
Filio menangkap tas Averyl dan membuangnya. Filio menodongkan pistolnya pada Averyl. “Ibu terlalu banyak bicara!”
Tanpa rasa takut Averyl menjewer telinga Filio. Bahkan suara ringis dari mulut Filio tidak berhasil meluluhkan hati sang ibu.
“Aw, Bu sakit lepaskan.”
Kalau sudah memperlakukan Filio seperti anak kecil, artinya Averyl sudah sangat marah. Filio tidak bisa membuat ibunya semakin murka lagi, bagaimana pun Filio tetap menyayangi sang ibu.
Averyl melepaskan tangannya dari telinga Filio. Sebuah senyum tipis timbul dari bibirnya saat melihat telinga sang anak yang memerah.
“Duduk!”
Bak anjing yang mengikuti perintah majikannya Filio menuruti ucapan sang ibu. Filio tidak bisa melawan, ia tidak ingin menambah beban pikiran untuk Averyl. Meskipun sekarang ibunya terlihat baik-baik saja, namun Filio yakin ada banyak hal yang berusaha Averyl tutupi.
Sahira masih berdiri di tempatnya meskipun Eduard sudah melenggang masuk. “Ayo masuk.”
Averyl menghampiri Sahira dan menuntunnya untuk duduk di sofa. Sahira merasa canggung dengan keadaan yang sulit ia mengerti.
“Jadi hubungan kalian apa?”
Filio enggan untuk angkat bicara. Ia duduk dengan santai, dengan punggung yang menyandar.
“Kami suami istri,” cicit Sahira.
Mulut Averyl terbuka, dengan mata yang membelalak. Ia melempar bunga yang berada di dalam vas pada Filio. “Dasar anak tidak tahu diri!”
“Usir dia Pa, Ibu tidak ingin melihatnya.”
Eduard menatap Filio, memberikan isyarat untuk mengikuti keinginan sang ibu. Filio berjalan meninggalkan area ruang tamu di ikuti Eduard.
“Ayah selalu saja mencampuri urusanku,” gerutu Filio.
Setelah memastikan Filio pergi Averyl meneliti wajah dan tubuh Sahira. Tangannya terangkat meraba leher Sahira yang memar.
“Aku Averyl, ibunya Filio. Kamu bisa ceritakan semuanya dari awal kepada ibu.”
Sahira sedikit risi, dia tidak pernah sedekat ini dengan siapa pun. “Aku terpaksa menikah dengan Filio demi membebaskan mantan suamiku.”
Sahira bisa melihat wajah terkejut Averyl. “Suamiku sudah di bebaskan, tapi aku malah terjebak bersama Filio.”
Tangan Averyl merapikan puncak rambut Sahira yang berantakan karena jambakan Filio. “Apa Filio selalu bersikap kasar seperti tadi.”
Entah mengapa air mata Sahira turun begitu saja tanpa permisi. Tangannya dengan cepat menghapus air matanya.
Averyl menggenggam tangan Sahira dengan erat. “Cerita semuanya sama ibu, jangan di tutupi.”
Sahira menceritakan semuanya dari awal kekerasan yang di lakukan Filio. Hati Averyl teriris, bahkan sepanjang Sahira bercerita ia ikut menangis.
Averyl tahu betul bagaimana rasanya mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga. “Kamu tidak mencintai Filio?”
Sahira menunduk dalam-dalam, tangannya meremas satu sama lain. Dia tidak tahu harus menjawab apa, namun ia merasa harus lari dari Filio. Berada di dekat Filio dapat membahayakan kehamilannya. “Aku ingin lepas dari Filio Bu, aku tidak sanggup jika harus mendapatkan siksaan bertubi-tubi.” Sahira menghapus air matanya yang meluncur.
“Jika tidak bisa lebih baik aku mati saja Bu,” ucap Sahira dengan frustrasi. Berharap Averyl akan luluh dan membebaskannya.
“Jangan berbicara seperti itu. Kamu berhak hidup dan mendapat kebahagiaan. Lebih baik kamu istirahat dulu ibu akan berbicara dengan Filio. Ayo ibu antar ke kamar tamu.”
Averyl menuntun tubuh Sahira ke kamar tamu. “Istirahatlah, ibu tinggal dulu ya.”
Sahira mengangguk, “Terima kasih Bu.”
Pintu kamar tertutup, Sahira merebahkan tubuhnya yang terasa sakit di atas tempat tidur. Tangannya meraba perutnya yang masih datar. “Kamu tenang saja sayang, jika kita berhasil pergi. Suatu saat Ibu akan mengenalkanmu dengan ayah kandungmu,” monolog Sahira.
Kamar ini terlalu wangi. Sahira merasa sangat merindukan aroma tubuh Filio. ‘Sahira kenapa kamu malah memikirkan Filio, fokus pada kehamilanmu.’
Sahira tidak ingin terjadi sesuatu pada janinnya. Ia mencoba untuk melupakan kerinduannya pada aroma tubuh Filio.
Menurut penelitian yang Sahira baca, ibu hamil tidak boleh tidur terlalu malam. Sahira terbiasa tidur dalam pelukan Filio, tangannya menarik bantal guling dan memeluknya.
Filio berada di ruang kerja sedang di sidang oleh Averyl. Wajah Filio tampak masam, duduk di hadapan sang ibu.
Averyl duduk dengan santai, meneliti surat perjanjian milik Filio. Averyl menutup perjanjian Filio dan Sahira. “Kamu mencintai Sahira?”
“Tidak.” Jawab Filio datar.
Map yang ada di tangannya Averyl gunakan untuk memukul bahu putranya. “Ceraikan Sahira bagaimana pun dia berhak hidup bahagia. Bersamamu hanya akan menyakitinya.”
“Ibu tidak habis pikir, kamu ini sudah dewasa tapi kenapa sikapmu seperti anak kecil,” lanjut Averyl.
Filio diam, tidak menjawab satu pun omelan yang keluar dari mulut Averyl.
Air mata Averyl luruh kala mengingat memori masa lalunya saat di siksa Eduard. “Dalam keadaan apa pun seorang pria tidak berhak menyakiti fisik wanita ... Ibu sangat kecewa.”
“Kalau kamu sampai berani main tangan terhadap wanita, ibu akan menceraikan Ayah.”
Eduard yang sejak tadi diam di samping Averyl, menarik tangan istrinya. “Sayang, jangan bicara seperti itu.”
Averyl menghempaskan tangan Eduard. “Urus anakmu dengan baik.”
Eduard menatap tubuh ramping Averyl yang hilang di balik pintu.
“Ayah kenapa tidak bilang jika akan kemari?”
Kepala Eduard menengok ke arah Filio. “Jelas-jelas ibumu mengkhawatirkan kamu.”
Filio mengacak rambutnya kesal. Eduard hanya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan anaknya. “Jangan coba macam-macam, ayah tidak mau ibu menceraikan Ayah.”
Eduard meninggalkan Filio, saat tangan Eduard menekan knop pintunya tidak terbuka. “Sayang jangan kunci aku juga, buka dong pintunya,” teriak Eduard.
“Ini hukuman buat kalian berdua,” teriak Averyl dari balik pintu.
***
Sahira terbangun karena suara ketukan pada pintu kamarnya. “Sahiraa apa kamu belum bangun.”
Sahira beranjak dari tempat tidur. Tangannya membuka knop pintu. “Ada apa Bu?”
Averyl menahan senyumnya, pantas saja Filio menolak tidur sendiri. Ternyata wajah Sahira yang baru bangun cukup menggemaskan. “Ayo kita sarapan bersama.”
“Duluan saja Bu, Sahira ingin mandi dulu.” Matanya belum bisa terbuka sempurna, rasa kantuk Sahira masih menyelimuti dirinya.
“Mandilah dulu, kami akan menunggumu.” Averyl kembali ke ruang makan.
Sementara Sahira masuk dan membersihkan tubuhnya. Setelah selesai ia bergabung dengan keluarga Filio di meja makan. Mereka makan dengan tenang, tidak ada yang berbicara sedikit pun.
Semua sudah selesai sarapan, Averyl mengeluarkan berkas perjanjian Sahira dan Filio. Tangan kanannya memegang gunting. Perjanjian milik Filio di potong menjadi dua oleh Averyl. “Sekarang kamu bebas menentukan hidupmu Sahira.”
Kepala Sahira menunduk, ia tidak berani melihat wajah Filio. “Terima kasih Bu.”
Eduard melirik Filio yang duduk dengan tenang, sementara tangan Filio yang ada di atas paha tampak mengepal.