
Hari libur telah tiba, setelah pembagian rapor Sahira mendapat libur selama tiga hari. Pagi itu Sahira keluar dari kamar kos untuk membeli sarapan. Ia membeli satu porsi bubur ayam dan kembali ke kamar.
Sahira membuka bubur tersebut, aroma wangi dari bubur menguar di udara. Perpaduan wangi kaldu ayam dan bawang goreng membuat perutnya semakin berisik.
Sahira menyendok makanan tersebut dan memasukkan ke dalam mulutnya. Perpaduan yang sangat pas tidak terlalu asin dan tidak hambar. Saat di kunyah Sahira menyukai sensasi wangi dari seledri yang khas.
Sahira bangkit dari duduknya saat pintu kamarnya di ketuk. Dahinya mengernyit, “Siapa yang datang pagi-pagi sekali?”
Untuk menepis rasa penasarannya, Sahira membuka pintu. Tubuhnya terlonjak saat melihat wajah datar Filio.
Tanpa di suruh Filio masuk ke dalam, pandangannya tertuju pada bubur milik Sahira. “Kamu sedang sarapan?”
Sahira mengangguk.
Filio menuntun Sahira untuk kembali duduk di sisinya. Filio mengambil alih bubur tersebut dan menyuapi Sahira.
Sahira yang masih terkejut hanya menurut dan menerima suapan dari Filio. “Kenapa kamu memilih kamar yang tidak layak di tempati.”
Sahira mengunyah bubur yang ada di dalam mulutnya sebelum menjawab. “Aku bukan orang kaya, dan tidak punya cukup banyak uang.”
Filio tidak membalas ucapan Sahira ia fokus menyuapi Sahira.
Sahira melihat kantung mata milik Filio. “Apa Filio juga tidak tidur semalaman?” batin Sahira.
Bubur milik Sahira sudah habis, Filio memberikan minum pada Sahira.
“Aku bisa melakukannya sendiri, aku bukan anak kecil lagi.” Sahira mengambil gelas dari tangan Filio.
Sahira melihat sayatan di telapak tangan Filio. Ia mengambil tangan Filio dan menelitinya. “Apa yang kamu lakukan?”
“Ini bukan apa-apa.” Jawab Filio. Ada perasaan hangat di dalam hatinya melihat wajah khawatir Sahira.
Sahira menghitung luka yang ada di telapak tangan Filio. Ia menekan lukanya sedikit hingga darah segar kembali mengalir.
Air mata Sahira turun begitu saja. Ada perasaan takut yang ia rasakan saat melihat Filio terluka.
Filio membawa tubuh Sahira ke dalam pelukannya. Sahira menangis sesenggukan dalam dekapan Filio. Perasaannya campur aduk, Sahira senang dengan kehadiran Filio tapi ia tidak suka melihat suaminya terluka.
Aroma tubuh Filio terasa menenangkan, Sahira melepaskan pelukannya dan menatap Filio dengan air matanya yang masih mengalir.
Ibu jari Filio menghapus air mata Sahira. “Jangan menangis aku baik-baik saja.”
Filio teringat akan pria yang Sahira temui di hotel. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto tersebut pada Sahira. “Kamu dekat dengan pria ini?”
“Pak Adnan, guru olah raga di sekolah. Dia juga kos di sini.”
Tangan Filio mengepal. “Sial pria itu mengincar Sahira,” batin Filio.
“Ikut denganku, ada yang harus aku tunjukkan.” Filio menarik tangan Sahira menuju mobilnya yang terparkir.
Sahira masuk dengan perasaan was-was. Filio duduk di balik kemudi dan mulai melajukan mobilnya.
Sudah setengah jam duduk, tempat yang ingin di tunjukan Filio tidak kunjung sampai. Pantat Sahira terasa panas dan pegal karena terlalu lama duduk. “Sebenarnya kita mau ke mana?”
“Sebentar lagi sampai.” Jawab Filio matanya melirik Sahira yang duduk dengan gelisah.
Sahira menerima uluran tangan Filio karena pantatnya terasa kebas.
Seorang penjaga gerbang menunduk memberi hormat pada Filio.
Filio menarik tangan Sahira untuk mengikutinya. Sahira hanya menurut dan tidak banyak bertanya.
Saat pintu terbuka lebar wajah Sahira memerah saat melihat foto pernikahannya dan Filio terpanjang dalam ukuran besar di ruang tamu.
“Ini hadiah pernikahan kita.”
Mulut Sahira terbuka mendengar penjelasan Filio. Sahira meneliti bagian depan rumah tersebut. “Fio ini terlalu berlebihan.”
Filio menarik pinggang Sahira merapat ke tubuhnya. “Ini tidak berlebihan sayang.”
Satu kecupan hangat yang mendarat di pipi Sahira membuatnya salah tingkah. “Kenapa Filio manis sekali, harusnya aku yang membuatnya jatuh cinta. Tapi kenapa sekarang aku merasa debaran aneh ini.”
Filio menuntun tubuh Sahira untuk masuk ke dalam. Rumah dengan gaya Amerika klasik membuat Sahira merasa nyaman, tidak pernah terbayang olehnya memiliki rumah seindah ini.
Filio menuntun Sahira masuk lebih dalam lagi. Sahira mengikuti langkah Filio yang terhenti. Filio menekan tombol rahasia, tirai terbuka otomatis.
Mulut Sahira menganga melihat pemandangan yang indah dari balik kaca. Sebuah kolam renang dengan view menghadap lautan lepas.
“Kamu suka?”
Dengan penuh suka cita Sahira mengangguk, ia hampir menangis jika tidak di tahan. Mungkin karena bawaan bayi ia jadi secengeng ini.
Filio membuka pintu dan menarik tangan Sahira. Angin dari arah laut menerpa tubuh Sahira dan Filio. Mulut Sahira tidak berhenti tersenyum melihat pemandangan yang berhasil membuatnya terpana.
“Mau berenang?”
Sahira menengok ke arah Filio. “Aku tidak bawa baju ganti.”
“Tidak perlu khawatir aku sudah mengisi lemari dengan pakaian yang pas di tubuhmu.”
Mata Sahira tidak lepas dari Filio saat suaminya melepaskan kemeja dan celana yang di pakainya menyiksa pakaian dalam yang membentuk tubuh bagian berharganya.
Sahira mendekat, tangannya dengan lancang meraba otot perut milik Filio yang menggemaskan. Tangannya naik meraba dada bidang Filio.
Filio tidak bisa menahan lebih lama godaan dari Sahira. Ia menyambar bibir Sahira dengan rakus, kini wanita yang telah membuatnya terjaga semalaman harus mendapatkan hukuman. Filio mengangkat tubuh Sahira tanpa melepaskan ciu’man mereka.
Alih-alih masuk ke dalam kolam Filio malah membawa Sahira menuju kamar utama.
Filio menurunkan tubuh Sahira di atas tempat tidur. Sahira melepaskan ciu’man mereka saat kehabisan nafas.
“Kenapa membawaku ke kamar, aku kan ingin berenang,” keluh Sahira dengan bibir yang mengerucut.
“Kamu harus bertanggung jawab karena telah menggodaku.” Filio mendorong tubuh Sahira dengan pelan ke atas tempat tidur hingga terlentang.
“Fiooooo.”
“Kita bisa berenang setelah urusanku selesai.” Filio kembali melahap bibir Sahira.