
Arnetta terbangun saat dirinya terusik sinar matahari yang mulai menyapanya dari balik tirai, dan ketika matanya terbuka lebar tampak tepat didepannya seraut wajah bule tampan yang sedang tertidur memeluk dirinya.
Entah setan mana yang merasuki Arnetta sehingga dia dengan berani menyusuri wajah pria tersebut dengan telunjuknya.
"Mumpung sedang didalam mimpi, dipuas-puasin nyentuh si om" gumam Arnetta sambil terkikik pelan.
Julian yang merasakan geli karena wajahnya ada yang meraba membuat dia segera terbangun dan mendengar gumaman istrinya.
"Kalau tidak mimpipun kamu bisa puas kok Nett menyentuh seluruh tubuhku tidak cuman wajahku ini....aku iklas kok Nett" bisik Julian dengan suara serak khas orang sedang bangun tidur.
"Iiiih kepedean kamu om, aku tadi cuman membersihkan ada kotoran diwajahmu om" balas Arnetta sewot untuk menutupi rasa malunya, lalu segera membalikkan badannya memunggungi Julian.
Bukannya marah Julian hanya terkekeh geli melihat polah istrinya yang sangat menggemaskan, lalu segera bangun dari tidurnya untuk ritual pagi di kamar mandi.
Arnetta yang melihat Julian sudah tidak berbaring di sisinya segera mengedarkan matanya melihat sekelilingnya kebingungan.
"Kok aku di rumah sakit ya? lalu kenapa sudah tidur dipeluk si om ya?"
Ceklek....
Pintu kamarnya dibuka, dan tampak seorang pria tampan meskipun sudah tidak muda lagi. mendekati Arnetta dengan tersenyum lembut.
"Pagi Net.....sudah baikan sayang?" tanya Rudi penuh kasih sayang.
"Pagi Pa, Netta sudah baik kok....pa kenapa Netta di rumah sakit ya?"
"Kamu tidak ingat semalam?"
"Tidak pa, Netta hanya ingat kepalanya sakit lalu terjatuh habis itu sudah tidak ingat apa-apa lagi" jawab Netta.
Sambil mengusap kepala Arnetta lembut, Rudi bercerita kejadian semalam semuanya kepada Arnetta.
Arnetta mendengarkan cerita Rudi dengan diam dan tertunduk.
"Paa......apa yang harus Netta lakukan?" gumam Arnetta pelan.
"Eeeh....kamu kenapa menangis sayang?" tanya Rudi terkejut.
"Netta bingung sama si om....Netta harus bagaimana Pa?" ujar Arnetta dengan terisak
"Tunggu-tunggu papa bingung ini, gimana maksud Netta?" tanya Rudi sambil menatap menantunya dan mengusap kepala Arnetta sehingga tenang kembali.
"Cerita ke papa pelan-pelan hmm....."
"Arnetta tau perceraian itu sangat salah, semua agamapun melarang adanya perceraian, tetapi dengan masa lalu si om ....Arnetta gak bisa setiap waktu merasa cemas, sudah berapa kali mau dibunuh, ini baru satu wanita dari masa lalu si om----entah habis ini akan ada lagi tidak"
"Netta ingin bahagia dan hidup tenang pa....Netta tahu hidup rumah tangga itu tidak mudah apalagi kita berdua juga disibukkan perusahaan jadi butuh sebuah kepercayaan antar kita, terapi kalau seperti ini Netta gak bisa mempertahankan pernikahan ini karena susah mempercayainya" ujar Netta sambil menundukkan kepala.
Rudi menghela nafas panjang, memang anak bulenya itu memang cassanova gemblung, dari dulu kagak pernah ndengerin bapaknya ngomong, naah sekarang saat dia sudah tobat dan bucin habis sama bininya, masa lalunya membuat rumah tangganya hancur.
"Katakan dengan jujur sama papa, apakah Netta bahagia menikah dengan si bule gemblung itu?"
Sambil menggelengkan kepalanya sambil berkata "Nggak pa....setelah Netta sadar dari koma sampai sekarang ini Netta berusaha mencintai si om dan berusaha menerima segala polahnya yang bener-bener aneh, absurd dan menyebalkan itu-----tapi susah pah"
"Terlebih setelah tahu masa lalu si om, ya kali Netta yang masih orisinil gini dapat bekasan banyak cewek" (buseeet etdah pake orisinil segala loe Net kek sepatu aje loe *Author POV)
"Mungkin itu sebabnya Arnetta melupakan si Om padahal yang lainnya Netta masih ingat, karena sudah terluka dan kecewa sama si om Pa" jelas Arnetta panjang lebar.
"Tapi paa....Netta tidak buta hati dan mata, selama berapa bulan hidup bersamanya, Netta tahu om mesum sangat mencintai Netta dengan tulus dan banyak penyesalan dari dirinya, bahkan setiap hari serasa lebaran mulu pa sama si om" ujar Arnetta membuat Rudi memicingkan matanya.
"Kok lebaran sich Net?"
"Laa minta maaf mulu pa....khan kaya lebaran meminta maaf atas segala kekhilafan" ujar Arnetta sambil nyengir.
"Ooooo....oke lanjut"
"Sampe dimana ye tadi Netta ngomongnya?" monolog Arnetta sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aaah....iya, bener kata orang jaman dulu berkata Tresno jalaran soko kulino (Cinta ada karena terbiasa) dan itu kelihatannya terjadi sama Netta, mungkin Netta minta cerai itu karena marah, sedih dan nggak suka ada yang suka sama si om....Netta gak bisa bobo sendiri sekarang ini, pa....Netta kelihatannya gila dech baru kali ini Netta bingung sama pikiran dan hati Netta" keluh Arnetta frustasi.
Rudi tersenyum lebar, meskipun semua ucapan menantunya mbulet kusut seperti benang ruwet, terapi Rudi memahami jalan pikiran anak gadis yang masih berusia 15tahun yang belum paham dan mengenali perasaannya sendiri.
"Papa mulai paham maksud Netta, meskipun omongan Netta muter-muter tapi intinya rasa cemburunya Netta masih mendominasi sehingga Netta takut untuk mencintai J, papa tahu si bule buluk itu sejak menikah denganmu dia sudah tobat untuk tidak melihat wanita lain, karena dia sungguh-sungguh mencintaimu"
"Berbagai cara dia pakai untuk menggerakkan sikap dinginmu, berusaha membuatmu cemburu---- tetapi semua gagal pada saat itu pandangan dan hatimu hanya mengarah ke Chris, sehingga dia salah mengambil tindakan dengan memperkosamu dengan maksud supaya kamu hamil dan tidak meninggalkannya"
"Perbuatan J memang tidak termaafkan papa tahu itu, tetapi percayalah suamimu sangat mencintaimu dan belajar memperbaiki semuanya....berilah dia kesempatan Net, beranilah mencintai J papa yakin dia tidak akan menyakitimu karena tidak ada wanita lain selain dirimu dihatinya" ujar Rudi.
Belum sempat Arnetta menjawab tiba-tiba hp nya Julian berbunyi dan nampak nama Edi Gudel di hp
Julian membuka pintu, belum sempat Julian bertanya si Arnetta sudah duluan nyerocos
"Ada telepon dari om Edi....lama banget sich mandinya? bokeerrr yah?"
Dengan tersenyum dan mengacak rambut Arnetta Julian segera mengangkat telepon Edi, sedangkan Arnetta segera kembali duduk disamping Rudi sambil makan bubur dari rumah sakit.
"Nett....berangkat dulu yah, kata dokter sudah boleh pulang, tapi mending pulang sore aja ntar aku jemput" ujar Julian
"Netta jam 10 harus rapat memperkenalkan supplier baru Netta om"
"Badanmu sudah enakan hmm?"
"Udaah...."
"Baiklah nanti Windy kemari membawa baju ganti dan mengantar mu ke kantor" ujar J lalu mencium kening Arnetta lembut.
"Pa J berangkat dulu ya...." pamit J lalu segera bergegas keluar kamar.
"Eeeeh----si om kenapa ya pa? mukanye serius bingits? gak pernah loo dia gitu" tanya Arnetta sambil menatap polah Julian yang tenang gak aneh seperti biasa.
"Kelihatannya ada masalah di perusahaan, dia memang gitu kalau ada masalah, jadi serius mukanya" ujar Rudi menjawab pertanyaan Arnetta.
.
.
.
.
Di mobil Edi menunjukkan laporan dan keadaan perusahaan pagi ini.
"Kamu sudah hubungi Akp Igbal untuk menyelidiki pelaku pengiriman paket ini?"
"Sudah tuan muda....kelihatannya pelaku pengirim paket ini juga sama dengan pelaku yang menyebabkan nilai saham kita anjlok dan yang berusaha menyerang server kita tuan" terang Edi sambil menjalankan mobil.
Edi kemudian terheran melihat tuan mudanya hanya diam sambil menatap kosong ke jendela di samping tempat duduknya.
"J.....loe baekan?Nyonya baik-baik saja kan?" tanya Edi, tetapi Julian tetap terdiam.
Edi yang melihat atasan dan sahabatnya hanya diam saja, hanya bisa membiarkan saja karena siapa sich nggak puyeng masalah datang bertubi-tubi menimpanya....masalah dengan istrinya belum kelar eh datang masalah diperusahaan dimana mendapat paket berisi bangkai tikus dengan surat ancaman, lalu serangan server ke perusahaan oleh hacker hebat, ditambah turunnya saham perusahaan secara drastis sehingga hari ini dia harus menghadapi para pemegang saham di rapat hari ini.
Julian didampingi oleh Edi segera menyusun dan menyiapkan rencana dan berkas-berkas untuk rapat jam 10 nanti, dan Julian segera meminta bantuan sahabatnya yang seorang hacker no 1 yang terkenal dengan nama stalion untuk menyerang balik dan melindungi supaya data-data perusahaan dicurinya.
Setelah semuanya siap, Julian segera masuk ke ruang rapat diikuti para pemegang saham. Rapat yang menurut Julian sangat menguras tenaga dan pikirannya karena untuk mempertahankan posisi dan kestabilan perusahaan dia harus berusaha meyakinkan para pemegang saham dengan perencanaan matang yang dia susun dalam waktu singkat selama di mobil dan setibanya di kantor tadi.
Setelah 4jam rapat yang berjalan alot akhirnya selesai dimana akhirnya Julian bisa meyakinkan para pemegang saham dengan meminta waktu untuk menyelesaikan permasalahan perusahaan.
Julian segera duduk lemas di kursi panjang di ruangannya untuk melepaskan penat punggung dan kakinya.
"Istirahatlah dulu J biar Mirna belikan makan siangmu dan minum teh hangat dulu" usul Edi
"Kamu juga istirahat dulu Ed" perintah Julian.
"Iya...." sahut Edi kemudian meninggalkan Julian.
Baru 10 menit Julian berbaring tiba-tiba terdengar pintunya diketuk
"Masuk Mir!!" seru Julian.
"Tuan muda ada yang mau berjumpa dengan anda" ujar Mirna dengan sopan.
"Suruh masuk Mir" jawab Julian kemudian segera bangun dan berjalan menuju kursi di meja kerjanya.
Tak lama kemudian masuklah pengacaranya Johan dan Betrand pengacara Arnetta, Julian merasa tidak enak.
"Selamat sore tuan Saputra" ujar mereka bersamaan.
Betrand segera menyodorkan berkas kepada Julian sambil berkata "Sesuai permintaan Nona Sinaga, perceraian kalian sudah berjalan lancar, tinggal anda berikan tanda tangan, maka secara resmi pengadilan agama negara kita" terang Betrand yang langsung to the point tanpa basa-basi sesuai dengan kebiasaan dirinya.
Julian menatap berkas itu dengan tatapan nanar dan terdiam.
...***...
...TBC...
...Apakah Julian akan menceraikan Arnetta?...
...Hayo tebakπππ...