
Sahira duduk di pinggiran tempat tidur, tangannya bergerak merapikan pakaian bayinya ke dalam koper. Pagi ini ia akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan operasi Caesar. Kepala bayi Sahira berada di atas, ia tidak bisa melahirkan secara normal.
Sahira menghentikan aktivitasnya saat sebuah tangan melingkar di perutnya. “Ada apa?”
“Kamu terlihat sangat santai, padahal aku sudah gemetar duluan.” Filio mengelus perut buncit istrinya.
Bibir Filio tersenyum saat merasakan tendangan dari dalam perut istrinya.
Sahira sedikit takut, namun ia lebih tidak sabar melihat bayinya lahir ke dunia. “Kamu harusnya yang menguatkan aku, kenapa malah gemetar?”
“Entah, hanya saja aku sangat khawatir dengan kalian.”
Terakhir Sahira memasukkan perlengkapan mandi bayinya. Ia menutup koper dan berbalik menghadap Filio. “Aku akan baik-baik saja Fio, selama ada kamu di sampingku.”
Filio berusaha meyakinkan dirinya, bahwa Sahira bisa melewati operasi Caesar . Bahkan Sahira mampu melewati trimester pertamanya yang terus menerus bulak balik ke rumah sakit karena sering tak sadarkan diri. Semua makanan tidak ada yang berhasil masuk ke dalam tubuh Sahira, setiap hari ia hanya meminum susu.
“Semuanya sudah siap ayo kita berangkat,” ucap Sahira dengan nada antusias.
Filio membawa koper yang selesai di rapikan Sahira. Mereka berjalan beriringan menuju mobil. Tidak ada kata yang keluar sepanjang perjalanan, Sahira terus berdoa untuk kelancaran proses operasinya.
Sampai di rumah sakit Sahira mengikuti prosedur untuk tes darah dan urine.
Seorang perawat masuk ke dalam kamar rawat Sahira. “Ibu sudah melakukan puasa yang di perintahkan dokter?”
“Sudah.”
“Bagus, kalau begitu ibu bisa berganti dengan pakaian khusus untuk operasi.” Perawat tersebut memberikan pakaian yang harus di gunakan Sahira.
“Duduk dulu ya Bu, saya akan memberikan suntikan epidural.” Perawat memberikan suntikan kepada dokter.
Sahira menggenggam kuat-kuat tangan Filio. Tubuhnya sedikit terkejut saat suntikan tersebut menancap di bagian tulang belakang Sahira.
“Suntiknya sudah, saya bantu merebahkan tubuh ibu.” Perawat tersebut membantu Sahira merebahkan tubuhnya.
Setelah semuanya siap, dokter mulai melakukan tugasnya.
Filio menggenggam tangan Sahira, ia mencoba tersenyum untuk menyemangati sang istri.
Sepanjang operasi Sahira terus berdoa, ia menatap wajah filio yang terlihat sama tegang seperti dirinya.
lima belas menit kemudian terdengar suara tangis bayi yang cukup kencang. Sahira dan Filio mulai mampu bernafas lega, anak mereka sudah lahir.
Perawat membungkus bayi tersebut menggunakan kain. Ia mengukur lingkar kepala, berat bandar dan tinggi bayi. Setelah selesai perawat memberikannya pada Filio. Filio menerimanya dengan wajah gembira. Di pandanginya bayi laki-laki yang tampak tenang dalam gendongannya.
Filio duduk di kursi agar Sahira dapat melihat bayi mereka. Bibir Sahira ikut tersenyum, ia merasa tenang melihat anaknya yang ia tunggu selama sembilan bulan kini lahir ke dunia.
“Dia tampan sepertimu,” puji Sahira.
Filio mengangguk setuju, bayi dalam pangkuannya persis sepertinya saat kecil.
Filio memohon ampunan, berharap tuhan bermurah hati memberikan kebahagiaan untuk keluarga kecilnya. Meskipun dulu ia melakukan kesalahan dengan merebut Sahira dari Rangga dengan tangan liciknya. Filio juga sudah menjelaskan semuanya dan meminta maaf pada Sahira. Tak lupa Filio meminta ampunan karena telah membunuh Rangga, meskipun akhirnya Filio tahu bahwa ternyata Rangga di sembunyikan oleh Erik dan ayahnya. Namun nasibnya naas sampai saat ini tubuh Rangga tidak di temukan, sehingga Filio beserta Sahira hanya memakamkan ibu jari Rangga yang di berikan oleh Gilbert. Filio dan Sahira sudah berusaha untuk melaporkan kehilangan Rangga, namun sampai saat ini jasad Rangga tidak di ketahui keberadaannya.
Rasa cemas dan takut kini berubah menjadi suka cita. Filio mengecup bibir Sahira. Sahira memang yang terhebat, dan tidak akan yang bisa menggantikan Sahira di hati Filio. Begitu juga di rasakan Sahira, rintangan sudah mereka lalui kini awal baru yang membahagiakan sudah ada tepat di depan mata. Rasa syukur ia panjatkan untuk sang pencipta, dan rasa kasih untuk kalian semua yang sudah menemani perjalanan yang Sahira lalui bersama Filio. Love love sejagat raya untuk kalian pembaca setiaku 💕💕💕💕💕