THE PRISONER OF MAFIA

THE PRISONER OF MAFIA
Sebesar biji kacang hijau



Mike sudah sampai di mansion yang letaknya di tengah hutan kota. Dia akan beristirahat di sana untuk sementara waktu.


“Kalian mau ke mana?” tanya Mike kepada semua pelayan yang akan keluar dari mansion tersebut sambil membawa koper mereka masing-masing.


“Kami mendengar kabar kalau Tuan Besar telah meninggal. Jadi, kami memutuskan untuk keluar dari rumah ini untuk mencari perkerjaan lain,” jawab salah satu pelayan.


“Oh, jadi kalian juga sangat setia dengan Tuan Eugino? Dan berkhianat kepada Tuan Carlos?!” tanya Mike dengan dingin.


“Bu-bukan seperti itu Tuan Mike. Tapi, kami hanya merasa kecewa dengan Tuan Carlos karena menembak ayahnya sendiri,” jawab salah satu pelayan jujur.


“Kalian tidak tahu apa-apa masalah itu! Sebenarnya Tuan Gino tidak sebaik yang kalian pikirkan! Dan dia bukan orang tua kandung Tuan Carlos. Dia adalah penjahat yang sudah melenyapkan orang tua kandung Tuan Carlos.” Mike menjelaskan semuanya kepada 10 pelayan yang ada dihadapannya.


Semua pelayan terkejut saat mendengar penjelasan Mike. Mereka menjadi merasa bersalah karena sudah berburuk sangka kepada Carlos.


“Maafkan kami, Tuan Mike, karena kami sudah salah paham,”ucap semua pelayan serempak.


“Sekarang kalian sudah tahu. Jadi, ini adalah pilihan kalian, tetap berada di sini atau keluar dari mansion ini?” Mike berkata dengan datar.


Semua pelayan kompak saling pandang, kemudian mereka mengangguk bersama. ”Kami tetap berada di sini, Tuan!” jawab mereka kompak.


“Oke, itu yang aku harapkan. Kalian akan tetap bekerja di sini dan tetap mendapat gaji perbulan seperti biasanya. Meski nanti mansion ini akan kosong, kalian harus tetap merawatnya!” tegas Mike.


“Baik, Tuan, kami paham dan akan menjalankan tugas dengan baik!”


Mike mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam mansion tersebut. Dia menuju kamarnya yang terletak di dekat kamar tamu di lantai bawah.


Para pelayan pun segera masuk ke dalam mansion lagi. Mereka bernafas lega karena tidak jadi kehilangan pekerjaan.


*


*


“Aku sudah tidak betah berada di rumah sakit!” rengek Arra kepada suaminya.


“Mau jalan-jalan?” Carlos menawarkan sambil tersenyum tipis.


“Memangnya bisa? Kakiku ‘kan tidak bisa di gerakkan.” Arra menunduk sambil menatap kaki kanannya dengan sedih.


Carlos berjalan menuju sudut ruangan itu. Di sana ada kursi roda, dia mengambilnya dan mendekatkan kepada istrinya.


“Pakai ini, aku akan membawamu ke taman rumah sakit.”


Arra tersenyum dan mengangguk penuh semangat. Carlos terkekeh saat melihat tingkah istrinya, kemudian ia segera mengangkat tubuh istrinya dengan pelan dan hati-hati, lalu mendudukkan istrinya di kursi roda.


“Kau senang?” tanya Carlos sedikit menundukkan kepalanya. Mereka saat ini sudah berada di luar ruang rawat Arra.


“Sangat senang, terima kasih, iblis tampanku,” jawab Arra sambil mendongak menatap suaminya.


Carlos tersenyum lalu mengangguk pelan. “Anak-anak kita juga senang ‘kan?” tanya Carlos.


“Mereka belum paham, karena masih sebesar biji kacang hijau,” jawab Arra seraya mendekatkan jari telunjuk dan ibu jarinya, seolah sedang mengukur bji kacang hijau yang sangat kecil.


“Mereka berdua masih kecil tapi kenapa sudah pandai membuat kita susah?” tanya Carlos.


“Hei!!! Kau ingin aku tendang Carl!! Berani sekali kau mengatai anakku seperti itu? Dasar iblis tampan! Amit-amit!” di ujung kalimat, Arra berbicara dengan bahasa Indonesia sambil mengelus perutnya berulang kali. Berharap kalau kedua anaknya nanti tidak seperti suaminya.


“Iya, Sayangku, maaf.” Carlos seperti kerbau yang di cunguk hidungnya kalau berhadapan dengan pawangnya.