
Sahira berusaha menghilangkan rasa takut dalam dirinya, ia berusaha memberontak untuk mencari celah agar bisa melarikan diri. “Pria baj*ingan mati saja kau!” bibir Sahira bergetar menahan amarah.
Bukannya menyesal atau takut Filio menarik rambut Sahira agar Sahira berdiri. Saat Sahira berdiri dengan sempurna kedua tangan Filio mendorong tubuh Sahira hingga membentur kaca yang ada di meja rias.
Prang!
“Aaah,” ringis Sahira. Ia merasa ada benda tajam yang menusuk punggungnya.
Filio memandang tubuh Sahira yang luruh ke lantai, tatapan bengisnya membuat Sahira ketakutan setengah mati. Filio merasa belum puas menghukum mulut lancang Sahira. Ia melepaskan ikat pinggangnya.
“Cepat berhitung dari satu sampai lima puluh!”
Bibir Sahira yang bergetar mencoba mengikuti perintah Filio. Sepertinya ia tidak bisa melawan Filio, pria itu malah semakin menjadi jika Sahira memberontak.
“Satu,” ucap Sahira. Dalam hitungan detik ikat pinggang Filio melesat melukai tubuh Sahira.
Sahira memejamkan matanya menahan sakit yang ia rasakan saat ikat pinggang Filio melukai tubuhnya.
“Lanjutkan cepat!”
“Du-dua.” Sahira menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dari cambukkan Filio.
Sahira merangkak memegang kaki Filio. “Tuan maafkan kesalahanku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
Filio menendang tubuh ringkih Sahira. “Cepat berhitung, lambat sekali!”
“Tiga.” Air mata Sahira luruh begitu saja saat merasa sakit karena cambukkan Filio. Dapat Sahira pastikan Suami barunya itu tidak memiliki hati, pria itu bukan manusia melainkan iblis.
Setiap Sahira menghitung, ikat pinggang Filio terus melesat ke arah Sahira dengan kekuatan yang sama di setiap gerakannya.
Rintihan dan tangis Sahira, tidak berhasil meluluhkan hati Filio. Pria itu tampak santai mencambuk Sahira.
Sahira ingin kehilangan kesadaran agar ia tidak merasa sakit lagi. Tetapi sepertinya tuhan ingin menghukum Sahira. Sahira terus meringis di ikuti air matanya yang mengalir deras.
“E-empat ... Pu-luluh sembilan,” ucap Sahira dengan susah payah mengeluarkan suara di tengah rasa sakit yang mendera.
“Aaaa,” Sahira memekik saat cambukkan Filio mengenai luka di punggungnya.
“Lima pu-“ belum sempat Sahira menyelesaikan ucapannya Filio lebih dulu mencambuknya karena kehilangan kesabaran.
Filio melempar ikat pinggangnya ke sembarang arah.
Tubuh Sahira terbaring lemah di lantai, ia menatap punggung Filio yang menghilang di balik pintu.
Tangan Sahira mengepal, ia berusaha bangkit. Namun tubuhnya tidak bisa di ajak kerja sama. Seluruh tubuh bagian belakang Sahira terasa ngilu. Lima puluh cambukkan Filio meninggalkan rasa sakit yang luar biasa.
***
Filio melirik jam digital yang ada di mejanya. Ia mengambil jas kerjanya dan memakainya kembali.
Filio menghubungi Erik. “Urus rapat sore ini, saya ada urusan.”
“Baik Tuan,” jawab Erik. Ia menutup teleponnya, dan melanjutkan kembali perkerjaannya.
Filio pulang ke rumah, pembantunya menyambut kedatangan Filio. “Mau saya siapkan makan siang Tuan?”
“Tidak perlu, suruh Vira ke kamar saya membawa P3K.”
“Baik Tuan.”
Filio berjalan menuju kamarnya, ia mengeluarkan kunci kamarnya dari saku. Tangan Filio memutar kuncinya sebanyak dua kali, lalu membuka pintu.
Hal pertama yang ia lihat adalah tubuh Sahira yang masih tergeletak di lantai dengan posisi yang sama. “Lemah sekali,” ejek Filio.
Filio berjalan melangkahi tubuh Sahira dan masuk ke dalam kamar mandi. Mengisi bathtub dengan air hangat tanpa sabun lalu kembali ke luar.
Filio merengkuh tubuh Sahira, wanita di dalam pangkuannya beberapa kali meringis. Filio menurunkan tubuh Sahira di closet yang tertutup.
Tangan besar Filio merobek baju Sahira. Aktivitasnya terhenti karena tangan Sahira yang menahannya. “Menurutlah!”
Sahira menahan sakit sekaligus menahan rasa malu saat Filio membuka seluruh pakaiannya.
Sahira memilih menunduk, ia tidak berani menatap manik Filio.
Filio membawa tubuh Sahira ke dalam bathtub. Filio berjalan meninggalkan Sahira saat mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.
“Masuk, dan bersihkan kekacauan di dalam!” Filio berjalan menuju kamar meninggalkan Vira yang masih mematung di ambang pintu.
Untuk pertama kalinya Vira melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar Filio. Ia terkejut melihat serpihan kaca yang berserakan di lantai.
Vira menutup mulutnya saat melihat bercak darah di lantai. Tidak ingin mendapat Omelan dari Filio, Vira segera membersihkan kekacauan yang di buat majikannya.
Sahira memejamkan matanya, luka-luka di punggungnya semakin terasa perih saat masuk ke dalam air hangat.
Filio membuka kotak P3K, memakai sarung tangan dan meneliti setiap luka yang mengeluarkan darah. Ia mengambil serpihan kaca yang menempel di punggung Sahira dengan sangat hati-hati.
“Aaaw,” rintih Sahira.
Filio mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Sahira. Filio melilitkan handuk pada tubuh polos Sahira, lalu membawa istrinya kembali duduk di atas toilet.
“Menunduk.” Tangan Filio mengarahkan seluruh rambut Sahira ke bagian depan hingga menutupi wajah pucatnya.
Sahira diam saja mengikuti arahan Filio.
Filio mengambil sampo, tangannya memijat kepala Sahira hingga berbusa. Lalu membilasnya. Filio mengambil handuk lain untuk menutupi rambut basah Sahira.
Saat tubuh Sahira terangkat, ia menyandarkan kepalanya pada dada Filio. Sahira bisa mendengar degup jantung Filio yang teratur.
Filio menurunkan tubuh Sahira di atas tempat tidur, ia pergi ke walk in closet untuk mengambil pakaian Sahira.
Filio kembali dan duduk di samping Sahira, dengan pakaian dan kotak P3K. Dengan teliti dan perlahan Filio menutup luka sayatan Sahira menggunakan plester.
Sahira terdiam menikmati sensasi rasa sakit yang di punggungnya saat Filio mengoleskan salep pada bekas luka cambuknya.
Terakhir Filio memasang plester di kening Sahira. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Filio membantu Sahira memakai pakaian.
Sahira berusaha membaringkan tubuhnya. Dengan sigap Filio membantu Sahira berbaring dengan posisi menyamping agar punggung Sahira tidak terlalu sakit karena harus menahan beban.
Sahira memperhatikan Filio yang menarik selimut hingga menutupi perut. “Terima kasih,” ucap Sahira lirih.
Filio hanya menatap Sahira dengan datar dan berlalu pergi. Ada rasa penyesalan dalam benak Filio setiap mendengar rintihan Sahira saat ia mengobati luka-luka Sahira.
Filio pergi ke dapur, meminta asisten rumah tangganya menyiapkan makanan untuk Sahira.
Sahira menatap foto pernikahan Filio dan Razita. Kini ia tahu penderitaan apa yang di rasakan Razita hingga memilih mengakhiri hidupnya.
Mungkin penderitaan yang di rasakan Sahira belum seberapa, apalagi saat melihat wajah datar Filio yang sama sekali tidak menampilkan rasa bersalah sedikit pun.
Jika dirinya tidak terikat perjanjian dengan Filio, Sahira akan memilih melarikan diri. Tapi apa yang bisa ia lakukan sekarang, “Apa aku akan sanggup menerima penderitaan yang di berikan Filio?” batin Sahira.
Entah mengapa Sahira merasa sangat merindukan sosok Rangga yang hangat dan penyayang. Tanpa terasa air mata Sahira meluncur saat mengingat kenangan indah bersama Rangga. Selama pernikahan mereka Rangga tidak pernah membentak Sahira sedikit pun, meski Sahira salah. Bahkan jika terjadi perselisihan Rangga selalu mengalah, dan mencari jalan keluar tanpa perdebatan.
Sahira menghapus sisa air matanya saat mendengar pintu kamar terbuka.
Sahira menatap nampan yang di simpan Filio di atas nakas. Saat tubuhnya di bantu Filio untuk duduk Sahira hanya diam membisu.
Filio mengambil piring dari atas nampan. “Kamu memiliki alergi?”
Sahira menatap menu di atas piring berisi ikan salmon, dua telur rebus dan sayuran hijau. Kepala Sahira menggeleng.
Arah mata Filio menuju mangkuk di atas nampan. “Sup kepiting?”
“Aku tidak memiliki alergi.” Tangan Sahira mengambil air minum di atas nampan lalu menghabiskannya. Tenggorokannya yang kering kini terasa lega.
Sahira menatap sendok yang berada di depan bibirnya. “Aku bisa makan sendiri,” tolak Sahira.
“Jangan memancing kemarahanku, buka mulutmu!”
Sahira memilih menyerah dan menerima setiap suapan yang di berikan Filio.
“Apa kamu menyesal menikah denganku?”
***
Halo
Kalau kalian ada di posisi Sahira menyesal gak menikah dengan Filio, aku tunggu jawabannya di kolom komentar ya
Sampai jumpa di bab selanjutnya 💕💕💕