
Arra mengusap perutnya yang masih rata seraya menatap kepergian suaminya dari balkon kamarnya. Mobil yang di tumpangi Carlos sudah keluar dari area mansion tersebut.
“Apakah Daddy kalian akan kembali kepada kita?” tanya Arra sambil mengelus perutnya. Hatinya kini tidak karuan saat melihat suaminya pergi. Apakah ini bertanda jika dia sudah mencintai Carlos, dan takut kehilangan pria itu.
*
*
“Tom, setelah ini ajak Jery ke mansion William, jaga istriku di sana,” titah Carlos pada Tom yang fokus menyetir mobil.
“Baik, Tuan,” jawab Tom patuh.
Drrt ... Drtt
Ponsel Carlos bergetar panjang, bertanda jika ada pesan masuk. Pria itu segera membuka ponselnya dan ternyata pesan tersebut dari anak buahnya yang ia perintahkan untuk menyelidiki Eugino dan Damian.
“Ke markas sekarang!” titah Carlos pada Tom seraya memasukkan ponselnya ke dalam jasnya.
Tom mengangguk, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju pelabuhan di mana markas Cosa Nostra tersembunyi di sana.
Menempuh perjalanan 15 menit, mobil yang di naiki Carlos sudah sampai di dekat bangunan tua. Carlos mengambil senjata apinya dari dalam jok mobil yang ia duduki, lalu ia turun dari mobil dengan penuh amarah.
“Tuan ...” Tom mengikuti Carlos yang sudah memasuki gedung tua itu, tidak lupa dirinya juga membawa senjata api.
Carlos terus melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan yang ada di dalam gedung tua itu.
“Tuan, kami sudah berhasil menangkap Damian!” ucap anak buahnya yang berjaga di depan ruangan tersebut, lalu membukakan pintu untuk Carlos agar bosnya itu masuk ke dalam ruangan itu.
Carlos melangkahkan kakinya dengan langkah tegap. Lembab, bau kotoran tikus dan banyak debu, itu yang di rasakan Carlos saat masuk ke dalam ruangan yang terlihat remang itu. Di tengah ruangan itu ada Damian yang sudah di ikat di kursi baja.
“Aku senang akhirnya sang penghiatan sudah tertangkap!” Carlos berkata dengan nada yang sangat mengerikan sembari berjalan mendekati Damian yang tengah menatapnya.
“Carl, aku bisa jelaskan semuanya!” Damian panik saat Carlos semakin mendekat sembari membawa senjata api.
“Aku tidak mau mendengar ucapan sampahmu itu! Bagiku seorang pengkhiatan harus segera di musnahkan!” Carlos menyeringai iblis, seraya menempelkan senjatanya api itu ke kening Damian.
Tubuh Damian bergetar tidak karuan, dia ketakutan jika di bun*h oleh Carlos.
“Hampir 20 tahun aku hidup dalam sandiwara yang kalian buat!” desis Carlos dengan tajam.
“Semua ini Eugino yang menyuruhku untuk melakukan semua ini. Carl, maafkan aku, ampuni aku!”: mohon Damian.
“Carl, aku beritahu rahasia besar yang selama ini di sembunyikan oleh Eugino. Tapi, aku mohon lepaskan aku!” pinta Damian.
“Katakan!” tegas Carlos seraya menurunkan senjata apinya, dan memundurkan langkahnya.
“Sebenarnya kedua orang tuamu lenyap di tangan Eugino. Tapi, dia berbohong kepadamu, jika yang membunuh kedua orang tuamu adalah musuh Cosa Nostra. Dia hanya memanfaatkanmu, untuk menguasai bisnis gelap ini.” Damian berbicara jujur pada Carlos.
Tubuh Carlos melemas saat mendengar ucapan Damian. Dia menelan ludahnya dengan kasar. Dadanya terasa sakit, teramat sakit setelah mengetahui kebenaran ini.
“Tapi, kau ikut andil dalam rencananya!” Carlos meneteskan air matanya, sungguh tidak di sangka jiak selama ini dia hidup bersama orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya.
“Tom!” panggil Carlos dengan suara yang mengerikan.
“Iya Tuan!” jawab Tom saat memasuki ruangan tersebut.
“Eksekusi dia!” Carlos menyerahkan senjata apinya kepada Tom. “Seorang pengkhianat harus mendapatkan hukuman yang setimpal! Nyawa harus di bayar dengan nyawa!” ucap Carlos pada Tom.
“Serahkan semua kepadaku!” Tom mengangguk mengerti, dia akan melakukan tugasnya.
“Tidak! Jangan! Carlos, Tom!!! Lepaskan aku ....” teriak Damian dari dalam ruangan tersebut.
Carlos memejamkan kedua matanya seraya menutup kedua telinganya sembari menghitung mundur.
“Tiga ... Dua ... Satu ...”
DORRRR!!!
***
Kejahatan Eugino sudah terungkap. Akankah Carlos memaafkan Eugino, atau malah sebaliknya?
Jangan lupa dukungabnya bestie, like, komentar dan vote❤