THE PRISONER OF MAFIA

THE PRISONER OF MAFIA
Extra Part 3



Pesawat Jet pribadi Carlos sudah mendarat dengan selamat, di salah satu Bandara Kota Jakarta.


Kedatangan mereka di sambut oleh Allegra, Gery, dan kedua kakak Arra di lobby Bandara.


“Welcom back di Jakarta.” Aslan dan Ardan berseru bersama lalu memeluk Arra dengan erat.


“Aku merindukan kalian.” Arra berkata lirih seraya memeluk kedua kakaknya bergantian.


Alessia dan Achelio menghampiri kakek dan neneknya yang tersenyum kepada mereka berdua. Anak kembar itu langsung memeluk pasangan paruh baya itu bergantian. Sedangkan Carlos berdiri di belakang istrinya sembari menatap kedua anaknya dan Arra yang terlihat sangat bahagia.


Arra melepaskan pelukannya dari kedua kakaknya lalu beralih menyapa kedua orang tuanya. Suasana haru menyelimuti lobby bandara tersebut.


“Hai, Bro!” sapa Aslan kepada Carlos.


“Hai.” Carlos menjawab sapaan kakak iparnya dengan ramah. Tatapan Carlos beralih pada Ardan yang berdiri di samping Aslan. Wajah mereka berdua sangat mirip sekali, membuat Carlos agak sedikit sulit untuk membedakannya, hanya saja dia teringat kalau Aslan berpenampilan casual, sedang kan Ardan berpenampilan sangat rapi dan terkesan culun, jadi di sanalah Carlos bisa membedakan antara keduanya.


“Kau terlihat jauh lebih baik dari empat tahun yang lalu.” Carlos berkata menggunakan bahasa inggris, karena ia tidak fasih berbahasa Indonesia.


Carlos memandang Ardan lalu menepuk lengan pria itu pelan. Ikut senang karena pria tersebut sudah sembuh dari penyakit yang mematikan.


“Yap, ini semua berkat dirimu.” Ardan tersenyum lalu memeluk Carlos untuk sesaat. Dia sangat berterima kasih kepada suami adiknya itu yang sudah membantunya menemukan dokter terbaik di dunia yang bisa menyembuhkan penyakitnya.


“Jangan berkata seperti itu. Kau sembuh karena mempunyai semangat hidup yang kuat, dan juga karena Tuhan sangat menyayangimu.” Carlos menjawab dengan merendah.


“Kau memang pria yang baik. Arra sangat beruntung mendapatkanmu,” ucap Ardan.


Carlos tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ardan tidak tahu saja masa lalu Carlos yang sangat kelam dan penuh dosa, mungkin jika kakak iparnya itu tahu dia tidak akan memujinya seperti tadi. Ya, hanya Ardan saja yang tidak tahu tentang masa lalu Carlos.


“Kau terlalu memujinya, Ar!” Aslan terkekeh pelan lalu menepuk pundak Carlos. “Ayo, pulang! Kalian pasti lelah.”


*


*


Perjalanan dari Bandara menuju rumah utama sangat lengang pada malam hari itu. Carlos dan keluarga kecilnya berada di satu mobil, sedangkan Allegra, Gery dan kedua kakak Arra berada di mobil satunya lagi yang berjalan di depan mobil yang mereka tumpangi.


“Daddy, what is that?” tanya Alessia sambil menunjuk pada ondel-ondel yang sendang mengamen di lampu merah, kebetulan mobil yang mereka tumpangi di berhenti di sana.


“Maybe a walking doll,” jawab Carlos asal, karena dia baru pertama kali mengijakkan kakinya di Jakarta.


“Itu namanya ondel-ondel.” Arra meralat ucapan suaminya sambil geleng-geleng kepala.


“What? Onde-onde?” Carlos mengerutkan keningnya sambil menatap istrinya dengan tatapan bingung. Sopir menahan tawa ketika mendengar pertanyaan Carlos.


Arra menepuk jidatnya dengan keras sambil tertawa geli.


“Ondel-ondel, Daddy, bukan onde-onde,” jawab Arra.


“Ah, sangat sulit untuk mengucapkannya,” jawab Carlos dengan bahasa Indonesia yang belepotan.


***


Ngakak🤣🙈


Jangan lupa like dan komentarnya❤