The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Pelestarian Hutan



Sarapan pagi kali ini Sahira membuat omelette berisi daging, sayuran dan keju. Tiga piring omelette sudah siap di hidangkan, Sahira membawanya ke meja makan.


Sahira kembali ke kamar, ternyata Filio dan Zeina belum bangun. “Zeina sayang, ayo bangun,” Sahira menepuk pipi Zeina dengan sangat pelan.


Zeina menggeliat, ia membuka kelopak matanya. “Kita bersiap, lalu sarapan. Ibu sudah buatkan omelette.”


Zeina bangkit, ia berlari dengan tidak sabar keluar dari kamar.


Sahira menatap Filio yang masih tertidur. Sahira teringat tujuannya untuk membuat Filio jatuh cinta. Sahira mengecup Pipi Filio. “Bangun sayang,” bisik Sahira lembut di telinga Filio.


Filio melingkarkan tangannya ke punggung Sahira, hingga tubuh mereka menempel sempurna. Filio menyambar bibir tipis Sahira, menikmati sensasi manis dan kenyal.


Filio mengakhiri sesi ciu*man mereka, lalu menatap Sahira. “Jaga Zeina untukku, aku sangat mengkhawatirkannya.”


“Aku akan menjaganya,” janji Sahira.


Sepanjang menikmati sarapan tidak henti-hentinya Zeina berceloteh dengan riang tentang aktivitas yang ingin ia lakukan di hutan.


Seperti biasa Filio mengantar Zeina dan Sahira ke sekolah. Bahkan Filio membantu membawa tas besar Zeina dan Sahira ke pelataran sekolah.


Filio mengecup kening Zeina sebelum pergi ke kantor. “Papi harus bekerja, jaga diri baik-baik ya. Jangan jauh-jauh dari Ibu,” pesan Filio.


“Baik Papi,” jawab Zeina dengan senyum mengembangnya.


Filio mengecup pipi Sahira di depan umum. “Jaga Zeina baik-baik, jangan sampai terjadi sesuatu padanya.”


Pipi Sahira memanas menahan malu, ia tidak menyangka Filio akan menciumnya di tempat umum. “Iya, aku akan memastikan Zeina baik-baik saja. Dan pulang dengan selamat.”


Kaum guru-guru yang belum menikah merasa iri terhadap Sahira yang mendapatkan pasangan romantis, serta beberapa guru lainnya yang cukup dekat dengan Sahira mencibir. Karena desas-desus yang mereka dengan Sahira rela berpisah dengan suami lamanya demi mendapatkan Filio ayah dari Zeina yang berstatus duda tampan.


Semua peserta sudah berkumpul di lapangan, mereka berbaris rapi. Memanjatkan doa sebelum berangkat.


Usai berdoa anak-anak di pimpin oleh wali kelas masing-masing menuju bus. Sementara guru pria mengangkat satu persatu barang keperluan untuk acara.


Zeina dan Sahira mendapat bus nomor satu. Zeina duduk di depan di samping Sahira.


Selama di perjalanan untuk melepaskan suntuk mereka bernyanyi bersama.


Perjalanan mereka di sambut dengan hujan gerimis. Aspal jalanan tampak basah.


Bus sampai di pemberhentian terakhir, Sahira memberi arahan kepada anak didiknya untuk turun dengan tenang tanpa saling mendorong.


Anak-anak berbaris di lapangan, mereka hanya membawa tas kecil berisi makanan ringan dan air minum.


Sahira berjalan paling depan di ikuti anak didiknya. Jalan yang mereka lewati licin, karena hujan. “Jalannya pelan-pelan saja ya.”


“Iya Bu,” jawab anak-anak dengan kompak.


Meskipun jalan lumayan licin dan udara sangat dingin tapi tidak mengalahkan semangat anak-anak. Mereka tampak takjub menikmati pemandangan yang baru mereka lihat.


Sampai di pos pertama, anak-anak di minta berkelompok untuk menanam pohon. Sahira memperhatikan anak didiknya, ia lebih sering menengok ke arah Zeina untuk memastikan putrinya baik-baik saja.


Selesai acara menanam pohon, anak-anak beristirahat sejenak. Dari tempat mereka berkumpul terdengar aliran sungai.


“Ibu aku mau melihat sungai,” teriak salah satu anak didik Sahira.


“Setelah semuanya berkumpul, kita akan menyeberangi sungai. Jadi lihatnya nanti saja ya,” Sahira memberi pengertian. Ia tidak bisa begitu saja mengikuti keinginan anak-anak bagaimana pun ini hutan dan tempat baru bagi anak-anak ia harus memastikan semuanya aman dan sesuai jadwal yang di tentukan.


Zeina menerimanya, “Terima kasih Bu.”


Sajira menjawab ucapan Zeina dengan senyuman, putri kecilnya tampak kelelahan. “Jika Zeina tidak kuat berjalan atau pusing, langsung bilang pada ibu ya.”


“Iya Bu,” jawab Zeina. Ia memberikan kembali botol minumnya pada Sahira.


Acara menanam pohon sudah selesai kini mereka berjalan melewati jembatan. Sahira berjalan paling depan, di ikuti murid lainnya.


Untuk pertama kalinya Zeina melihat sungai dengan warna keruh, dan aliran sungai yang cukup deras.


Zeina menghentikan langkahnya karena tali sepatunya lepas. Ia berjongkok untuk membetulkan tali sepatu.


Dua anak pria di belakang Zeina tampak berselisih hingga tanpa sadar menabrak tubuh Zeina.


Tubuh Zeina terdorong hingga melewati celah bagian bawah pembatas jembatan dan jatuh ke sungai dengan ketinggian dua meter.


Saat tubuhnya jatuh, Zeina panik karena terbawa arus. “Ibu, tolong,” teriak Zeina.


Tangan Zeina ke atas mencari sesuatu yang bisa ia gapai. Dadanya sesak menerima air yang masuk ke dalam mulutnya. Tubuhnya terseret arus sungai yang deras.


Melihat putrinya jatuh ke sungai, Sahira melepaskan sepatunya hendak ikut terjun ke sungai. Namun guru lainnya menahan Sahira.


“Jangan gegabah, ini berbahaya Sahira.”


Air mata Sahira meluncur saat melihat ke arah sungai tubuh Zeina sudah tidak terlihat lagi. “Zeina, Bu. Aku harus menyelamatkannya.”


Sahira berontak melepaskan cekalan teman gurunya. Namun ia kesusahan karena semakin banyak yang menahannya.


Kegiatannya pelestarian hutan akhirnya di hentikan, anak-anak di minta kembali ke pos pertama. Sahira tidak berhenti menangis, seorang guru yang dekat dengan Sahira mencoba menenangkan temannya. “Kita pasti menemukan Zeina, kamu tenang ya Sahira. Tim SAR sudah mulai melakukan pencarian.”


Sahira tidak bisa tenang, ia merasa bersalah karena tidak bisa menolong Zeina. Teriakan terakhir yang Sahira dengar terus terngiang-ngiang di kepalanya, ia sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Bagaimana pun juga Sahira sangat menyayangi Zeina.


“Aku ingin ikut membantu mencari Zeina,” mohon Sahira.


“Kita tunggu di sini saja, biar tim SAR yang mencari.”


Kedua tangan Sahira saling meremas satu sama lain, tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Hujan kembali turun dengan begitu derasnya, Sahira memeluk lututnya sendiri dengan sangat erat.


Sahira tidak bisa membayangkan keadaan Zeina. Hati Sahira sangat hancur, ia terus berdoa berharap Zeina segera di temukan.


Langit mulai gelap, Sahira masih duduk di dalam tenda darurat yang berdiri kokoh tidak jauh dari jembatan tempat Zeina terjatuh.


Tina sebagai teman guru Sahira memandang sedih melihat keadaan Sahira yang tampak kacau. Dengan muka yang sembab karena tidak berhenti menangis.


“Sahira kamu harus makan dulu,” ujar Tina. Seharian ini Sahira tidak mau makan, bahkan sup panas yang ia bawa tadi siang kini tampak dingin.


“Simpan saja, aku masih belum lapar,” tolak Sahira.


Tina menyimpan bubur yang ia bawa di samping Sahira. “Makanlah dulu, jangan sampai kamu sakit.”


“Aku tidak apa-apa Tina, yang harusnya kita khawatirkan itu keadaan Zeina. Dia di luar sana kedinginan seharian.”


Tina membawa tubuh Sahira ke dalam pelukannya. Tangis Sahira terdengar sangat menyayat hati. Tina tidak tega melihat temannya sehancur ini. “Kita pasti menemukan Zeina,” ucap Tina meyakinkan Sahira. Tanpa terasa Tina ikut menangis dalam diam, sambil memeluk tubuh Sahira