
“Aku sudah menembak kepalanya,” ucap Tom pada Carlos saat keluar dari ruangan tersebut.
Carlos menganggukkan kepalanya, sorot matanya terlihat sangat tajam, wajahnya datar dan dingin. “Buang jasadnya di tengah laut, agar menjadi makanan ikan hiu!” Carlos memberikan perintah kepada anak buahnya.
“Baik, Tuan!”
“Tom, kita harus kembali ke Mansion.” Carlos berjalan mendahului keluar dari markas tersebut. Llau diikuti oleh Tom.
Mereka berdua saat ini sudah berada di dalam mobil.
Tom menghidupkan mesin mobil tersebut seraya
menatap Carlos dari spion tengah, karena Carlos duduk di jok belakang. “Tuan, aku sudah mendengar semuanya. Aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk kedua orang tua Anda,” ucap Tom.
“Menurutmu aku harus bagaimana?” tanya Carlos pada Tom dengan nada pelan. Terlihat jelas sekali jika ketua mafia saat ini tampak resah, marah, lelah, syok, dan terpukul.
“Nyawa harus di bayar dengan nyawa, meski tuan besar sudah membesarkan Anda, akan tetapi dia membentuk Anda seperti ini dan memanfaatkan Anda untuk kepentingan pribadinya,” jawab Tom, melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju mansion yang ada di tengah hutan kota.
Carlos tidak menjawab ucapan Tom. Dia saat ini sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Menyusun sebuah rencana untuk menghancurkan Eugino.
Carlos merogoh ponselnya untuk menghubungi asistennya. Dia saat ini sangat membutuhkan Mike.
*
*
*
Mobil yang di kendarai Tom sudah sampai di halaman mansion mewah. Tom keluar dari mobil terlebih dahulu setelah itu dia membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Carlos.
“Kau kembalilah ke mansion William bersama Jery,” titah Carlos dengan datar pada Tom.
“Baik, Tuan!” jawab Tom tegas dan sedikit membungkukkan badannya.
Carlos memasuki rumah tersebut dengan langkah yang gagah. Wajahnya semakin terlihat dingin, serta amarah sudah menyelimuti hatinya. Dia tidak memerlukan sebuah alasan untuk memaafkan Eugino, semuanya sudah jelas dan pria yang sudah ia anggap sebagai Daddy-nya itu bagaikan serigala berbulu domba.
“Hai, Anakku, kau sudah kembali.” Eugino menyambut kedatangan putranya dengan senyuman yang lebar.
“Kau terlihat senang sekali,” ucap Carlos dengan sangat dingin dan datar, menatap tajam Gino.
“Ya, tentu aku senang. Akhirnya kau kembali lagi ke Mansion ini tanpa istrimu itu,” jawab Gino, masih mempertahankan senyumannya yang lebar, dan membuat muak Carlos yang melihatnya.
“Ya, mungkin istriku tidak akan kembali ke sini lagi.” Carlos berkata sembari merogoh senjata api yang dia selipkan di sela gespernya,
“Akhirnya kau sadar kalau wanita itu tidak baik untukmu!” Gino tertawa keras, seperti baru memenangkan lotre ribuan dolar.
“Kau salah!” Carlos berkata sembari menodongkan senjata apinya kepada Gino.
“Lebih tepatnya membunuh orang yang sudah membunuh kedua orang tuaku!” desis Carlos dengan penuh emosi. Kedua matanya memerah dan rahangnya mengeras kuat, bertanda jika saat ini pria itu sangat-sangat emosi.
“Kau pasti sedang bercanda, Carlos!” Gino membentak Carlos dengan kuat.
“Damian yang sudah memberitahuku semuanya! Kau tidak bisa mengelak lagi, Eugino!!!” balas Carlos seraya menarik pelatuknya.
DORRR!
Tembakan pertama dia arahkan ke pundak Gino
“Argghh!! Kau anak yang tidak tahu diri!!” Maki Gino seraya membungkuk sambil memegangi pundaknya. Darah segar menetes di lantai. Gino tidak tahan lagi, kemudian ia memanggil semua anak buahnya yang ada di rumah tersebut.
“Jika kalian berani mendekat, maka nasib kalian akan sama seperti Damian yang menjadi makanan hiu di tengah laut!” Carlos berkata dengan datar saat para anak buahnya yang berjumlah 30 orang mengepungnya sambil menodongkan senjata ke arahnya.
“Keparat!” umpat Gino berusaha untuk menegakkan badannya, lalu merebut senjata api salah satu anak buahnya, lalu menembakkannya ke arah Carlos.
DORR!
Tembakan tersebut mengenai dada Carlos, akan tetapi pria itu masih berdiri di tempat dan tidak merasakan sakit sedikit pun.
“Kau salah pilih lawan, Eugino!” bentak Carlos lalu menodongkan senjata apinya ke arh Gino.
“Ha ha ha ha. Carlos kau itu bodoh! Ya, benar yang di katakan Damian keparat itu kalau aku yang sudah membunuh kedua orang tuamu! Sebenarnya ayahmu adalah adik kandungku. Ha ha ha, kau sekarang sudah tahu kebenaran yang sudah aku sembunyikan selama ini!” ucap Eugino lalu menembakkan senjata apinya yang dia pegang ke arah lengan Carlos.
Carlos mengeraskan rahangnya dengan kuat, saat mendengar ucapan Gino. Tidak menyangka jika Gino tega membunuh kedua orang tuanya yang notabennya adalah adik kandung Gino sendiri.
Carlos yang sudah ingin menghindar ketika Gino akan menembaknya, akan tetapi telat. Timah panas itu mengenai lengan kanannya bagian atas.
“Arghhh!” teriak Carlos.
“Minggir kalian semua!!!!” teriak Gino lalu menembakkan senjata apinya ke segala arah hingga beberapa anak buahnya terkena tembakannya. Dia langsung melarikan diri dari sana mansion tersebut.
Carlos mengarahkan senjata apinya ke kaki Gino.
DORRR
DORRR
Kedua kaki Gino terkena tembakan dari Carlos. Meski begitu pria itu masih sanggup berlari.
“Kenapa kalian diam saja!!! Kejar pria bajingan itu!!!” bentak Carlos pada semua anak buahnya.
*****
Vote-nya mana bestie❤💃