
"wah-wah....... pembela putri pembawa sial" ucap seorang wanita dengan rambut merah yg masuk ke dalam kantin di ikuti beberapa temannya.
"sekali pembawa sial maka dia akan menjadi orang yg paling rendah" ucap wanita itu lagi yg membuat suatu energi dalam Alice bergejolak.
aura hitam keemasan menyelubungi Alice, langit menjadi kelam.
namun alice berhasil mengendalikan kekuatannya dan terjatuh pingsan.
"cih dasar si lemah" ucap wanita itu yg bernama zena.
Rania dan yg lain membantu alice dan memapahnya menuju kamu mereka.
"aku akan membalas mu zena" ucap sira sebelum pergi.
"ahaha..... aku menunggu pembalasan mu putri junior" ucapnya tertawa bersama kedua temannya Amira dan Maika.
zena yaitu putri kerajaan no 3 di benua Neurivia.
sedangkan Ece dan Rania putri kerajaan no 4,sira putri kerajaan yg ke-5, sayana putri kerajaan yg ke -6 dari benua Neurivia.
-
-
-
kelimanya akhirnya sampai di dalam kamar mereka dan membaringkan Alice pada kasurnya.
"Rania apa kau bisa menggunakan sihir penyembuh mu?? " ucap Ece.
"akan ku usahakan" ucap Rania kemudian merapalkan mantra.
tanaman rambat penyembuh keluar dari telapak tangan Rania dan menyembuhkan Alice.
perlahan-lahan alice membuka matanya, semua nya merasa senang dan langsung memeluk Alice bersamaan.
"Huaaa....... akhirnya kau bangun" ucap Rania.
"syukurlah kau tak apa-apa" ucap sira.
"kami sangat khawatir" ucap sayana.
"maafkan kami yg tak bisa menjaga mu" ucap Ece
Alice menyungingkan senyum yg sangat tipis dan membiarkan keempat temannya itu memeluknya.
"terimakasih sudah mau menemani ku, aku akan terus menjaga kalian" batin Alice bertekad.
mereka berempat melepas pelukan mereka.
"sudah saatnya kita kembali ke kelas masing-masing" ucap sayana.
kemudian kelimanya kembali ke kelas masing-masing.
******
Ece, Rania, sayana, dan sira semakin dekat dengan Alice dan bersahabat.
namun selama sebulan ini Alice masih belum terlalu banyak bicara dengan mereka, namun mereka memahami Alice dan berharap di suatu saat Alice dapat membuka hatinya sepenuhnya.
"woah.... Alice kau memasak apa?? " ucap sira girang melihat sarapan yg sudah tersusun rapi di atas meja.
"sudah lah kau tak perlu bertanya, lihat alice membuat makanan kesukaan kita" ucap Rania sambil memukul pelan kepala sira.
semuanya terkekeh pelan, Alice merasa mendapat sedikit cahaya di dalam hatinya melihat hal-hal yg di lakukan para sahabat nya.
"hey apa kalian sudah mendengar jika 7 jari lagi akan si adakan ujian penentuan raja atau ratu akademi? " ucap sayana.
"wah.... aku sangat menantikan itu,aku berharap si nenek sihir zena itu gugur menjadi ratu akademi" ucap sira.
"benar..... selama si nenek sihir zena itu menjadi ratu akademi, dia semena-menanya terdapat semua orang" ucap Rania.
"bagaimana kalau kali ini kita berjuang untuk meraih juara pada ijin kali ini?? " ucap Ece.
"aku setuju" ucap Rania.
"dan aku dengar kita akan di cocokkan dengan lawan dari kelas yg berbeda" ucap Ece.
"cih semoga aku tak menjadi lawan pangeran Albert" ucap sayana.
"kenapa?? " tanya sira.
"kau tau, bagaimana kejamnya kakak mu jika sudah serius dalam ujian" ucap sayana kepada sira.
"dia ada di sana" ucap Alice sambil memberi ibarat kepada mereka.
keempatnya menatap ke arah pintu masuk kamar mereka dan melihat pangeran Albert berdiri di sana.
"aku berharap menjadi lawan mu sayana" ucap pangeran Albert.
"hehe..... sebaiknya tak perlu, aku muak melihat mu yg selalu menjadi lawan ku" ucap sayana.
"kak.... apa yg kau lakukan di asrama putri?? " ucap sira berkacak pinggang.
"apa yg kulakukan?? tak ada tujuan lain, selain menikmati sarapan yg di buat Alice" ucapnya santai lalu mengambil makan di atas meja makan.
"kau benar-benar gila kak" ucap sira.
namun Albert acuh tak acuh.
sampai.....
tok... tok...
"gawat master Laila melakukan pengecekan asrama" ucap mereka panik.
BERSAMBUNG........