THE PRISONER OF MAFIA

THE PRISONER OF MAFIA
Jaga dirimu



Pargi hari di mansion keluarga William.


Semua penghuni mansion tersebut terkejut ketika melihat Carlos duduk di meja makan. Mereka tidak tahu entah sejak kapan pria berdarah dingin itu berada di sana.


“Siapa yang mengizinkan dia masuk?!” Emily berkata ketus. Dia masih sakit hati jika mengingat kejadian penculikan beberapa bulan yang lalu.


“Dia suamiku!” Arra berkata tegas seraya menatap saudarinya dengan kesal.


“Waohh!! Hebat kau sekarang sudah membela penjahat seperti dia!” Emily berkata kesal.


“Carlos adalah suamiku, jika kalian tidak menghargai keberadaannya berarti sama saja, kalian tidak menghargai aku!” sahut Arra mencoba untuk tetap tenang.


“Hei, kenapa kalian malah ribut. Lily, jangan berkata seperti itu, baik buruknya Carlos, sekarang dia bagian keluarga William!” Hana mencoba melerai anak dan cucunya yang sedang berdebat.


Dom hanya diam, tapi jangan lupakan tatapan tajam manusia kayu itu yang di tujukan kepada Carlos.


“Terserah!” Emily menyahut kesal.


“Sayang, mungkin kita harus segera pergi dari sini.” Carlos tidak ingin membuat keributan di mansion tersebut.


“Heum ... tapi, aku ingin sarapan dulu,” jawab Arra manja.


“Ih! Seperti ulat saja!” cibir Emily saat melihat Arra yang terlihat manja dengan Carlos.


“Apakah kau iri Nona William? Meski suamiku kaku tapi dia memanggil istrinya dengan sebutan Sayang.” Arra pamer, terdengar meledek Emily dan Dom.


“Hei, suamiku juga bisa romantis! Dia memanggil aku dengan sebutan My Lily ... iya ‘kan My Dom?” Emily meminta persetujuan suaminya.


“Heemm.” Dom hanya menjawab dengan deheman saja, dan hal itu membuat Emily gregetan.


Arra tertawa terbahak mendengarnya, dan puas melihat wajah Emily kesal.


Obrolan mereka terjeda saat para pelayan menyajikan sarapan di meja makan.


“Carlos, selamat datang di keluarga William, dan sekarang mari sarapan bersama.” Dante berkata sembari menatap Carlos. Carlos yang dia temui puluhan tahun yang lalu terlihat masih sama, Carlos yang dulu sangat polos dan menggemaskan, dan sisi polos itu masih terlihat sampai sekarang meski tertutupi dengan aura yang menyeramkan.


*


*


*


Selesai sarapan. Dante berbicara empat mata kepada Carlos di ruang pribadinya.


Carlos mengangguk sebagai jawaban.


“Apakah hubungan kalian baik-baik saja? Maksudku, apakah Arra nyaman bersamamu?” tanya Dante pada pria yang duduk dengan elegant berseberangan dengannya itu.


“Sejauh ini baik-baik saja,” jawab Carlos. “Apakah aku boleh meminta tolong kepadamu?” tanya Carlos pada Dante yang tengah menatapnya.


“Meminta tolong apa?”


Carlos menghela nafas panjang, kemudian menceritakan semua permasalahannya kepada Dante tanpa ada yang terlewat sama sekali.


“Tentu, aku akan membantumu. Lagi pula Arra pasti akan senang jika tinggal di sini untuk sementara waktu,” jawab Dante tersenyum tipis.


“Aku akan kembali jika semua masalahku sudah selesai.” Carlos beranjak dari duduknya.


“Kau tidak ingin berpamitan kepadanya?” Dante bertanya dengan nada heran.


“Apakah harus? Aku takut dia akan bersedih,” jawab Carlos.


“Kau ini aneh sekali. Sebagai seorang suami, kau harus memikirkan perasaan istrimu. Justru dia akan bersedih jika kau tidak berpamitan!” Dante geleng-geleng kepala melihat sikap Carlos yang sangat kaku.


“Sepertinya ucapanmu benar. Aku akan berpamitan kepadanya.” Carlos beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruangan tersebut menuju kamar istrinya.


“Carl, Tom tadi ke sini mengantarkan pakaian gantimu,” ucap Arra saat suaminya masuk ke dalam kamar. Ibu hamil itu baru selesai membersihkan diri, terlihat dia hanya mengenakan jubah mandi dan aroma sabun menyeruak masuk ke dalam indra penciuman Carlos.


“Sayang, aku harus pergi untuk perjalanan bisnis.” Carlos berjalan mendekati istrinya lalu memeluk wanita itu dengan sangar erat.


“Lagi? Kau ingin pergi lagi?!” protes Arra.


“Maaf, ini demi masa depan kita. Mungkin kali ini aku akan pergi dalam waktu yang cukup lama.” Carlos menjelaskannya kepada istrinya.


“Carl ...”


“Sayang, jaga dirimu dan anak-anak kita. Untuk sementara waktu kau tinggal bersama keluargamu,” ucap Carlos lalu mengecup kening istrinya dengan mesra.


“Kau tidak sedang memulangkan aku kepada keluargaku ‘kan?!” Jantung Arra sudah berdebar-debar tidak karuan, dia takut jika yang ada di dalam pikirannya terjadi.


“Tentu saja tidak!” jawab Carlos seraya mengurai pelukannya.


***


Vote-nya keluarin semua bestie😘😘