
Filio berjalan dengan pelan menghampiri tubuh Sahira yang berada di ambang pintu, ia mengecup pipi istrinya. “Kamu mau ke mana sayang?”
Filio lupa kalau mulut Sahira masih tertutup lakban, ia membukanya dalam satu kali tarikan.
Mulut Sahira terasa perih dan panas karena ulah Filio. “Aku lapar,” ucap Sahira dengan nada lirih.
“Seharusnya kamu bilang padaku, sayang.” Tangan kiri Filio menahan punggung Sahira, sementara tangan kanannya ia selipkan di belakang lutut Sahira. Filio mengangkat tubuh lemah Sahira menuju meja makan.
Filio menurunkan tubuh Sahira di kursi. Sementara Filio berjalan ke meja dapur, mengambil daging dalam lemari pendingin.
Filio mulai memassk. Aroma daging yang terbakar menggelitik perut Sahira. Ia kelaparan tapi rasa takutnya masih terlihat jelas. Bagaimana pun ia tidak bisa menepati janjinya untuk melindungi Zeina.
Filio menyajikan daging yang di bakar dan tumis sayuran.
Sahira menyerahkan tangannya pada Filio berharap pria itu membukanya.
“Ah aku lupa, tangan istriku masih terikat.” Filio mengambil pisau dan mulai mengiris daging dan menusuknya dengan sendok.
Sahira menerima suapan Filio lalu Mengunyahnya dengan perlahan. Sahira hanya mengikuti permainan Filio. Berharap suaminya itu tidak berbuat kasar.
Filio menyuapi Sahira sampai di piringnya tak tersisa. “Apa kamu sudah kenyang?”
Sahira mengangguk, “Terima kasih.”
Filio berdiri di hadapan Sahira, tangan kanannya memegang piring yang kosong. Filio memukul kepala Sahira dengan piring yang ada di tangannya.
Prang!
Pecahan piring tersebut jatuh ke lantai, tepat di bawah kaki Sahira.
Kepala Sahira berdenyut, pandangannya sedikit mengabur. Namun ia masih bisa melihat saat Filio memungut pecahan piring tersebut dan menodongkan bagian runcingnya di leher Sahira.
“Aku ingin mendengar alasanmu?”
Sahira menatap manik hitam Filio. “Maafkan aku, aku tidak bisa menepati ucapanku.”
Filio menggertak Sahira dengan menekan leher Sahira, hingga tergores dan mengeluarkan darah.
Air mata Sahira terjatuh, saat ini ia sangat ketakutan. “Zeina terjatuh ke sungai, dan aku tidak bisa menolongnya,” ucap Sahira diikuti air matanya yang mengalir deras.
Filio meremas pecahan piring yang sedang ia genggam, hingga tangannya mengeluarkan darah segar. Filio melemparkan pecahan piring yang ada di tangannya ke sembarang arah.
Filio menarik rambut Sahira, tubuh Sahira yang tidak siap jatuh dari kursi. Badannya membentur lantai.
Sahira meraih pecahan piring yang berada di lantai dan menyembunyikannya di dalam genggaman tangannya. Kepala Sahira terus berdenyut karena Filio menarik rambutnya.
Filio menyeret Sahira sampai di kolam berenang. Ia melepaskan tangannya dari rambut Sahira, lalu berjongkok di depan istrinya.
“Kau harus merasakan bagaimana rasanya Zeina yang tenggelam di dalam air.” Filio tersenyum miring.
Sahira melirik kolam yang ada di sampingnya, jika ia masuk ke dalam sana tidak ada yang bisa Sahira lakukan karena tangan dan kakinya terikat. Sahira menggelengkan kepalanya, ia mengumpulkan seluruh tenaganya pada tangannya. Dengan gerakan cepat Sahira menancapkan pecahan piring yang ia pegang pada dada Filio.
Filio menunduk untuk melihat bagian dadanya. Filio menarik pecahan piring dari dadanya dan membuangnya ke sembarang arah.
Mata Sahira membulat, ia tidak melihat rasa sakit sedikit pun dari wajah Filio.
Filio berdecap dan menendang tubuh Sahira hingga terjatuh ke dalam kolam. Filio menarik rambut Sahira hingga kepalanya muncul ke permukaan. “Rupanya kamu menantangku?”
Seringai iblis yang keluar dari bibir Filio membuat Sahira menelan salivanya. “Aku-“
Sebelum Sahira banyak bicara Filio menenggelamkan kembali kepala Sahira ke dalam air.
Sahira menahan nafasnya di dalam air, tangannya terikat berusaha menggenggam pinggiran kolam agar ia bisa keluar.
Wajah Sahira yang berada di dalam air meringis kesakitan saat tangannya terasa di injak.
Sahira meraup udara sebanyak-banyaknya, dadanya terasa sangat sesak.
“Maafkan aku Filio, aku mohon. Aku sangat menyesal,” ucap Sahira.
Wajah memohon Sahira membuat Filio semakin kesal. Ia menenggelamkan kepala Sahira kembali. Bayangan Zeina yang kehabisan nafas dan terseret arus membuat Filio murka. Rasanya ia ingin membunuh Sahira dengan tangannya sendiri.
Filio sudah bersusah payah merawat putri kesayangannya, menjaganya dari bahaya. Tapi wanita bodoh di hadapannya ini tidak becus menjaga Zeina, hingga putri kesayangannya meninggal dunia.
Sahira sudah tidak kuat menahan nafas, ia merasa seperti berada di ambang kematian. Sahira berdoa kepada tuhan jika memang ia harus mati di tangan Filio maka jangan pernah berikan kebahagiaan sedikit pun untuk Filio.
Filio melepaskan tangannya dari rambut Sahira, tubuh Sahira mulai tenggelam ke dasar air.
“Dia harus tetap hidup, dan memberikanku keturunan sebagai pengganti Zeina!”
Erik yang berada di belakang tubuh Filio melompat ke dalam air untuk menyelamatkan Sahira.
Filio memilih kembali ke kamar, untuk istirahat.
Erik merebahkan tubuh Sahira ke pinggiran kolam. Setelah mendapatkan pertolongan pertama Sahira di bawa ke kamar tamu oleh Erik.
Erik merebahkan tubuh Sahira ke tempat tidur, ia membuka salah satu laci di pinggir tempat tidur. Beruntung di sana ada gunting, ia membuka ikatan pada tangan dan kaki Sahira.
Sahira yang sudah tersadar hanya terdiam menatap kosong ke arah langit-langit.
“Apa saya perlu memanggilkan dokter?”
Sahira menggeleng lemah, pandangannya masih lurus menatap langit-langit.
“Kalau begitu saya akan panggilkan Vira untuk membantu Anda berganti pakaian.” Erik keluar dari kamar tamu.
Sahira bangkit dari tempat tidurnya. Sahira berlari keluar dari rumah Filio. Beruntung malam itu petugas pos sedang tertidur. Sahira keluar dengan mengendap-endap. Ada sebuah taksi yang kebetulan lewat, Sahira memberhentikan taksi tersebut.
Sopir taksi beberapa kali melirik ke belakang, karena penumpangnya belum juga mengatakan tujuannya. Pakaian yang basah sedikit membuatnya risi, bagaimana pun juga ia masih ingin menarik penumpang kalau kursinya basah belum tentu ada orang yang mau naik ke taksinya.
“Jl. Panorama blok C nomor lima puluh sembilan.”
“Bukannya bangunan di sana sudah hancur karena bom bunuh diri, apa nona salah alamat?”
“Tidak, antar saya ke sana. Jika ada minimarket tolong mampir sebentar.”
Sopir taksi memarkirkan mobilnya di pelataran mini market. Sahira keluar dari taksi dan masuk ke dalam. Banyak pasang mata yang memandangnya heran, bagaimana tidak penampilan Sahira yang memakai baju basah dan rambut basah. Sementara hari ini tidak ada hujan turun.
Sahira menghampiri rak pembasmi serangga. Ia mengambil beberapa botol dan memasukkannya ke dalam keranjang. Ia mengambil dua minuman jeruk dari showcase lalu ke kasir untuk membayarnya.
Total belanjaan Sahira tidak mencapai seratus ribu. Ia merogoh sakunya. Ada tiga lembar pecahan seratus ribu yang basah, ia memberikan satu lembar pada kasir.
Sahira keluar dan kembali ke mobil. Ia memberikan satu botol minuman kepada sopir, satu botol lagi ia tenggak hingga tandas.
Jarak tempuh menuju alamat yang di sebutkan Sahira hanya memakan waktu dua puluh menit. Kini taksi yang di tumpangi Sahira sudah sampai. Sahira menyerahkan semua uangnya pada sopir taksi.
Sopir taksi sedikit menggerutu karena uang yang di berikan Sahira basah. “Dasar wanita gila,” batin sopir.
Kaki Sahira menapaki reruntuhan bangunan yang penuh dengan abu. Ia berjalan menuju tempat saat terakhir kali bertemu Rangga.
Sahira memejamkan matanya, hatinya hampa. Seluruh tubuhnya terasa sakit, ia merasa sudah lelah. Siksaan yang di berikan Filio terlalu menyakitkan, Sahira merasa tidak bisa menahannya lagi.
Sahira mengeluarkan pembasmi serangga yang ia bawa. Tangan lemas Sahira membuka penutupnya. “Rangga aku ingin bersamamu lagi,” batin Sahira. Air matanya jatuh, Sahira merindukan sosok Rangga.
Sahira mengangkat tangannya yang memegang cairan pembasmi serangga.
Sebuah tangan merampas cairan tersebut dan melemparkannya. “Kamu tidak boleh mati, tanpa ijin dariku!”