
“Nyonya awas!!!” teriak Tom.
Arra menoleh ke sisi kiri, kedua matanya membulat sempurna kemudian ia segera berlari cepat menghindari mobil yang melaju kencang ke arahnya.
Tom juga berlari mengejar Arra, dan berhasil menarik Arra, akan tetapi Tom terlambat karena Arra tertabrak mobil tersebut.
BRAK!
“Argghh!!!” teriak Arra, ketika paha kanannya tertabrak mobil tersebut. Arra berada di pelukan Tom, akan tetapi Tom segera melepaskan Arra dan mengambil senjata apinya.
DOR!
DOR!
Tom dan Jerry mengarahkan senjata api mereka ke arah mobil yang melarikan diri setelah menabrak Arra. Hingga pada akhirnya mobil tersebut menabrak ke pembatas jalan dan akhirnya meledak. Kondisi jalanan itu terlihat kacau dan tegang, karena melihat kejadian itu.
Tom dan Jery bernafas lega karena pelaku yang sudah menabrak Arra sudah terbakar di dalam mobil yang meledak itu.
Emily dan Black membantu Arra yang tergeletak di jalan. “Kau tidak apa-apa?” tanya Emily kepada Arra.
“Aku baik-baik saja, hanya saja salah satu kakiku sepertinya patah,” ucap Arra sambil meringis kesakitan sembari memegangi paha kanannya.
“Untung saja Tom bisa menarikmu, meski sedikit terlambat, jika tidak mungkin nyawamu tidak akan selamat.” Emily memeluk Arra dengan perasaan yang kacau, wanita yang hamil besar itu menangis histeris.
Arra masih syok saat mengingat kejadian yang begitu cepat itu. Dia tidak menyangka jika akan mengalami nasib naas seperti tadi.
“Kita harus segera membawanya ke rumah sakit!” ucap Black panik.
Emily melonggarkan pelukannya, dan membiarkan Black menggendong Arra menuju mobil mereka.
“Black, aku percayakan Nyonya Arra kepadamu. Aku akan mengurus kekacauan ini!” ucap Tom kepada Black. Saat mendengar suara sirine mobil polisi mendekat ke lokasi kejadian.
“Iya!” jawab Black dengan tegas.
*
*
“Tuan, luka Anda harus segera di obati!” dokter keluarga Eugino cemas saat melihat Carlos keluar dari mansion dengan kondisi tangan yang terluka parah.
Carlos tidak mendengarkan ucapan dokter tersebut, dia segera menuju rumah sakit yang terdekat dari tempat kejadian itu menggunakan mobil mewahnya. Tangannya yang terluka terus mengeluarkan darah segar, tubuhnya mulai terasa panas dingin, dan wajahnya semakin pucat.
Carlos mengambil kabel carger ponsel yang ada di dalam laci dasboard mobilnya, dia segera mengikatkan kabel tersebut di sekitar luka tembaknya, guna menghambat pendarahan yang terus mengalir.
Hampir 15 menit berkendara, akhirnya Carlos sampai di rumah sakit yang dia tuju. Dia melangkah dengan tegap memasuki lobby rumah sakit tersebut, tanpa memedulikan tatapan semua orang yang ada di sana.
Carlos terus melangkahkan kakinya menuju ruang operasi, Black sebelumnya sudah menginformasikan jika Arra langsung di tangani oleh para medis.
“Black!!” seru Carlos dengan suara menggelegar, aura mematikan terlihat begitu nyata di wajah Carlos.
“Tenangkan dirimu, ini semua jauh dari perkiraan kami! Arra sedang menjalani operasi tulang, kata dokter tulang paha kanannya retak.” Black menahan tangan Carlos yang ingin melayangkan tinju ke wajahnya.
“Aku rasa semua anak buahmu menghianatimu, kecuali si kucing dan tikus itu!” Black berkata setelah Carlos terlihat sedikit tenang.
Carlos tertegun, rasa marah, kesal dan kecewa bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
“Aku tidak akan memaafkanmu Carlos! Kau yang membawa Arra masuk ke dalam hidupmu yang penuh dengan kegelapan!” Emily berbicara dengan nada membentak kepada Carlos, meluapkan rasa emosinya yang sejak tadi dia tahan.
“Lily, tenangkan dirimu juga. Kasihan bayimu!” Black mendorong Emily perlahan agar tidak mendekati Carlos.
“Aku tidak akan pernah tenang! Sama sekali, tidak akan pernah mau tenang, jika dia masih berada di samping Arra. Karena dia, Arra harus menderita dan terpisah dari keluarga! Aku sungguh muak dengan pria seperti dia!” Emily menunjuk Carlos dengan penuh emosi.
Carlos hanya bisa diam, untuk saat ini dia merasa hancur, lemah dan tidak berdaya.
“Jangan dengarkan ucapan Lily. Dia sedang emosi. Sepertinya kau juga membutuhkan pengobatan.” Black menatap lengan Carlos yang terluka.
“Aku tidak membutuhkan apa pun. Yang aku butuhkan hanyalah Arra! Hanya Arra!” Carlos berkata dengan dingin dan datar.
“Arra akan marah dan sedih jika melihat kondisimu yang memprihatinkan seperti ini!” Black berkata dengan nada mencibir Carlos.
Carlos berpikir sejenak, benar yang di katakan oleh Black. Arra akan marah jika melihat kondisinya seperti ini.
“Aku akan pergi ke UGD!” Carlos segera beranjak dari sana menuju UGD untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di lengannya.