
“Ugh!” Arra menggeliat seraya mengerjapkan kedua matanya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas untuk melihat jam. “Sudah siang?” gumam Ara ketika melihat waktu sudah menunjukkan jam 11 siang.
“Aduh, tubuhku!” Arra mengaduh ketika ia merasakan tubuhnya pegal semua, apa lagi sela pahanya yang terasa perih dan sakit. Bagaimana tidak sakit kalau suaminya itu terus menggempurnya sepanjang malam, di tambah lagi milik suaminya sangat besar, sebesar botol sirup.
“Carlos!” Arra memukul lengan suaminya yang memeluk perutnya sangat erat.
“Hmmm.” Carlos hanya berdehem saja, kedua matanya masih terpejam dan semakin mengeratkan pelukannya di perut istrinya.
“Aku lapar! Aku lapar dan lapar!!” teriak Arra kesal karena suaminya itu sangat keterlaluan, tidak melepaskannya barang sedikit pun, dengan alasan kalau semua ini adalah hukuman untuknya.
Carlos membuka kedua matanya lalu menatap istrinya dengan tajam, ‘kau ini berisik sekali!” omel Carlos seraya mendudukkan dirinya lalu meraih telepon layanan hotel untuk memesan makan siang.
“Kau sudah membuatku tidak istirahat semalam suntuk dan kau tidak merasa bersalah sama sekali!” Cerocos Ara pada suaminya dengan perasaan kesal luar biasa.
“Untuk apa merasa bersalah, lagi pula kau sangat menikmatinya ‘kan?” Carlos menyeringai licik sembari meletakkan telepon ke tempatnya lagi setelah selesai menghubungi layanan hotel.
“Menikmati apanya?!” Arra memalingkan wajahnya yang merona malu.
Carlos menjadi gemas dengan tingkah istrinya itu, kemudian ia menarik selimut yang menutupi tubuh keduanya hingga selimut tersebut teronggok di atas lantai.
“Carlos!!!” teriak Arra seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya yang sudah seperti kulit macan tutul, penuh dengan tanda cinta dari suaminya.
Carlos tergelak lalu segera mengungkung tubuh istrinya kembali.
“Aku ingin mengulang tadi malam saat kau terus mendessahkan namaku,” bisik Carlos kemudian mencaplok bibir istrinya dengan sangat rakus.
Di bulan madu yang spesial ini. Carlos tidak akan menyia-nyiakan waktu, ia ingin bercinta dan terus bercinta dengan istrinya.
Jika sudah begini, Arra tidak bisa menolak ke inginan suaminya. Ia hanya bisa pasrah di bawah kungkungan suaminya.
“Kau memang membuatku candu, Sayang.” Carlos berkata dengan suara yang sudah serak bertanda kalau pria tersebut sudah sangat bergairah.
“Apakah yang tadi malam tidak puas?” tanya Arra sembari memandang wajah tampan suaminya yang terlihat 3 kali lipat lebih tampan kalau sedang mengungkungnya seperti ini.
“Justru aku tidak akan pernah puas bercinta denganmu,” jawab Carlos seraya membuka kedua kaki istrinya dengan lebar, selebar pinggangnya, lalu ia memegang senjatanya yang super besar juga panjang dan menuntunnya masuk ke dalam lembah istrinya yang masih terasa sempit, menggigit dan legit.
“Ah ... pelan-pelan, Carl!” Arra memekik di sela desaahannya saat suaminya mulai menerobos lembahnya.
“As you wish,” jawab Carlos seraya menggertakkan rahangnya ketika miliknya sudah terbenam sepenuhnya di dalam lembah istrinya. “Oh God!” Carlos meracau tidak karuan saat miliknya terasa di jepit dan di urut milik istrinya.
Ting .., Ting
Bel kamar berbunyi bertanda kalau pesanan makanan mereka sudah di antarkan oleh petugas hotel.
“Carl, makanan kita ... ah.”
“Sepuluh menit lagi.” Carlos menjawab sembari bergerak naik turun di atas tubuh istrinya yang sexy itu.
Arra rasanya sudah hampir pingsan karena suaminya terus menggempurnya di saat dirinya kelaparan. Sungguh kejam sekali suaminya itu, akan tetapi Arra juga tidak mengelak kalau kenikmatan yang di berikan oleh Carlos sungguh membuatnya kecanduan, ingin lagi dan lagi.
***
Bonus visual Carlos😆🔥