
Mike merasa puas saat melihat dan mendengar jika Eugino sudah tewas. Dan hal itu membuat para medis terkejut dan juga merasa heran, lantaran Eugino hanya mengalami luka tembak saja di kakinya, tapi kenapa bisa meninggal mendadak? Dokter yang memeriksa Eugino mengatakan jika pria itu meninggal karena penyakit komplikasi yang menyerang jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Ya, racun yang di berikan Mike bukanlah sembarang racun yang bisa merusak semua organ tubuh manusia. Dan racun itu juga tidak bisa terdeteksi dengan alat medis yang canggih sekalipun.
Mike segera keluar dari rumah sakit dan kembali ke Milan, setelah tugasnya selesai. Di perjalanan kembali ke Milan, Mike mengabari Carlos jika semua masalah sudah selesai.
*
*
“Siapa yang meneleponmu?” tanya Arra kepada suaminya yang sedang menatap layar ponsel dalam diam.
“Mike,” jawab Carlos, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.
“Ada apa?” tanya Arra sambil menatap suaminya.
"Eugino meninggal dunia," jawab Carlos, lalu meletakkan ponselnya di atas nakas.
Arra membekap mulutnya tidak percaya, "Carl, kau tidak pergi untuk mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya?"
Carlos menggelang pelan, kemudian ia menjelaskan siapa Eugino sebenarnya kepada Arra.
Arra sangat terkejut mengetahui kenyataan yang baru saja ia ketahui. Ia menatap suaminya dengan nanar, tidak menyangka di balik sifat Carlos yang dingin dan kasar, terselip sebuah luka dan kesedihan di hatinya.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku." Carlos tersenyum menatap istrinya.
“Sayang, aku harap kau akan selalu berada di sisiku meski banyak badai yang menerjang rumah tangga kita nanti.” Carlos berkata sambil menatap istrinya dengan dalam.
“Asalkan tidak ada wanita lain di sisimu, maka aku akan tetap berada di sisimu,” jawab Arra lalu menangkup tangan Carlos yang masih menempel di pipi kirinya.
“Aku adalah tipe pria yang setia,” jawab Carlos sambil tersenyum tipis.
Arra memutar kedua matanya dengan malas seraya berkata, “grande bugiardo! ( Dasar pembohong besar!)”
“Aku berkata jujur.” Carlos langsung memeluk istrinya dengan erat tidak lupa mengecupi seluruh wajah istrinya tanpa ada yang terlewat sama sekali.
Arra tergelak sambil berusaha menjauhkan wajah Carlos agar berhenti menciumi wajahnya. Dia merasa geli karena jambang Carlos mengenai wajahnya.
“Carl, hentikan!”
“Tidak akan, Sayang.” Carlos terus meneruskan kejahilannya pada istrinya. Sampai akhirnya mereka berhenti tertawa saat mendengar seseorang berdehem pelan.
*
*
Gerry dan Allegra datang ke rumah sakit pada pagi hari itu sambil membawa sarapan untuk anak dan menantunya. Langkah mereka terhenti saat akan membuka pintu ruang rawat putrinya ketika mendengar suara gelak tawa dari sana.
“Ada apa?” tanya Allegra, kini dia bergantian untuk mengintip. Reaksi Allegra pun sama seperti suaminya. Kini mereka berdua merasa lega ternyata Carlos terlihat sangat mencintai Arra—putri mereka.
“Ayo masuk!” ajak Gerry.
“Tapi, nanti kita akan mengganggu mereka,” jawab Allegra, akan tetapi Gery tidak mendengarkan ucapan istrinya. Kemudian pria itu segera membuka pintu ruangan tersebut, kemudian berdehem pelan.
“Ehem!” dehem Gery, membuat pasangan suami istri menoleh bersama.
Carlos yang tadinya tersenyum dan hangat kini terlihat datar dan dingin lagi. Kemudian menyambut kedatangan kedua mertuanya itu.
“Papa, Mama, kalian datang pagi sekali,” sapa Arra sambil merentangkan kedua tangannya, berharap mendapatkan pelukan dari kedua orang tuanya. Tentu saja Gery dan Allegra langsung mengabulkan permintaan putrinya, memeluk Arra bergantian.
“Bagaimana tidurmu tadi malam?” tanya Allegra kepada putrinya.
“Sangat nyenyak,” jawab Arra sambil tersenyum tipis.
“Apakah kau tidak merasa kram kaki? Atau nyeri, mungkin gatal di sekitar bekas operasi?” tanya Gery sambil mengelus pucuk kepala putrinya, lalu beralih menatap kaki kanan putrinya yang masih di pasang perban.
“Semua aku rasakan, tapi berkat Carlos aku jadi merasa nyaman,” jawab Arra tersenyum tipis.
“Benarkah?” Gery menatap Carlos yang duduk di sofa dengan tegap. Pria itu terlihat seperti patung.
“Iya!” Arra menjawab dengan yakin, lalu segera mempersilahkan kedua orang tuanya duduk di sofa.
Gery dan Allegra sudah duduk di sofa, berhadapan dengan Carlos.
“Kami membawa sarapan untuk kalian berdua. Dan ini ada sup sumsum tulang sapi, katanya bagus untuk penyembuhan tulang,” ucap Allegra sambil membuka goodie bag yang dia bawa, seraya mengeluarkan satu persatu isi goodie bag itu.
“Terima kasih, Ma, kebetulan aku sangat merindukan masakan Mama,” ucap Arra tersenyum senang.
“Sepertinya kau kurang beruntung, karena yang memasak ini semua adalah Oma-mu,” jawab Allegra sambil tertawa pelan, membuat Arra mengerucut sebal.
“Hei! Wajahmu jelek sekali, tenang saja! Mama akan masak spesial untukmu,” ucap Allegra kepada putrinya yang terlihat merajuk.
“Dan ini untukmu.” Allegra menyerahkan sebuah kotak bekal yang berisi beberapa potong sandwich kepada Carlos.
“Terima kasih,” ucap Carlos.
“Cih! Rupanya kau bisa berkata terima kasih juga.” Gery mencibir menantunya.
“Papa!!!” Allegra memanggil suaminya dengan nada naik satu oktaf.
“Iya ... iya.” Gery langsung diam dan duduk anteng di samping istrinya.