THE PRISONER OF MAFIA

THE PRISONER OF MAFIA
I Love You



“Apakah kakinya bisa berjalan normal kembali?” kali Ini Hana yang bertanya dengan perasaan cemas luar biasa.


“Jangan khawatir Nyonya. Pasien akan bisa berjalan normal kembali, tapi butuh waktu untuk masa penyembuhannya,” jawab salah satu perawat yang ada di sana. Kemudian segera pamit undur diri setelah tugas mereka selesai.


Semua orang di sana merasa lega setelah mendengarkan penjelasan perawat tadi. Termasuk Carlos yang sejak tadi diam sembari memandang wajah cantik istrinya yang masih terpejam.


Di ruangan rawat tersebut terasa hening. Tidak ada yang bersuara sama sekali, semua orang di sana sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Carlos menghela nafas panjang, seraya mendudukkan dirinya di kursi yang terletak tidak jauh dari tempat tidur pasien. Dia memenggenggam tangan istrinya dengan lembut dan penuh kehangatan, kemudian mencium punggung tangan itu dengan mesra.


Semua orang di sana bisa melihat tindakan Carlos yang terlihat begitu mencintai Arra.


“Ayo keluar dari sini,” ajak Hana kepada suami, anak dan menantunya. Dia ingin memberikan ruang untuk Carlos agar bisa berdua saja dengan Arra di ruangan tersebut.


“Tapi, Mom ...” Emily awalnya menolak, akan tetapi dia langsung menurut saat mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.


“Ayo segera keluar dari sini!” Hana tidak sabaran sembari menarik lengan suaminya. Dan di ikuti oleh anak dan menantunya.


Suasana di ruang rawat tersebut menjadi hening. Suara detikan jam dinding menjadi sebuah melodi yang mengiringi keheningan di ruangan tersebut.


Carlos menundukkan kepalanya, seumur hidupnya baru kali ini dirinya tidak berdaya. Bahkan saat kedua orang tuanya meninggal dunia, dia tidak sesedih ini. Ya, karena dulu hatinya sudah di tanamkan rasa dendam oleh Eugino.


“Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Kau terluka karena aku,” ucap Carlos seraya menggenggam tangan istrinya semakin erat.


“Dulu kau sering bertanya kepadaku tentang sebuah rasa cinta, sekarang aku akan menjawabnya. Aku sangat mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu,” ucap Carlos lalu menciumi punggung tangan istrinya berulang kali, hingga kedua matanya berkaca-kaca.


Arra mengerjapkan kedua matanya berulang kali, tidak membutuhkan waktu lama dia menyadari jika saat ini sedang berada di rumah sakit. Dia berdesis saat merasakan sakit di kaki kanannya. Bersamaan dengan kesadarannya kembali, dia mendengar ungkapan cinta Carlos.


“Aku tidak mendengarnya, Carl! Katakan sekali lagi!” Arra berkata seperti gumaman namun masih bisa di dengar oleh Carlos.


Carlos yang menundukkan kepala sembari menggenggam tangan istrinya pun langsung mendongak, menatap penuh binar kebahagiaan saat melihat istrinya tersadar.


“Aku bilang katakan sekali lagi! Kenapa kau menjadi diam dan bodoh seperti itu!” Arra berkata dengan nada kesal, ketika melihat wajah cengok suaminya.


Oke! Arra yang menyebalkan dan keras kepala tidak akan pernah hilang meski wanita itu sedang terbaring lemah di atas tempat tidur pasien.


“Ah, tapi sayangnya aku sangat membencimu!” jawab Arra, sambil menahan tawa.


Wajah Carlos yang tadinya hangat kini kembali terlihat dingin dan mengeras, lalu menghempaskan tangan Arra yang ada di genggamannya dengan kasar.


“Hei! Aku belum selesai bicara, kenapa raut wajahmu terlihat sangat mengerikan?! Dasar iblis tampan!” Arra menggerutu kepada suaminya yang kembali terlihat datar dan dingin.


“Jangan menguji kesabaranku!” Carlos mendengus seraya memalingkan wajahnya, dia merajuk dengan istri nakalnya itu.


“Oke, aku membencimu karena kau begitu pintar menyembunyikan perasaanmu selama ini!” ucap Arra, manik mata birunya menatap Carlos dengan penuh kehangatan.


“Kau saja tidak peka! Kalau aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku membuatmu hamil!” jawab Carlos sambil berdecak kesal


“Cinta dan nafsu beda tipis, mana mungkin aku bisa membedakannya! Dasar bodoh!” umpat Arra kesal.


“Berani mengumpatiku lagi, maka aku akan--”


“Akan apa?!!” Arra memotong ucapan Carlos.


Carlos beranjak dari duduknya, dia sekarang berdiri dan sedikit menundukkan setengah badannya, mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.


“Maka aku akan mencium bibirmu sampai habis!” bisik Carlos penuh penekanan, lalu menempelkan bibir tebalnya di permukaan bibir istrinya yang sedikit pucat itu.


Arra tersenyum di sela ciuman tersebut. Dengan senang hati, ia membalas ciuman suaminya.


“I Love You” bisik Carlos saat ciuman mereka terlepas sesaat.


“Mee too,” balas Arra, kemudian bibir mereka menyatu kembali, keduanya saling memejamkan mata dan menikmati sebuah ciuman yang penuh dengan kehangatan, penuh cinta dan kasih sayang, tanpa ada gairah sama sekali di dalamnya.


***


Biarpun mereka pasangan sengklek, tapi tetap sweet ya😍🤣


Jangan lupa dukungannya bestie❤