THE PRISONER OF MAFIA

THE PRISONER OF MAFIA
Budak cinta



Dua bulan telah berlalu. Kaki Arra sudah sembuh dan bisa berjalan normal kembali. Dia juga sudah keluar dari rumah sakit sejak dua minggu yang lalu dan tinggal di mansion di hutan kota. Mike sudah kembali ke New York untuk mengurus perusahaan Carlos. Sedangkan Gery dan Allegra sudah kembali ke Indonesia karena Ardan—putra pertama mereka kembali drop dan di rujuk ke rumah sakit. Saudara kembar Arra itu mempunyai penyakit leukimia stadium akhir.


Saat ini Carlos dan Arra sudah terbang ke New York. Wanita hamil itu sebenarnya ingin sekali pulang ke Indonesia akan tetapi kedua orang tuanya melarang. Allegra selalu berkata, ‘semua akan baik-baik saja, dan Ardan akan sembuh.’ Allegra juga berpesan kepada putrinya untuk lebih fokus pada kehamilannya.


Carlos sudah berjanji kepada orang tua Arra, kalau dia akan mencari dokter terbaik di dunia untuk menyembuhkan saudara kembar istrinya.


Menempuh perjalanan hampir 6 jam menggunakan pesawat jet pribadi.


Akhirnya pasangan suami istri itu sudah sampai di New York. Mereka di sambut oleh Mike dan beberapa bodyguard yang menjemput mereka di bandara.


“Aku mual! Hoek!!” Arra langsung muntah di hadapan Mike, ketika dia akan masuk ke dalam mobil, kebetulan Mike membukakan pintu mobil untuk dirinya.


“Iyuh!!!” Mike mengangkat salah satu kakinya. Sepatu mahalnya terkena muntahan istri bosnya.


“Maaf, aku sepertinya jetlag,” jawab Arra lalu segera masuk ke dalam mobil.


“Sial!” umpat Mike sambil geleng-geleng kepala. Dia hanya bisa menahan rasa kesal dan marah kepada Arra.


Tidak berselang lama Carlos yang sudah selesai berbicara dengan pilot menghampiri Mike.


“Ada apa? Apakah ibu hamil itu membuat masalah?” tanya Carlos.


“Lihat saja sendiri!” ketus Mike.


Carlos terkekeh pelan seraya menepuk pundak asistennya itu. “Anggap saja salam hangat dari dua keponakanmu.” Carlos meledek Mike lalu segera masuk ke dalam mobil, duduk di samping istrinya.


“Ck! Mereka sama saja, menyebalkan!” Mike langsung menutup pintu mobil itu sedikit keras.


“Hei! Kau sudah membuat kedua anakku terkejut!!!” Maki Carlos sambil mengusap-usap perut istrinya beberapa kali. Dia menatap tajam Mike yang sudah berada di balik kemudi.


“Maaf,” jawab Mike sambil mengambil tisu basah untuk mengusap sepatunya. Setelah selesai, ia segera melajukan mobilnya itu.


*


*


Arra terkadang sebal dengan tingkah suaminya yang berlebihan. Padahal dokter sudah menyarankan, agar dirinya harus banyak bergerak setelah kandungannya sudah memasuki trimester kedua. Ya, kandungan Arra saat ini sudah memasuki usia 4 bulan.


“Sudah lebih baik,” jawab Arra lirih sambil memejamkan kedua matanya dan bersandar di pundak suaminya.


“Sebentar lagi akan sampai, sabar ya.” Carlos mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


Mike tersenyum melihat tingkah Carlos yang sudah menjadi budak cinta.


“Ini lah yang membuatku tidak ingin jatuh cinta! Harga diriku bisa hancur!” batin Mike sambil terus mengemudikan mobil tersebut menuju mansion Carlos.


Tidak berselang lama, mobil yang di kendarai Mike sudah sampai di halaman mewah mansion. Arra segera keluar dari mobil dan memuntahkan isi perutnya. Carlos menjadi sangat panik melihat keadaan istrinya yang seperti itu.


“Apa yang kalian lihat? Telepon 911.” Carlos berseru heboh sambil memijat tengkuk istrinya, dan menatap tajam semua pelayannya yang menyambut di depan pintu mansion mewah nya.


“Tuan, Nyonya Arra hanya perlu istirahat,” sahut Mike sambil geleng-geleng kepala.


“Benar yang di katakan, Mike. Aku hanya ingin istirahat, Carl.” Arra menegakkan badannya setelah selesai memuntahkan isi perutnya.


“Tapi, wajahmu pucat sekali, Sayang!” Carlos benar-benar tidak tenang.


“Mike, hubungi dokter spesialis kandungan!” titah Carlos kepada asistennya. Dia saat ini bertambah cemas ketika mengingat dua calon buah hatinya.


“Baik, Tuan. Aku akan memanggil dokter--”


“Dokter itu harus wanita! Aku tidak ingin kulit istriku yang selembut sutra di sentuh oleh pria lain!” tegas Carlos sangat dingin.


Mike menghela nafas kasar, lalu menganggukkan kepalanya patuh. Dia sungguh sangat sabar menghadapi iblis yang sudah menjadi budak cinta itu.