
“Bersiaplah, malaikat maut akan menjemputmu.”
Filio menyadari pergerakan Adnan yang mengincar dadanya. Filio melirik ke sana kemari mencari cara menyelamatkan diri. Terlihat kotak tisu yang tergeletak di dekat tangannya, menampakkan ujung pistol. Ia teringat pistol yang tersembunyi di sana.
Filio mengambil pistol tersebut dan menembak jantung Adnan.
Dor!
Dor!
Dor!
Filio bangkit dan mendorong tubuh Adnan yang lemah. Tiga peluru yang bersemayam di dada Adnan membuatnya tidak bisa berkutik.
Filio menghampiri tubuh Sahira yang sudah kehilangan kesadaran. Ia membawa tubuh Sahira ke depan.
Dua mobil polisi serta tiga mobil orang-orang Eduard masuk ke halaman Filio, di ikuti mobil ambulans.
Filio masuk ke dalam mobil ambulans berserta tubuh Sahira. Perawat memberikan pertolongan pertamanya pada Sahira.
Kepala Filio tertunduk menatap pisau yang menancap di perut Sahira. Tangan Filio menggenggam erat tangan Sahira yang terbebat selang infus. “Kalian harus bertahan.”
Mobil ambulans yang membawa Sahira dan Filio sampai di rumah sakit. Filio tidak melepaskan genggaman tangannya. Para perawat lainnya membantu mendorong brankar Sahira menuju ruang operasi.
Filio melepaskan genggaman tangannya di depan pintu operasi. Matanya menatap brankar Sahira yang masuk ke dalam. Pintu di depannya tertutup dengan sempurna.
Filio menghela nafas beratnya. Ia duduk di kursi tunggu. Kakinya tidak berhenti bergerak, rasa khawatir dan ketakutan membuat Filio kalang kabut. Beberapa kali ia menyisiri rambutnya dengan kasar menggunakan jari tangannya.
Suara langkah yang menggema menarik perhatian Filio. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat wajah khawatir kedua orang tuanya.
“Bagaimana dengan keadaan Sahira? ... Apa dia baik-baik saja,” Cecar Averyl.
“Sahira masih di dalam, perutnya tertusuk pisau,” jawab Filio dengan nada lirih.
Averyl memeluk tubuh putranya. Jagoannya tampak lemah, kini Averyl sudah sangat yakin akan perasaan Filio. Meskipun tempo hari putranya mengatakan tidak mencintai Sahira namun kali ini jelas menunjukkan rasa khawatir. “Sahira pasti baik-baik saja.”
Averyl tidak banyak bertanya akan kejadian yang sebenarnya. Yang ia tahu dari Eduard bahwa rumah baru Filio di datangi satu orang musuh.
Pandangan Averyl tertuju pada lengan Filio yang mengeluarkan darah dari luka sayatan. “Lukamu juga harus di tangani,” ujar Averyl. Ia menghitung robekan pada luka Filio.
Averyl akui putranya memang kuat, Filio tidak menunjukkan rasa sakit padahal memiliki enam luka sayatan cukup dalam yang memerlukan jahitan.
“Pergilah biar Ayah yang temani Sahira!”
“Kabari aku jika operasinya sudah selesai,” pinta Filio. Setelah mendapat jawaban dari tatapan mata sang Ayah. Filio berjalan mengikuti langkah ibunya.
Eduard menunggu dengan tidak sabar. Cucu serta menantunya ada di dalam. Ia menghubungi Erik. “Bagaimana keadaan di sana?”
[Aman, Adnan meninggal di tempat.]
“Kenapa kau bisa lengah Erik, bahkan kita yang meminta Adnan untuk bekerja sama membuat Filio cemburu.” Kinerja Erik saat ini kurang teliti, bahkan membiarkan Filio dan Sahira membeli rumah baru dengan penjagaan yang minim.
[Maaf Tuan, ini salah saya.]
“Jaga Rangga, jangan sampai lengah!”
[Baik Tuan.]
Eduard memutus sambungan teleponnya. Ia mendekat saat dokter keluar. “Bagaimana keadaan anak saya?”
“Operasinya berjalan dengan lancar, pisau tersebut hanya melukai bagian ususnya. Janin yang di kandungannya juga baik-baik saja.”
Eduard bisa bernafas dengan lega. “Terima kasih.”
Dokternya mengangguk dan kembali menjalankan tugasnya. Setelah keadaan Sahira stabil ia di pindahkan ke ruang rawat, bersamaan dengan Filio.
Filio kehilangan banyak darah, hingga tidak sadarkan diri dan butuh perawatan.
Averyl yang tengah menatap tubuh Sahira dan Filio menengok ke arah suaminya. “Ada apa?”
“Aku mau kasih tahu kamu sesuatu, tapi jangan marah ya.” Eduard menampilkan senyum terbaiknya.
“Memangnya kenapa aku harus marah?” Averyl memberikan tatapan penuh curiga pada Eduard.
“Harusnya sih kamu enggak marah, tapi janji dulu enggak akan marah. Janji,” Eduard mengacungkan jari kelingkingnya.
Averyl menakutkan jari kelingkingnya dengan jari Eduard. “Janji,” ucap Averyl meyakinkan suaminya.
“Sini,” ucap Eduard meminta Averyl mendekat.
Eduard mendekatkan bibirnya pada telinga Averyl. Bukannya berbicara Eduard malah tergoda untuk menjilat telinga istrinya.
Averyl menarik diri dan menatap Eduard tajam. “Geli tahu kamu bercanda saja!”
Eduard terkekeh. “Iya maaf, habisnya kamu sudah tua masih saja mudah geli,” ledek Eduard.
Averyl menjewer telinga Eduard. “Kamu berani meledekku?”
Eduard mengikuti arah tangan Averyl agar telinga tidak terlalu sakit. “Aw aw lepas sayang, malu dong sama anak-anak.”
Averyl melirik ke arah brankar Sahira dan Filio. Bibir Averyl tersenyum saat beradu pandang dengan Sahira.
Averyl melepaskan tangannya dan berjalan menghampiri Sahira. “Perlu ibu panggilkan dokter?”
Sahira mengangguk kecil. Perutnya terasa sangat sakit. “Fio mana Bu?”
Meskipun dengan suara yang amat pelan Averyl mampu mendengar pertanyaan menantunya. “Ada di sana,” Averyl menggerakkan maniknya ke arah brankar Filio yang berada di samping Sahira.
Sahira melirik dengan perlahan, wajah Filio terlihat sangat pucat.
“Kamu tenang saja sayang, Filio baik-baik saja. Dia hanya kelelahan.”
***
Pagi itu Sahira terbangun saat merasakan seseorang mengecup keningnya. Ia membuka kelopak matanya dan melihat siapa pelakunya. Bibir pucat Sahira tersenyum saat melihat wajah Filio.
“Perutmu masih sakit?”
“Lumayan.”
Filio mengecup bibir pucat Sahira. “Maafkan aku yang tidak becus menjagamu.”
Bibir Sahira mengerucut. “Sepertinya aku mengurungkan niatku untuk tinggal bersamamu.”
Filio meraih tangan Sahira dan menggenggamnya. “Kenapa, aku berjanji akan menjagamu. Aku juga akan mengerahkan seratus bodyguard yang akan mengikutimu kemana pun kamu pergi.”
Sahira menarik tangannya dari genggaman Filio. “Maa-“
“Mau kan?” Sela Filio sebelum Sahira menuntaskan ucapannya.
“Bukan!” ketus Sahira marah.
“Lalu apa, cepat katakan.”
Sahira tidak habis pikir kenapa suaminya ini menjadi orang yang sangat tidak sabar.
“Maaf aku tidak tertarik, untuk tinggal bersama lagi.” Sahira sengaja mengerjai Filio.
“Kamu mau aku bunuh dengan cara apa? Tusukan dari belakang, atau tusukan dari depan supaya kamu bisa menjerit nikmat. Atau kau ingin aku tusuk dari bawah supaya aku bisa melihat dengan jelas gundukan indahmu. Mau yang mana?” tanya Filio dengan nada serius.
Sahira mencubit dengan kencang pinggang suaminya yang asal bicara. “Awas ya kamu, aku kasih jatah libur satu bulan. Baru tahu rasa!”