
keesokan harinya pertandingan semifinal dan final penentuan di mulai.
sepanjang malam keempat sahabat Alice tak ingin tidur di kamar mereka, melainkan berhimpitan di kamar Alice.
bahkan di pagi hari itu keempatnya sudah mengomeli dan menasehati Alice berkali-kali untuk berhati-hati di area pertandingan.
"Alice kau harus berhati-hati, kau tak boleh terluka" ucap sira.
"jika kau sudah tidak sanggup kau bisa mengangkat tangan mu untuk berhenti" ucap Rania.
"apa kau mengingatnya?? " ucap Rania.
Alice hanya menganggukkan kepalanya.
kelimanya datang ke area pertandingan.
para juri sudah mengambil tempat duduk nya masing-masing.
yang berbeda kali ini yaitu Raja Alfonso menghadiri acara itu.
sesaat Alice mematung melihat Raja Alfonso yg duduk di kursi yg terkusus untuknya.
"Pertandingan akan di mulai" ucap juri.
kemudian ia mengumumkan siapa saja kawan-kawan mereka.
"pangeran Alaric akan melawan kinsley, putri Alice akan melawan putri zena,...... bla... bla.... " ucap juri.
satu persatu murid di pertandingan kan sampai akhirnya giliran pangeran Alaric dan kinsley.
"mulai" ucap juri.
untuk beberapa saat Alaric sempat terluka karena serangan lawan namun dengan cepat Alaric membalikkan keadaan sehingga Alaric menjadi lebih unggul dari sang lawan.
"pemenangnya adalah pangeran Alaric" ucap juri.
dari kejauhan Alice sedari tadi sangat gelisah, ingin sekali ia menyembuhkan luka pangeran Alaric namun ia sadar jika ia mendekat ia pasti membuat pangeran Alaric marah.
"putri Alice dan putri zena silakan naik ke area" ucap juri.
Alice dan zena menaiki area, dari tempat duduk nya Raja Alfonso terteguh mendengar bahwa putri Alice adalah putrinya.
"nama itu...... " batinnya.
"di mulai" ucap juri.
"wah... wah.... apa aku harus membalas mu yg telah membuat teman ku terluka parah?! " ucap putri zena.
tanpa menunggu lama zena melempar elemen apinya yg berwarna merah pekat.
Alice menahan serangan itu dengan tangannya, yg membuat tangannya melepuh.
namun Alice tak menampakkan wajah kesakitan nya, seolah-olah ada yg lebih menyakitkan dari itu semua.
tak cukup dengan itu putri zena membuat badai api yg membuat Api merah pekat itu menyerang Alice dan menutupinya.
"akhhrgg..... " teriakan kesakitan Alice yg membuat senyum lebar di wajah putri zena.
sedangkan di luar area sedang kacau karena ulah para sahabat Alice yg histeris mendengar teriakan Alice.
"b****k kau nenek sihir" ucap Ece.
"hentikan dasar bodoh, aku akan membunuh mu sekarang juga" ucap sira.
"buka Aray pelindung dasar semua orang bodoh" ucap Rania dengan derai air mata.
"aku akan menghancurkan kalian semua jika sahabat kami tidak baik-baik saja" ucap sayana.
"ALICE...... ALICE..... CEPAT MENYERAH..... jangan memaksakan diri mu" ucap Rania.
"Alice apa kau mendengarkan kami??!!!! " ucap sira dan Ece.
di sela-sela kesakitan yg Alice rasakan ia seolah-olah merasa ada cahaya dan ia mendengar suara pilu tangisan para sahabatnya.
"aku tak akan membiarkan siapa pun yg membuat para sahabat ku menangis, inglis..... buka kunci kekuatan ku" batin Alice.
"ini baru Alice kami, saatnya membalas dendam" sahut inglis.
cahaya terang menembus lautan api kemudian tiba-tiba Alice keluar dari dalam lautan api dengan sayap air miliknya. gaunnya yg sekarang sudah tak berbentuk kini berubah menjadi gaun yg terbuat dari air.
"huh.... ternyata kau cukup beruntung lolos dari api legenda itu" ucap putri zena sombong.
"a.... aku.... takan membiarkan seorang pun membuat sahabat ku tersakiti!!! " ucap Alice.
sekejap sebuah pusaran air keluar dari belakang Alice dan kemudian semakin membesar.
sedangkan putri zena merasa sedikit takut melihat pusaran air raksasa itu.
"cih.... air itu tak akan bisa memadamkan api legenda ku" ucap Zena yg masih saja menyombongkan diri.
BERSAMBUNG........