
“Aku sudah menduga jika semua ini akan terjadi! Kau sudah gagal menjaga putriku!” Gery berkata datar dan dingin pada pria yang duduk tegap berseberangan dengannya itu.
Malam hari itu Gery tiba di Milan, Italia. Pria itu dan istrinya langsung menuju rumah sakit untuk melihat kondisi putri mereka. Sebagai orang tua, tentu sangat cemas, panik dan takut saat mendengar kecelakaan yang menimpa putri mereka.
“Pa!” seru Arra dari arah tempat tidur pasien.
“Diam! Papa sedang tidak berbicara denganmu!” ucap Gery tanpa menoleh, karena tatapan tajamnya masih tertuju pada Carlos—menantunya.
Hem ... sejak kapan dia menganggap pria itu sebagai menantunya? Rasanya tidak pernah! Awalnya dia memberikan restu kepada Carlos karena terpaksa. Pada saat itu Carlos mengancam dirinya kalau akan menyakiti Arra.
Arra menatap ibunya yang duduk di dekatnya. Dia memohon kepada Allegra agar ayahnya tidak terus menyudutkan Carlos.
Melihat tatapan putri kesayangannya yang terus memohon dan mengiba pun, akhirnya Allegra tidak tega.
“Gery!” seru Allegra.
“Ya, Sayang,” jawab Gery menoleh dan menatap istrinya dengan lembut.
“Bisakah kau diam! Yang terpenting sekarang Arra dan kedua calon cucu kita selamat!” ucap Allegra, berusaha untuk melerai suaminya.
“Tidak bisa! Pria ini harus di berikan pelajaran!” jawab Gery.
“Pelajaran apa yang akan kau berikan! Ayolah, ini semua hanyalah kecelakaan.” Allegra paling malas jika harus menghadapi sikap Gery yang keras kepala seperti itu.
“Kau dengan tenang mengatakan kalau semua yang menimpa putri kita hanyalah kecelakaan?! Oh My God! Di mana hati nuranimu sebagai seorang ibu?!” Gery menatap tajam istrinya, kemudian ia segera menundukkan pandangannya, saat melihat Allegra membalas tatapan tajamnya.
Ya ampun, wanita berusia 45 tahun itu menjadi overtinking.
“Papa ‘kan baik dan tidak sombong,” ucap Arra, memuji ayahnya sambil memasang raut wajah yang lucu dan menggemaskan.
Carlos tersenyum tipis. Di saat dirinya sedang merasa terpuruk karena semua orang di sekitarnya menghianati dan menyakitinya, tapi dia merasa beruntung karena mempunyai istri yang mendukungnya, serta ibu mertua yang baik walaupun bersikap ketus kepadanya.
Gery mendesah kasar, lalu menatap putri dan istrinya bergantian, kemudian beralih menatap Carlos dengan tajam, “hari ini adalah hari keberuntunganmu! One day, kalau kau menyakiti putriku atau membuat celaka putriku lagi, maka kau tidak akan mendapatkan kesempatan kedua!!” Gery berkata pelan tapi penuh penekanan.
Carlos tersenyum, dan mengangguk pelan. “Terima kasih, Papa dan Mama mertua,” ucap Carlos, terdengar canggung.
“Cih!” Gery berdecih kesal menanggapinya, seraya memalingkan wajahnya. Dia sebenarnya belum ikhlas melepaskan putrinya itu kepada pria tersebut, mengingat pertemuan mereka dulu tidak baik, serta Arra menikah dengan Carlos karena ancaman.
“Kalian tenang saja, aku sudah meninggalkan bisnis gelapku. Aku akan ke New York untuk fokus dengan perusahaanku di sana. Dan aku akan memohon izin kepada kalian, jika Arra nanti sudah sembuh, aku akan membawa Arra ke New York. Kami akan memulai hidup baru di sana.” Carlos berbicara dengan tegas, sembari menatap Gery dan Allegra bergantian.
Arra tersenyum tipis mendengarkan ucapan suaminya. Dia senang karena Carlos sudah tidak sekaku dan dingin seperti sebelumnya.
“Aku harap kalian memberikan restu dan izin,” ucap Arra kepada kedua orang tuanya.
Gery dan Allegra saling pandang, seolah mereka sedang berdiskusi melalui telepati.
***
Jangan lupa Vote-nya ya❤😘