
Raja Alfonso duduk di kursi tahtanya, di depannya para menteri dan penjabat berbaris dan memberi hormat kepadanya.
"menghormat kepada yang mulia semoga cahaya Diamord selalu menyinari keagungan yang mulia" ucap mereka.
"bangun lah" ucap Raja Alfonso datar.
semenjak permaisuri meninggal sikap Raja Alfonso menjadi dingin dan datar tak ada lagi senyum di wajah parubaya nya.
"lapor yang mulia mohon yang mulia membunuh putri pembawa sial itu, karna itu semua bisa membahayakan rakyat" ucap salah satu mentri dan menari lain menyetujui hal itu.
kecuali seorang Menteri yg bernama Aldrich tidak menyetujui itu
"katakan mengapa kau tak menyetujuinya?? " ucap Raja Alfonso datar.
"hamba merasa jika membunuh tuan putri itu terlalu cepat, menurut hamba lebih baik ia di kirim ke akademi kerajaan,jadi biar dia menebus dosanya melalu misi akademi" ucap mentri Aldrich.
"tapi bagaimana jika putri pembawa sial itu dapat menguasai sihir dan berbalik mencelakai negeri?? " ucap salah satu mentri.
"dia tak akan bisa, apa ada yg mengajarinya sihir?? bahkan aku sudah memastikan dia tak memiliki mana kekuatan di tubuhnya" ucap mentri Aldrich.
"tapi... bagaimana jika ia memiliki ilmu bela diri??" ucap mentri lain.
"jika dia mempunyainya maka ia sudah membunuh kita semua" ucap mentri Aldrich.
saat mentri yg lain ingin menyahut mentri Aldrich Raja Alfonso mengangkat tangannya menyuruh mereka semua diam.
"aku menurunkan perintah untuk mengirim putri itu ke akademi" ucap Raja Alfonso datar.
semua mentri menghormati keputusan Raja Alfonso.
"mentri Aldrich datang lah ke ruang kerja ku" ucap Raja Alfonso.
"baik yang mulia" ucap mentri Aldrich.
kemudian Raja Alfonso meninggalkan ruang rapat, semua mentri membungkuk.
-
-
di ruang kerja mentri Aldrich berdiri di belakang Raja Alfonso yg menatap jauh ke luar jendela.
"salam bagi yang mulia" ucap mentri Aldrich
"katakan alasan sebenarnya" ucap Raja Alfonso langsung ke intinya.
mentri Aldrich mengambil nafas dalam.
"hamba tau, meski yang mulia sangat membenci tuan putri, namun hamba pernah melihat yang mulia menatap penuh sendu ke arah kastil mawar, meski yang mulia membencinya, namun jauh di lubuk hati yang mulia,tuan putri masih memiliki tempat di hati yang mulia" ucap mentri Aldrich.
"jika memasukkan tuan putri ke dalam akademi kerajaan mungkin saja dapat memberi perlindungan kepada tuan putri secara tidak langsung" ucap mentri Aldrich.
"huh.... sudah ku duga" ucap Raja Alfonso datar.
*******
Alice merawat mawar yg ada di sana dan menatanya menjadi taman mawar yg indah.
segerobong prajurit dan mentri Aldrich datang dan membacakan derkit Raja.
"DERKIT KEPADA PUTRI, RAJA MENGUTUS PUTRI UNTUK MASUK KE AKADEMI KERAJAAN" ucap mentri Aldrich membaca DERKIT.
sedangkan Alice menunduk menyembunyikan senyum menyedihkan nya karena ayahnya tak mengetahui namanya selama ini, dan juga tak ingin tau siapa namanya.
Alice menerimanya tanpa rasa terkejut dengan semua itu karena apa yg mereka bicarakan di ruang rapat semuanya di ketahui Alice melalui seekor burung gagak.
"Tuan putri jika hamba boleh tau siapa nama mu?? " ucap mentri Aldrich.
Alice mengambil mawar dan mencabut kelopaknya dan membentuk huruf,yg di susun menjadi namanya.
mentri Aldrich menganggukkan kepalanya.
"tuan putri Alice besok tuan putri akan di antar ke akademi untuk belajar, jadi bersiaplah besok" ucap mentri Aldrich.
"dan ini beberapa baju untuk tuan putri gunakan" ucap mentri Aldrich.
seorang pelayan meletakkan nampan pakaian di dekat Alice.
"Alice menganggukkan kepalanya.
lalu setelah itu mentri Aldrich dan yg lain pergi dari sana.
" akhirnya aku akan selalu bersamanya"ucap Alice lirih.
BERSAMBUNG.......