terdapat satu pisau mengkilap yang ia lemparkan tepat di leher sang penjaga.


Pisau tersebut menancap sempurna di leher penjaga. Penjaga tersebut kehilangan kesadaran karena nadinya teriris dengan tepat.


Setelah berhasil melumpuhkan lawannya, pria tersebut memakai masker hitam dan berjalan masuk ke dalam. Target utamanya ialah ruang keamanan.


Pria tersebut masuk lewat pintu samping dan berjalan dengan langkah tenangnya ke ruang keamanan. Dia bersembunyi di balik dinding saat dua penjaga tiba-tiba keluar dari ruang keamanan.


Tangan lihainya melempar dua pisau sekaligus tepat pada indra penglihatan penjaga tersebut. Mendapat serangan mendadak dari arah yang tidak terduga tubuh mereka ambruk ke lantai.


Pria tersebut menyeret dua penjaga yang sudah tumbang masuk kembali ke dalam ruang keamanan. Pria tersebut membuka masker yang ia pakai. Bibirnya menyeringai saat melihat layar monitor di depannya menampilkan rumah yang cukup kosong. “Dasar bodoh, rumah sebesar ini hanya memiliki tiga orang penjaga rumah.”


Jemari tangannya yang besar menarik pisau miliknya dari bola mata para penjaga. Darah segar mengalir begitu saja. Pisau yang ada di tangannya berlumuran darah, tanpa rasa jijik lidahnya menjulur menjilati pisau tersebut hingga kembali mengkilap.


Pria tersebut menyimpan kembali pisau yang sudah bersih ke tempat asalnya a. Jemari tangannya menari di atas keyboard. Setelah berhasil menemukan keberadaan Sahira dan Filio. Ia meninggalkan ruang keamanan.


Malam ini tampak sempurna. Pria tersebut tidak perlu berusaha payah dalam aksinya. Pemilihan waktu yang sangat tepat, rumah ini memiliki kekurangan keamanan. Bahkan sepertinya Filio lupa mengunci pintu kamarnya sendiri.


Dengan perlahan ia membuka knop pintu, berjalan dengan sangat pelan hingga sampai di samping tubuh Sahira. Ia mengeluarkan pisau kesayangannya dan menempelkannya pada leher putih Sahira.


Sahira merasakan benda tajam di lehernya ia terbangun dan cukup terkejut melihat pria yang ia kenal ada di hadapannya.


“Jangan berisik atau aku akan membunuhmu,” ancam pria tersebut. Ia berbicara dengan gerakan bibirnya saja. Namun Sahira mampu mengartikannya dengan amat jelas.