The Princess Of The Creator Of Ying And Yang

The Princess Of The Creator Of Ying And Yang
Alice anisphya de Diamord



seorang putri kecil berusia 5 tahun berlari dengan kaki kecilnya ke arah seorang lelaki parubaya namun tangan mungilnya di tepis sehingga ia terjatuh di tanah.


kemudian saat dia menemui seorang anak yg berusia 4 tahun dia atasnya, namun dengan kasar anak itu mendorongnya dan memarahinya.


ketika ia meminta makanan di dapur istana ia di marahi pelayan, dihina, dicaci maki, dan di jambak.


tangisan anak itu tak di hiraukan, hanya seorang pelayan tua yg datang dan memeluknya dan membawanya kembali ke istana mawar.


anak itu tak lain adalah putri kerajaan Diamord.


"tuan putri, apa tuan putri tak apa-apa?? " tanya pelayan tua itu.


"huaaa...... Alice dimarah lagi huaaa.... " tangis sang putri yg bernama Alice anisphya de Diamord itu.


nama yg di berikan permaisuri kepada sang putri sebelum menghembuskan nafas terakhir nya.


"tuan putri tak usah takut bibi ada di sini" ucap pelayan tua itu sambil memeluk hangat tubuh sang putri.


sang putri hanya merasa kasih sayang dari pelayan tua itu, namun seorang anak yg berusia 5 tahun itu tak tau jika itu terakhir kalinya ia merasa kasih sayang dari seseorang.


pada malam harinya Alice merasa haus dan memilih turun dari kasur nya dan keluar dari kastil mawar menuju dapur untuk mencari air.


namun di sana ia bertemu pelayan yg sering menjambaknya.


"apa yg di lakukan anak pembawa sial di dapur kali ini?? " ucapnya.


"Alice haus" cicit Alice dengan mata yg mulai ingin menangis.


"apa kau pantas mendapat apapun dari dapur istana ini?? " ucapnya sambil mengambil pisau di meja.


pelayan itu mengangkat tangannya dan hendak menusuk Alice, sedangkan Alice hanya bisa menangis keras.


crass......


pisau tadi tertancap pada perut si pelayan tua.


Alice membuka matanya dan melihat pelayan tua tertusuk pisau demi melindunginya.


"aku... aku tak membiarkan kau menyakiti tuan putri" ucap pelayan tua itu lalu mencabut pisau itu lalu menyerang balik pelayan itu.


"tu... tuan putri, apa kau tak apa-apa?? " ucapnya sambil tersenyum, tanpa menunggu Alice menjawab nya ia mengendong tuan putri menuju kastil mawar, sesampai di halaman kastil mawar pelayan itu menurunkan Alice dan terjatuh di dekat Alice.


Alice yg melihat itu menangis dan menepuk-nepuk pipi pelayan tua itu sambil memanggilnya.


pelayan tua itu tersadar sesaat lalu mengulurkan tangannya mengelus kepala sang putri.


"tuan putri..... i... ingat.... lah..... jangan.... pernah.... keluar dari.... kastil.... in... ini... lagi" ucapnya lalu memejamkan matanya selamanya.


"bibi.... huaaaaa..... bangun..... bibi... huaaaaaa"tangis Alice.


langit malam mendung dan turun hujan menemani Alice kecil yg terus menerus menangisi kepergian pelayan tua itu.


sejak saat itu Alice tak berani keluar dari kastil mawar, ia diam di kastil sendiri dalam kesedihan, kesepian, tanpa kasih sayang.


8 tahun telah berlalu kini Alice tumbuh menjadi gadis yg cantik, namun ia tetap hidup dalam kesepian.


hanya seekor kucing dan seekor burung gagak yg menemaninya di kastil itu.


tak ada senyum di wajahnya cantik miliknya tak ada binar dimatanya hanya kesedihan dan kehampaan yg ia rasakan.


ia hanya melihat tawa bahagia orang-orang dari jendela menara kastilnya.


" apa kau bersedih lagi?? "ucap kucing putih itu.


" ya"ucap Alice.


"apa perlu kami membalas nya?? " ucap burung gagak yg di sampingnya.


"tidak, biarkan saja" ucap Alice sambil bangkit dari duduknya dan bejalan ke arah tempat tidur nya.


"apa kau ingin ber kultivasi lagi?? " ucap burung gagak itu.


"hm" balas Alice.


kedua hewan itu hanya menghela nafas pasrah.


BERSAMBUNG.......