THE PRISONER OF MAFIA

THE PRISONER OF MAFIA
Seharusnya ada 5!



Untung cinta, mau seperti apa pun sikap Arra kepadanya. Carlos akan tetap sabar menghadapi istrinya.


“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku?” Carlos bertanya kepada Arra yang masih duduk di tengah tempat tidur.


“Tidak!” jawab Arra dengan tegas.


“Kenapa?” Carlos mengeraskan rahangnya, menatap tajam istrinya.


“Apakah aku harus mengatakannya tentang kondisiku yang sebenarnya?!” Arra bertanya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


“Jangan membuat kesabaranku habis!” Carlos berkata dengan penuh penekanan.


“Kalau begitu ceraikan saja aku!” balas Arra dengan nada menggebu-nggebu.


“Arrcelia!!!” bentak Carlos, seraya mendekati Arra lalu mencekik leher istrinya dengan kuat. Dia tidak suka dengan kata ‘cerai’ yang baru saja keluar dari mulut istrinya. “Mulutmu akan kurobek jika kau berani berkata seperti itu lagi!” sentak Carlos.


“Kenapa kau selalu menyakitiku, kenapa?” tanya Arra dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya, dan kedua matanya memerah karena pasokan udara di paru-parunya semakin menipis karena Carlos semakin kuat mencekik lehernya.


Melihat kedua mata istrinya, Carlos langsung tersadar, dia melepaskan tangannya dari leher jenjang Arra.


“Jika kau tidak mencintaiku, maka lepaskan aku saja. Biarkan aku membesarkan kedua anakku sendiri. Kau datang dan pergi sesuka hatimu, tanpa memikirkan perasaanku!” ucap Arra dengan suara yang lirih dan terdengar menyayat hati.


Carlos memejamkan kedua matanya sesaat, lalu memandang tangan kanannya yang baru saja mencekik istrinya. Sungguh, di dalam hati Carlos mengutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan emosinya.


“Arra, bisakah kau memahami segala sikapku yang kutunjukkan kepadamu?” tanya Carlos tanpa menatap istrinya.


“Sikapmu yang mana, yang harus aku pahami? Setiap saat kau selalu bersikap kasar kepadaku!” jawab Arra seraya menghapus air mata.


“Benar, aku memang selalu kasar kepadamu, tapi asalkan kau tahu--”


“Carl, Daddy-mu ingin menjodohkanmu dengan wanita lain.” Arra memotong ucapan Carlos. Hatinya saat ini terasa sakit dan rapuh.


“Kau percaya dengan ucapannya?” Carlos bertanya dengan nada pelan, menatap istrinya yang tertunduk sembari mengusap air mata.


“Aku tidak tahu,” jawab Arra diiringi dengan gelengan kepala. “Aku tidak ingin kembali ke sana lagi. Aku takut kalau dia menyakiti kedua anakku,” lanjut Arra dengan suara yang bergetar.


Carlos menghela nafas panjang, satu masalah belum selesai, kini timbul masalah yang lainnya.


“Kau tenang saja. Meski aku selalu bersikap kasar kepadamu. Aku menghargai ikatan suci pernikahan kita,” jawab Carlos seraya mengusap pucuk kepala istrinya. Ya, Bukan hanya menghargai ikatan suci pernikahan, tapi di dalam hati Carlos hanya ada Arracelia seorang. Mana mungkin dia mengkhianati cintanya, meski dia belum mengungkapkan isi hatinya kepada istrinya.


Arra tidak tahu apakah dia harus percaya atau tidak dengan Carlos. Dia hanya takut jika suatu saat nanti iblis tampan itu akan menyakiti hatinya sampai habis tidak tersisa.


Carlos menarik Arra ke dalam pelukannya. “Maafkan aku, Sayang.” Carlos berkata dengan lembut seraya mengusap perut Arra yang masih rata itu.


Arra menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dia mudah sekali memaafkan Carlos meski pria itu sering menyakitinya.


“Apakah benar jika di dalam sini ada benihku?” tanya Carlos masih mengusap perut Arra.


“Aku percaya.” Carlos menjawab sambil mengecup kening istrinya dengan mesra. “Kenapa hanya ada dua? Seharusnya ada 5 karena aku rajin membuatnya.” Carlos berkata dengan penuh percaya diri.


BUGH!


Arra memukul dada bidang suaminya dengan kesal. “Apakah kau pikir aku ini kucing?!” umpat Arra dengan nada kesal.


Carlos tergelak lalu merebahkan istrinya di atas rajang tersebut.


“Hei, kau mau apa?!” teriak Arra tertahan saat Carlos dengan cepat menindih tubuhnya.


“Tentu saja ingin menjenguk anak-anakku!” jawab Carlos dan segera menyambar bibir istrinya dengan sangat rakus.


Awalnya sih menolak, tapi lama kelamaan Arra menjadi luluh dan melupakan semua masalah yang baru saja terjadi.


“Lalukan dengan pelan,” bisik Arra, seolah memberikan lampu hijau pada suaminya.


Carlos tersenyum lalu mengangguk pelan, kemudian segera melancarkan aksinya.


Dan malam itu, Arra terus melenguh dan mendesaah di bawah kungkungan suaminya.


*


*


*


“Tuan, sepertinya Tuan Carlos sudah mengetahui rencana kita,” ucap Damian—asisten Eugino.


“Ck! Kau bodoh sekali, bagaimana bisa dia mengetahui rencana kita?!” bentak Gino pada asistennya itu.


“Maaf, Tuan. Apakah Anda lupa jika Tuan Carlos mempunyai otak yang sangat cerdas?” ucap Alex, dia tidak mau di salahkan sendiri dalam hal ini.


Eugino mengumpat kesal, “jalankan rencana B! Bagaimana pun juga, Carlos tidak boleh meninggalkan Cosa Nostra, karena dia adalah alat untuk mengembangkan bisnis gelapku!” tegas Gino pada asistennya itu.


“Anda kejam sekali, Tuan,” batin Damian, akan tetapi dia tidak bisa membantah ucapan bos-nya itu.


***


Maaf baru update, kemarin libur😁😁


Jangan lupa dukungannya ya, like, komentar dan vote..


Yang dapat pulsa 10 ribu minggu ini adalah Nining Rahayu, silahkan DM ke IG emak @thalindalena untuk menginformasikan nomornya❤