
“Anda tidak boleh masuk, Tuan Carlos!” Black menahan Carlos di depan pintu gerbang mansion tersebut. Kebetulan saat itu dia masih berada di pos jaga. Tom hanya menjadi penonton saja, karena dia sudah tidak tahan dengan kantuknya. Sudah dua hari dia tidak tidur.
“Kenapa tidak boleh?! Aku ingin bertemu dengan istriku!” bentak Carlos penuh amarah, menatap tajam pria berkepala plontos yang menahan bahunya.
“Apakah Anda tidak tahu cara bertamu ke rumah orang?!” balas Black dengan sengit.
“Bukan urusanmu! Kau hanyalah seorang anj*ng penjaga di sini, jadi kau tidak berhak melarangku untuk bertemu dengan istriku. Aku juga bagian keluarga ini!” sentak Carlos penuh penekanan.
“Black, lebih baik izinkan Tuan Carlos masuk,” ucap teman Black melerai perdebatan agar tidak menimbulkan keributan yang lebih besar pada malam hari itu.
“Kau tidak mendengar perkataan rekanmu, Tuan Black?!” geram Carlos seraya menepis kasar tangan Black yang masih menekan pundaknya, kemudian ia mengusap pundaknya beberapa kali seolah jijik dengan bekas tangan Black.
Black memiringkan badannya, mempersilahkan Carlos masuk. Dalam hati, ia terus mengutuki Carlos.
“Tom! Kau boleh pergi!” titah Carlos kepada bodyguard-nya itu.
“Ah, iya, terima kasih, Tuan,” jawab Tom pelan, sambil menatap punggung Carlos yang semakin menjauh dari pandangannya.
“Tuan Black, apakah aku boleh menginap di sini juga? Aku akan tidur di mobil,” ucap Tom kepada Black.
“Terserah!” balas Black lalu segera beranjak dari sana, mengikuti Carlos yang sudah masuk ke dalam mansion.
*
*
“Kau seperti pencuri!” celetuk Black tepat di belakang Carlos hingga membuat iblis tampan itu terkejut. “Anj*ng penjaga ini akan mengarahkanmu ke tempat yang kau tuju! Jadi jaga sikapmu itu yang terlihat seperti pencuri!” Black berjalan lebih dulu menaiki anak tangga, diikuti oleh Carlos.
“Kau baru saja mengumpatiku, Black!” desis Carlos tepat di belakang pria berkulit gelap dan berkepala plontos itu. Carlos mengambil senjata apinya yang terselip di antara gespernya yang di bagian pinggang.
“Turunkan senjatamu, Tuan Carlos! Kau harus tahu tempat dan batasanmu!” ucap Black sambil menghentikan langkah saat sampai di depan pintu kamar bercat putih. Black membalikkan badannya, lalu menatap Carlos dengan tajam. “Anda tidak di perbolehkan membawa senjata api di dalam rumah ini!” Black mengambil sapu tangan dari kantong celananya, kemudian melebarkan sapu tangan tersebut dan meminta Carlos untuk menyerahkan senjata api itu.
Carlos mendengus kesal, dengan terpaksa menyerahkan senjata apinya kepada Black.
Black tersenyum sinis, kemudian membungkus senjata api Carlos dengan sapu tangannya, lalu memasukkan ke dalam jasnya. “Aku ingin kau steril saat berada di dalam mansion ini! Jadi angkat kedua tanganmu!”
Demi Arra Sayang—Carlos menuruti perintah Black. Iblis tampan itu menaikkan kedua tangannya dengan malas, kemudian Black memeriksa badannya, untuk memastikan kalau tidak ada senjata tajam atau senjata api lainnya.
“Kau lolos! Silahkan masuk ke dalam kamar Nona Arra,” ucap Black sembari menunjuk pintu kamar yang ada di dekatnya itu dengan ujung dagunya. Meski dia agak keberatan saat Carlos akan memasuki kamar tersebut, tapi dia juga tidak berhak melarang karena Carlos adalah suami sah Arracelia.
Carlos menatap tajam Black yang masih berada di hadapannya, lalu ia memasuki kamar Arra yang kebetulan tidak di kunci.