The Girl Inside Me

The Girl Inside Me
Episode 20 Mulai Terkuak



Beberapa Jam Sebelumnya


Julian segera naik mobil dimana asisten setianya sudah menunggu di dalam mobil, dan segera membacakan jadwal hari ini, tetapi baru lima menit meninggalkan rumah, tiba-tiba terdengar suara dering telepon punya Edi, sehingga Edi segera mengangkatnya dan berbicara serius.


Setelah selesai menelpon


"Tuan muda apakah anda berbuat ulah yang menyebabkan nyonya muda nekat mau bunuh diri?" tanya Edi sambil menatap penuh curiga ke arah Julian.


"Apaaaaa???!!!!!...Nggak mungkinlah istriku bunuh diri, istriku itu wanita terkuat yang pernah aku temui" seru Julian terkejut.


"Laa nyatanya ini masuk di televisi loo ....yakin anda tidak melakukan perbuatan yang membuat nona muda ketakutan dan ingin melakukan bunuh diri?" tanya Edi kekeuh mencurigai Julian.


Julian berusaha mengingat apakah dia sudah berkata dan berbuat yang membuat Arnetta sakit hati dan terluka, tetapi Julian tetap merasa tidak melakukan sesuatu hal yang menyakiti istrinya.


"Kamu itu nggak percayaan banget sich sama bosnya sendiri, mau aku pecat HAAh?!!!.....buruan ngebut ke Sinaga Corp!!" bentak Julian sewot.


"Aku tahu ya memperlakukan istriku dengan penuh kasih sayang, nggak akan menyakiti dirinya lagi, nyium dia aja juga penuh perasaan Ed" sambung Julian


"Andaaaa menciumnya?????!!!! apakah anda lupa bahwa anda pernah memperkosa nyonya sampai nyonya selalu ketakutan melihat anda?" seru Edi sambil menatap bosnya nggak percaya atas kebodohan bosnya ini.


"Tapikan Arnetta yang sekarangkan lupa kejadian yang lalu, Ed" ujar Julian dengan watados.


"Memorinya memang ndak bisa ingat tapi tubuhnya pasti ingat, jika anda mencium dirinya pasti bagaikan pemicu untuk mengingat kembali kejadian mengerikan itu....apakah anda tidak bisa berpikir dulu sebelum dikuasai nafsu anda!" ujar Edi penuh emosi sambil berusaha menahan diri untuk tidak memukuli bosnya ini.


Mendengar ucapan Edi membuat Julian memucat, tidak pernah dia berpikir sampai kesana "Buruaaan ngebuuut Edd !!!!" teriak Julian panik


"Kalo sudah gini panik dah, tadi nyosooor wae...." omel Edi sambil menambah kecepatan mobilnya menuju Sinaga Corp.


Kembali ke Sinaga Corp


Sambil nyengir lebar Arnetta segera berjalan menuju pria tampan yang masih ngos-ngosan berlari dan menatap dirinya penuh kemarahan.


"Loe kok ngos-ngosan kenapa?" tanya Arnetta dengan watados.


Greeep...... tiba-tiba tubuh kecil Arnetta dipeluk pria tersebut.


"Kalo mau sok jagoan jangan membahayakan dirimu sendiri kenapa sich" ujar pria tampan tersebut dengan suara bergetar.


"Tahukah kamu...aku sangat ketakutan, takut kehilangan kamu, cukup kemarin kamu koma itu!" ujarnya lagi sambil memeluk tubuh Arnetta sangat erat.


"Engap Chris.....lepasin dulu yaah" ujar Arnetta sambil meronta minta dilepas Chris karena pelukan Chris membuatnya sesak nafas.


"Sudah tahu Akrofibia ( ketakutan ekstrem terhadap ketinggian) sok jagoan duduk di pinggir tembok rooftop....blaa....blaa...." omel Christian panjang kali lebar kali tinggi kepada Arnetta.


"Bukannya sok jagoan Chris, tapi kalo gue nggak gitu maka akan menyebabkan perusahaan ini terkena masalah...."


"Lihatlah gue baik-baik sajakan? jangan terlalu khawatir hmm....nanti cepet tua loo" bujuk Arnetta sambil memasang puppy eyes dan jangan lupa senyuman maut ala-ala Arnetta yang selalu menganggap dirinya jelmaan Nana after School.



Dasar Christian yang sudah dari sononya bucin akut dengan Arnetta, tidak bisa lama-lama marah dengannya, akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang dan mengusap kepala Arnetta lembut.


Saat Christian mau membuka mulut tiba-tiba tubuhnya didorong menjauh dari Arnetta oleh satu-satunya pria yang dia benci, yes siapa lagi kalo bukan si Julian yang sayangnya saat ini menyandang status suami dari wanita yang Christian cintai.


"Net....kamu baik-baik sajakan? kalau aku ada salah tolong maafin aku ya, jangan ambil keputusan untuk bunuh diri" cerocos Julian sambil meneliti tubuh Arnetta dari atas sampe bawah.


Plaaaak......


"Saakiit Net....kok aku dipukul sih" tanya Julian bingung karena dipukul lengannya oleh Arnetta.


"Habis om itu suka banget bener....bener-bener ngawur maksud Netta, siapa juga yang mau bunuh diri, noh itu dia yang mau bunuh diri om" ujar Arnetta sambil menunjuk Nania yang sedang berbicara dengan Mike dan dr. Sienni dengan dagunya.


Julian yang mendengar itu langsung melototin Edi yang juga ngos-ngosan dibelakangnya.


"Dasar Edi Gudel kalo kasih info kagak pernah sempurna, pasti dech adaaa saja yang salah" sembur Julian yang ditanggapi Edi dengan cengir kudanya.


Belum puas Julian mengomeli Edi, Julian segera mendatangi Nania


"Nona kalau mau bunuh diri jangan membahayakan istri saya ken....uuh...uhh" belum selesai Julian mengeluarkan semburan api naganya sudah dibungkam oleh Arnetta.


"Ooooom nggak usah macam-macam yah, Netta sudah susah payah mencegah dia untuk tidak bunuh diri" bisik Arnetta meskipun lirih tetapi penuh ancaman membuat Julian cemberut dan terpaksa diam.


"Nona Nania nggak usah dengerin omongan suami Netta yah, maklum baru PMS" bujuk Arnetta karena melihat Nania ketakutan melihat Julian yang dipenuhi aura Thanos.( buseeet looe Net suamimu laki wooiii🙈 masak PMS *author POV)


"Mike bawa nona Nania ke ruanganku ya, mau aku periksa" ujar Arnetta kepada Mike.


Tanpa menghiraukan Julian, Arnetta segera melewati Julian mengikuti Mike dan Nania karena masih jengkel dengan Julian.


"Nett....." panggil Julian.


"Neettt!!!" seru Julian sambil mengejar dan menarik lengan Arnetta.


"Apaan siich om? Neettt...Net, emang Netta klakson di Odonk-odonk" omel Netta.


"Yaelah Net, masak suami ditinggal dan dicuekin" rajuk Julian.


"Oom Julian yang katanya tampan dan baik hati...bukannya kemarin bilang hari ini ada rapat pagi, ini sudah jam berapa om?" ujar Netta nggak habis pikir sama suaminya,' emangnya kalo sudah seusia si om sudah mulai pikun yah?' batin Netta sambil bergidik ngeri membayangkan dirinya kelak kaya gitu.


"Ooo iya, ya udah aku ke kantor dulu ya sayang" pamit Julian lalu mencuri cium sekilas bibir Netta membuat Netta melotot dengan muka memerah dan segera berlari meninggalkan Julian menutupi malu.


"Dasaaar oom Mesoeem" umpat Netta.


"Napa loe lihat-lihat? iri yeee? " ejek Julian dengan tatapan sinis ke Christian.


"Sialaaan!!!"


.


.


.


.


Setelah Netta memeriksa kondisi kulit Nandia, segera Netta berusaha meramu cream pengobatan yang tepat buatnya.


Tiba-tiba Chris dan Mike berlari masuk ke lab pribadi milik Netta


"Nett.....gawat sistem server kita mendapatkan serangan, tim kita kewalahan bagaimana inih?" lapor Christian.


"Netta segera mengecek permainan hacker penyerang, dan segera memerintahkan tindakan pencegahan, sambil dia menelpon Julian


"Kenapa sayang sudah kangen? maka...." belum selesai Julian ngomong sudah disela Netta


"Om tolong bantuin Netta beberapa sistem server kita diserang, saat ini Netta dan tim cuman bisa bertahan, bisakah tim om membantu Netta" ujar Netta seriys


"Tim aku langsung membantu, kemari lah aku ajarin cara memakai teknologi yang aku ciptakan" ujar Julian yang kembali serius.


"Baik om, segera meluncur" ujar Netta yang segera menelpon Windy untuk menuju kantor Julian.


"Chris kamu tetap disini pantau tim kita, aku mau memasang kan pengamanan buat server usaha kita ya"


"Hati-hati ya Net" ujar Christian lalu kembali serius membantu timnya untuk defense.


.


.


.


Saat Netta sampai dikantor Julian segera menelpon Julian


"Oom....Netta sudah sampai"


"Okee tunggu 15 menit lagi ya, aku selesaikan rapat ini sebentar" ujar Julian


"Okee, aku tunggu yah" ujar Netta segera menuju ke ruangan kantor Julian.


Saat membuka pintu tampak tante Dinding memakai lingerie tipis berwarna merah sibuk menata beberapa lauk makan siang di meja.


Saat mendengar pintu terbuka, si tante langsung memasang muka bahagia. tetapi sedetik kemudian langsung berubah dengan muka marah


"Ngapain loe kemari?loe kan paling gak mau ke ruang kantornya Julian....tapi nggak papa sich sekarang malah loe tau bahwa setiap siang suami loe gue servis memuaskan" ujar tante dondong.


Alih-alih Arnetta cemburu dan marah melihat kehadiran dan ucapannya, bahkan dengan tenang duduk di kursi dan mulai makan makanan yang terhidang.


"Makasih yah, sudah membantu gue melayani suamiku....tapi tante dondong bukankah kemaren mama bilang loe baru hamil, tapi itu perut kenapa tetep terlihat rata dan beberapa tanda kehamilan kagak kelihatan, kalo nipu yang pinteran dikit napa bikin Netta males tau musuhnya gak imbang banget" ujar Netta tenang.


"Oooo loe tahu gue hamil??....syukur dech loe tahu jadi aku gak usah capek-capek bercerita dan segeralah loe urus surat cerai inih, bukankah loe sudah tanda tangan sebelum loe kecelakaan, Julian gak berani ngurus karena kasihan ama loe yang habis koma"


"Oooo iya tanda-tanda kehamilan jelas saja belum terlihat orang baru 5minggu, katanya dokter kok bego" ejek Tante Dondong.


"Gue berani mempertaruhkan kredibilitas gue sebagai dr kalo kita buktikan memakai USG, gue yakin 100% loe kagak hamil" ujar Arnetta sambil berjalan mendekat penuh dengan aura intimidasi membuat nyali Tante dondong menciut.


Tetapi tiba-tiba dia berteriak "Ju....dia mau membunuh anak kita....tolong!!!" teriaknya histeris.


Arnetta hanya bisa mengusap dadanya sambil merapal "Sabar-sabar Netta, musuhnya sudah tante-tante oonnya gak sembuh-sembuh"


"Heh tante...loe nuduh gue melakukan tindakan kriminal? ayo kita buktikan dengan cctv kantor ini, jika benar aku melakukan itu aku siap di penjara, tetapi apabila terjadi sebaliknya siap-siap kamu aku penjarakan"


"Ju...kamu percayakan padaku? rajuk Tante dondong sambil memeluk lengan Julian.


"Lepaskan Hana....." ujar Julian sambil menarik tangannya dan mendorong tubuh Tante dondong menjauh.


"Om Edi tunjukan cctv ruang ini!!" seru Arnetta dingin.


"Baik Nyonya" ujar Edi kemudian menyalakan rekaman cctv.


"Tidak usah menyalakan Ed...aku mau segera ke pengacaraku....awas kamu j***g!!! oiyaaa segera proses ke pengadilan...ingat itu" ujar Tante Dondong yang segera bergegas keluar meninggalkan ruang kantor Julian sambil menyambar tas dan jas untuk menutupi tubuhnya.


Sepeninggal Hana, Arnetta menatap Julian dengan tajam


"Om....jadi cowok yang gentlemen dikit napa? gak baik mempermainkan hati dua orang wanita" ujar Arnetta dingin lalu beranjak menyambar tas dan berkas di meja


"Kita bertemu di pengadilan, jangan khawatir perceraian kita akan berjalan dengan cepat"


"Nettt.....dengerin duluuu!!!!" ujar Julian sambil berlari memeluk tubuh Arnetta dari belakang.


Tetapi tubuh Julian segera ditarik dan dibanting oleh Netta di lantai dan segera meninggalkan Julian dengan pandangan terluka dan kecewa



...*TBC*...