The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Malaikat Maut



“Jangan berisik atau aku akan membunuhmu.”


Mata Sahira terbuka sempurna saat pria bermasker di hadapannya menampilkan wajahnya. “Adnan,” batin Sahira.


Sahira ketakutan setengah mati, bahkan ia tidak bisa melirik Filio sedikit pun karena pisau yang ada di lehernya terasa mengiris kulit lehernya.


Sahira bangkit dari posisi tidurnya dengan sangat perlahan, takut pisau yang di todongkan Adnan melukainya.


Adnan membawa tubuh Sahira hingga ke ruangan tengah yang cukup luas. Adnan mengikat tangan Sahira pada sebuah pilar besar di tengah ruangan.


Adnan mengeluarkan pistol, ia membidik guci besar di sudut ruangan. Ia tak mahir dalam memakai pistol, namun ia andal melawan musuh dalam jarak dekat.


Suara tembakan dan guci yang pecah menggema di seluruh rumah. Filio tersadar dari tidurnya. Ia melirik ke arah Sahira namun di sampingnya kosong. Filio mengambil pistol yang ia simpan di nakas.


Filio keluar mencari keberadaan Sahira. Langkahnya terhenti saat pandangannya tertuju pada tubuh Sahira yang tengah di sandera.


“Halo Fio, apa sekarang kamu mengingatku?” tangan Adnan melambai menyapa dari jarak jauh.


_-Flashback-_


Sudah dua jam Filio berdiri di tempat parkir menunggu Fiona. Namun saudara kembarnya belum juga muncul. Rasa cemas mulai membanjiri perasaan Filio. Dia berlari mencari keberadaan adiknya. Tas punggung yang di pakainya bergoyang ke sana kemari.


Filio berhenti menghampiri segerombol anak wanita teman sekelas Fiona. “Kalian liat Fiona?”


“Tadi Adnan tarik Fiona ke belakang sekolah.”


Filio berlari ke area belakang sekolah. Gudang yang pengap di penuhi tumpukan meja serta kursi yang sudah usang dan tak layak di pakai.


“Fiona,” teriak Filio memanggil sang adik.


Filio bergerak mencari ke segala penjuru, namun tidak ada sahutan.


Brak!


Suara gaduh tersebut terdengar dari kamar mandi yang ada di ruangan tersebut. Filio menekan knop pintu, namun tidak terbuka karena terkunci dari dalam. Filio mendobrak pintu tersebut. Satu kali percobaan gagal, namun saat yang kedua kalinya Filio mencoba mendobrak lagi pintu tersebut akhirnya terbuka sempurna.


Tangan Filio mengepal kala melihat adiknya tak sadarkan diri. Pakaian seragam sekolahnya tampak koyak menampilkan baju dalam Fiona.


Adnan menepuk pipi Fiona. “Bangun Fiona,” namun Fiona tidak kunjung terbangun.


Filio menarik kerah Adnan, memojokkan Adnan ke dinding kamar mandi. Satu pukulan Filio layangkan pada pipi kanan Adnan.


“Berhenti Filio Lo salah faham,” ucap Adnan. Apa yang di lihat Filio tidak sesuai dengan Fakta, ia kemari untuk mencari keberadaan Fiona. Namun saat ia masuk keadaan Fiona seperti yang Filio lihat, dan entah siapa yang sengaja mengunci Adnan dari luar.


Bukannya berhenti Filio semakin menjadi dan memberikan serangan pada perut Adnan.


Adnan meringis. Ia mulai kesal pada Filio yang terlalu kasar, seharusnya ia mementingkan saudara kembarnya dahulu di banding bertarung. “Sepertinya bukan hanya ibu Lo saja yang gila. Tapi Lo dan Fiona juga sama sakit jiwa.”


Filio tidak terima atas penghinaan Adnan. Ia mengambil sebongkah kayu bekas kursi dan memukul kepala Adnan.


Adnan tidak sempat menghindar dari pukulan Filio. Kepalanya terasa pusing. Adnan meraba bagian yang terasa sakit, ternyata mengeluarkan darah.


Melihat amarah yang muncul di wajah Filio, Adnan malah semakin menperkeruh suasana. Adnan muak, selama ini ia berusaha mencintai Fiona dan melindungi Fiona dari para pria yang ingin melecehkan Fiona. Tapi Filio hanya memandangnya dengan sebelah mata. “Sekarang bukan hanya ibu Lo yang jal’ang, tapi Fiona juga sama jalan’gnya.”


Filio sengaja tidak melawan, rencananya berhasil membuat Adnan kelelahan. Kali ini Filio menghantam tangan serta kaki Adnan. Hingga tubuh musuhnya ambruk ke lantai.


Dengan bengisnya Filio memukul tubuh Adnan hingga tidak berdaya di lantai. Sebelum musuhnya kehilangan kesadaran Filio menginjak dada Adnan. “Sekali lagi Lo berani menampakkan muka Lo di hadapan Fiona, gua gak segan-segan buat bunuh Lo.”


Filio memberikan pukulan terakhirnya di kepala Adnan, hingga musuhnya itu kehilangan kesadarannya.


_-Flashback off-_


Filio bisa mengingat dengan sempurna. “Lepaskan Sahira, dia tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian saat itu.”


“Namun sepertinya aku juga tertarik dengan wanita ini,” ucap Adnan. Ia menyesap leher Sahira.


Sahira berusaha menghindar, ia merasa jijik dengan sikap Adnan. Namun karena ikatan pada tangan dan tubuhnya Sahira tidak bisa menghindar lebih jauh.


Filio tidak bisa gegabah menembak Adnan, bisa saja pria itu di sisa hidupnya menyayat leher Sahira.


Adnan memosisikan kepalanya di samping kepala Sahira. “Lempar pistolmu kemari, atau aku akan menancapkan pisau ini ke mata indah istrimu ini.”


Sahira tidak bisa bernafas, saat sebuah pisau dengan ujung yang runcing berada tepat di depannya matanya.


Filio memilih mengalah dan melemparkan pistolnya. Ia tidak ingin Sahira lecet sedikit pun.


Adnan menarik pisau yang ada di depan mata Sahira dan menyimpannya. Tangannya mengambil pistol yang di lemparkan Filio.


“Sekarang lepaskan Sahira.”


Adnan melepaskan Sahira namun pisau yang di gunakan untuk menyandera leher Sahira ia tancapkan ke perut Sahira.


“Aaaa,” pekik Sahira. Ia memandang perutnya yang tertancap pisau milik Adnan.


Adnan menyeringai ke arah Sahira. “Tenang saja, janinmu tidak akan terbunuh. Niatku hanya menghabisi nyawa Filio.”


Filio menyerang Adnan dengan pukulannya.


Adnan yang pandai bela diri bisa menangkis pukulan Filio. Ia mengeluarkan pisaunya dan mulai menyerang Filio.


Tiga kali serangan Adnan tidak dapat melukai Filio. Namun kali ini Adnan mulai mahir membaca setiap pergerakan Filio. Hingga akhirnya pisau Adnan melukainya lengan kanan Filio.


Filio mundur melihat luka di tangannya, ia melirik tubuh Sahira yang bersandar pada pilar mulai menutup mata.


Filio tidak boleh membuang-buang waktu, ia harus segera menghabisi Adnan. Filio mengambil ukiran batu berbentuk patung dan menggenggamnya erat-erat. Ia maju dan mulai melawan Adnan.


Serangan Filio terlalu mudah bagi Adnan. Ia menyerang balik Filio dengan sangat brutal, seperti yang Filio lakukan dulu. Adnan berhasil memberikan beberapa sayatan pada tubuh Filio.


Filio mulai kewalahan menghadapi Adnan, tapi ia tidak menyerah sedikit pun. Filio mengabaikan rasa sakit pada tubuhnya ia kembali menyerang Adnan.


Adnan berhasil melumpuhkan tubuh Filio ke lantai. Ia menindih perut Filio, langkah terakhirnya adalah menancapkan pisau runcingnya di dada Filio. Tangan Adnan terangkat ke atas, bersiap menancapkan pisaunya. “Bersiaplah, malaikat maut akan menjemputmu.”


***


Maafkan kalau adegan actionnya kurang seru, nanti aku belajar lagi. Semoga kalian gak kapok dan tetap setia baca karya-karyaku. Love u 💕💕💕💕