The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Gagal Bertemu



Sahira duduk di kursi roda yang di pakai Filio. Ia memutar roda dengan perlahan untuk keluar dari kamar. Baru sampai di ruang keluarga saja tangan Sahira terasa sangat pegal.


“Pantas saja Filio malas memakainya, melelahkan sekali,” keluh Sahira. Ia menghapus peluh di dahinya.


Sahira terkejut saat tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. “Kenapa kamu selalu saja mengagetkan aku?” ucap Sahira dengan nada marah. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang.


Bukannya menjawab Filio malah mendorong kursi roda Sahira dengan kencang.


“Filio hentikan aku takut.” Tangan Sahira memegang pinggiran kursi dengan erat-erat takut terjatuh.


Sahira ketakutan karena Filio tidak membelokkan kursi rodanya, sementara di depan ada meja persegi yang terbuat dari kaca. “Filio jangan!”


Filio membelokkan kursi roda dengan spontan agar tidak menabrak. Ia kembali mendorong kursi roda Sahira menuju tiang rumah. “Filioooooo belok!”


Filio mendorong kursi roda Sahira berbelok ke sana kemari. Bibirnya mengembang mendengar ocehan Sahira yang ketakutan.


Kursi roda yang di dorong Filio berjalan lurus ke arah kolam berenang. “Filio hentikan!” Teriak Sahira.


Filio mendorong kursi roda Sahira dengan cepat, lalu melepaskannya hingga masuk ke dalam kolam. Ia tertawa terbahak-bahak melihat keadaan Sahira yang basah kuyup di dalam kolam.


Sahira mencipratkan air ke arah Filio. “Filiooooo kau menyebalkan sekali!”


Tidak ingin basah kuyup sendirian Sahira menarik kaki Filio yang ia tembak.


Kaki Filio yang terluka tidak bisa menahan tubuhnya saat di tarik Sahira.


Sahira berhasil menarik kaki Filio, hingga tubuh Filio basah kuyup di hadapannya. Sahira tertawa, tangannya memegang perutnya yang terasa sakit. “Lihatlah dirimu, tidak tampan lagi, hahaha.”


Wajah sangar Filio berubah menjadi pria lugu jika jambulnya runtuh ke depan dengan sempurna karena tersapu air.


Filio menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jarinya. Ia mendorong tubuh Sahira ke dinding pinggiran kolam.


Sahira menutup mulutnya, meskipun masih terdengar sedikit suara tawanya. Tatapan tajam Filio pun tidak berhasil membuat Sahira takut. Bayangan wajah lugu Filio membuatnya tidak berhenti tertawa.


“Sepertinya kau tidak takut padaku?”


Sahira mencoba mengubah raut wajahnya yang menahan tawa menjadi datar. “Tidak.”


Sahira menghambur ke pelukan Filio, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Di dalam benaknya Sahira bersorak saat mendengar detak jantung Filio yang kencang, Sahira yakin rencananya untuk membuat Filio jatuh cinta padanya akan berhasil.


***


Langit berwarna jingga menyambut Sahira yang baru keluar dari ruang guru. Tidak terasa ia sudah empat jam di dalam memeriksa tugas muridnya.


Sahira berjalan di koridor sekolah yang cukup sepi. Langkah sepatunya terdengar menggema saat bersentuhan dengan lantai.


Getaran ponsel yang ada di saku celana menghentikan langkah Sahira. Dahi Sahira berkerut saat melihat panggilan masuk dari nomor baru yang tidak di kenal.


Karena penasaran Sahira mengangkat telepon tersebut. “Halo, maaf ini dengan siapa?”


“Sahira, ini aku Rangga.”


Sahira hafal betul dengan suara mantan suaminya. “Rangga-“ Saking gembiranya Sahira tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia tidak menyangka jika Rangga masih hidup.


“Aku sangat ingin bertemu denganmu,” pinta Sahira.


“Temui aku di hotel W, lantai sepuluh nomor tiga ratus sembilan.”


“Aku akan segera ke sana.” Sahira berjalan dengan langkah tergesa. Sampai di depan gerbang sekolah Sahira menghentikan taksi.


Layar ponselnya menyala, Sahira mengernyitkan dahi saat nama Filio muncul di layar. Sahira menimbang-nimbang untuk menjawab atau tidak.


Sahira menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengambil langkah untuk menekan tombol hijau. “Halo Filio, ada apa?”


“Kata Vira kamu belum pulang, mau aku jemput?”


“Tidak perlu aku bisa naik taksi, kebetulan aku ada urusan mendadak.” Sahira menggigit kecil bibir bawahnya menunggu jawaban Filio.


“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa di rumah.”


Sahira bisa bernafas lega setelah teleponnya terputus. Jarak hotel untuk bertemu Rangga tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu lima belas menit kini Sahira sudah sampai di lobi.


Sahira berjalan menuju lift, untuk sampai di lantai sepuluh. Pintu lift terbuka di lantai sepuluh, beberapa orang berjalan keluar di ikuti Sahira. Ia mencari kamar bernomor tiga ratus sembilan.


Sahira memandang pintu dengan nomor tiga ratus sembilan. Ada perasaan aneh saat melihat pintu tersebut terbuka sebagian.


Sahira mengetuk pintu, menunggu seseorang keluar dari dalam. Sahira mencoba menghubungi nomor Rangga, namun nomor tersebut tidak kunjung di angkat.


Rasa cemas membuat Sahira nekat masuk ke dalam. Ia berjalan dengan perlahan. “Rangga,” panggil Sahira.


Sahira terkejut saat mendengar pintu yang terbanting. Sahira membalikkan tubuhnya, dan terkejut melihat wajah dingin Filio di ambang pintu.


“Ada apa kenapa ribut sekali?”


Sahira menengok ke belakang. Mulutnya terbuka saat melihat guru olahraga di sekolah keluar dari dalam dengan tumbuh penuh keringat.


Sahira memalingkan wajahnya saat melihat guru tersebut hanya memakai lilitan handuk di pinggangnya.


“Kamu sedang apa di sini?”


Sahira sedikit gelagapan saat mendapat pertanyaan dari Filio. Ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya. Sahira takut nyawa Rangga terancam lagi, jika Filio tahu.


“Ibu Sahira mau mengambil berkas yang tertukar ya, sebentar saya ambilkan.”


Sahira sedikit bingung dengan ucapan guru olah raga tersebut. Pasalnya mereka tidak saling mengenal, yang ia ingat pria itu sering Sahira lihat beberapa kali di lapangan sedang mengajar anak-anak.


Filio menarik tubuh Sahira hingga tubuh mereka menempel.


Guru olahraga kembali dengan map di tangannya. “Ini ibu Sahira.”


Sahira menerimanya dengan suka cita. “Terima kasih, kalau begitu saya pamit.”


Sahira dan Filio berjalan menuju lift dengan perasaan risi karena tangan Filio melingkar di pinggangnya.


“Kamu tidak menjual tubuhmu kan?”


Langkah Sahira terhenti. “Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu.”


“Kenapa harus bertemu di hotel, aku rasa ada tempat lain.” Filio menatap Sahira dengan pandangan kesal, rasanya Filio ingin melahap pria tadi yang sengaja memamerkan keindahan tubuhnya.


“Kalau kamu tidak percaya ya sudah.” Sahira berjalan dengan langkah tergesa meninggalkan Filio. Ia tidak ingin sampai keceplosan, apalagi sampai memancing kemarahan Filio yang akan membuat nasibnya lebih buruk.


Tangan Sahira di tarik, membuat langkah tergesanya berhenti. “Iya aku percaya, jangan marah ya.”


Manik Sahira membulat dengan bibir yang menganga. Bagaimana bisa seorang Filio pria yang sangat Sahira kenal kejam, begitu mudahnya percaya. “Sepertinya dia memang benar-benar gila,” batin Sahira.


Demi melancarkan tujuan untuk mengambil hati Filio, Sahira bergelendot manja di bahu Filio. “Aku lapar,” ucap Sahira dengan nada yang ia buat semanja mungkin. Sampai dirinya sendiri pun merasa jijik mendengarnya.