The Girl Inside Me

The Girl Inside Me
Episode 23 Acara Balas Dendam Gadis Barbar



Cahaya matahari dengan malu-malu mulai menyusupi celah-celah kecil dari balik korden di jendela kamar Julian mengusik mata terpejam dari mata indahnya Arnetta, membuat mata indah tersebut secara perlahan tapi pasti mulai terbuka.


Pada saat mata Arnetta terbuka pertama yang terlihat adalah ceruk leher dari seorang pria yang berapa bulan ini memang selalu tidur bersamanya tetapi tidak pernah sedekat dan seintim dengan dirinya seperti ini, membuat Arnetta menelan ludahnya dan sialnya lagi jantung Arnetta berdebar kencang.


Tidak dapat Arnetta pungkiri bahwa suaminya ini sangat tampan, meskipun dengan rambut yang berantakan dan jambangnya sudah mulai tumbuh menghiasi wajahnya.


Tetapi saat ingatan Arnetta mulai menyeruak menyadarkan dirinya bahwa pria ini telah menghancurkan hidup Arnetta dewasa dan menghancurkan hati Arnetta yang berusia 15 tahun ini, membuat Arnetta ingin menendangnya sampai ke Afrika untuk bermain bersama Timon temannya Pumba di film Lion King.


Untung saja otak cerdasnya saat ini sedang dominan sehingga Arnetta bisa menahan dirinya untuk tidak mengumbar emosinya, dan mulai menyusun tindakan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Perlahan Arnetta melepas tangan Julian yang memeluk erat tubuhnya supaya tidak terbangun, setelah berhasil Arnetta segera menuju kamar mandi sambil memijat kepalanya yang masih terasa pengar akibat pengaruh alkohol tadi malam.


Setelah badan terasa segar setelah mandi cepat dengan air hangat, Arnetta mulai merasa mual dan kepala terasa cenut-cenut, segera dia membrosing makanan apa untuk menghilangkan pengarnya ini.


Setelah menemukan, segera dia beranjak ke dapur dan mulai memasaknya, selama memasak Arnetta mengomel-ngomel kesal terhadap Julian, bahkan untuk melampiaskan emosinya saat memotong bahan dia lakukan dengan tenaga full sehingga dapur berisik di pagi hari.


"Pak...sana tenangkan nyonya muda, ngeri banget kalo nyonya baru marah" bujuk para ART di rumah Julian yang tidak berani mendekat ke Arnetta hanya mengintip di pintu dapur.


"Gak mauu....aku masih mau hidup panjang, terlebih ini aku baru nungguin kelahiran cucu ketigaku" elak pak Lukman.


"Mbak Win....sana bujukin Nyonya"


"Gak mau juga....aku belum nikah ya, itu pisau kalau tiba-tiba melayang mengenaiku gimana coba?" jawab Windy sambil bergidik ngeri.


"Udah biarin saja, kalo seorang istri sedang mode macan gini, jangan digangguin dech, biar suaminya yang membujuknya" ujar pak Lukman sambil mengeloyor pergi meninggalkan dapur diikuti para ART lainnya yang ngeri melihat aura senggol bacok dari nyonya mereka.


Setelah berkutat memasak, akhirnya sup pereda pengar yang bernama Kongnamul Guk ( sup paling sederhana yang bisa dibuat siapa saja di rumah, sebab bahan-bahan yang diperlukan juga tidak banyak. Hanya tauge, bawang putih, daun bawang, telur ceplok garam dan air.Β )selesai.



Dengan segera Arnetta menyantapnya dengan semangkuk nasi putih.


"Aaah sedapnya masakan ini" ujar Arnetta memuji masakannya sendiri dengan tersenyum geli sendiri karena kenarsisannya.


Setelah selesai, segera Arnetta membereskan semuanya dan segera menuju ke taman belakang sambil memberi makan ikan koinya.


Melihat nyonya muda sudah selesai makan, para ART dipimpin Wina segera ke dapur untuk menata masakan Arnetta dimeja makan seperti hari-hari biasanya.


Tetapi mereka dibuat terkejut karena ternyata Arnetta hanya memasak makanan hanya untuk dirinya sendiri, boro-boro untuk semua pegawai di rumahnya, untuk suaminya sendiripun tidak di masakin.


"Waaaah nyonya memang baru ngambek sama tuan muda ini, sampe nasipun tidak di masakin" ujar Wina sambil tersenyum miris diikuti para ART lainnya.


Dengan segera Wina meracik masakan dibantu yang lainnya untuk menyiapkan sarapan untuk tuan muda mereka.


Julian terbangun dengan panik saat melihat istrinya sudah tidak ada disampingnya, segera dia mengambil hpnya dan melihat ternyata istrinya baru duduk di pinggir kolam ikan di kebun belakang, membuatnya dia tersenyum lega.



Bantal disampingnya masih tercium aroma parfum dari istrinya membuat senyum Julian semakin merekah, terlebih mengingat semalam bisa tidur memeluk istrinya dan mendengar pengakuan perasaan Arnetta kepada dirinya


"Terimakasih Tuhan ternyata istrikupun merasakan apa yang aku rasakan" ujar Julian sambil berguling-guling kesenangan.


"Hihihi indahnya jatuh cinta....hari ini mau ngapain yah sama Netta sayangku" gumam Julian lebay (bucin....bucin *author pov πŸ˜”πŸ™ˆ)


Julian segera meloncat bangun dan segera mandi dan berganti pakaian untuk bersiap kerja, saat akan menyisir rambutnya tiba-tiba Julian mengingat bahwa istrinya lebih suka model rambutnya yang acak-acakan gini dibandingkan rambut dia sisir klimis rapi.



Setelah merasa sudah siap, segera Julian segera keluar dari kamarnya sambil bersiul-siul bahagia, Julian segera menuju ruang makan. Melihat hidangan sarapan yang disajikan hanya berupa roti, salad, sosis dan susu membuat keningnya berkerut heran.



"Maaf tuan, hanya ini yang bisa saya sajikan secara cepat" ujar Wina penuh penyesalan


"Loo nyonya tidak memasak? apakah nyonya belum sarapan juga?" cerocos Julian


"Nyonya hanya memasak untuk dirinya sendiri tuan, dan beliau sudah selesai makan sejak tadi pagi jam 5.30 tuan" jelas Wina lagi.


"Nyonya sedang marah tuan, tuan harus bersabar ya, coba tuan bujuk dengan lembut....beliau ada di taman"


"Didalam rumah tangga pertengkaran kecil bakal sering terjadi, kita sebagai kepala rumah tangga harus sabar dan tidak terbawa emosi tuan sehingga rumah tangga kita semakin kuat dan adem ayem tuan" ujar pak Lukman mengingatkan Julian.


"Iya pak, tenang saja kali ini rumah tanggaku akan semakin kuat terlebih Netta ternyata juga sayang sama aku, makanya dia marah sama si dondong" ucapan Julian dengan tersenyum lebar dan segera makan dengan cepat dan segera menemui istrinya.


"Pagi Nett....kok belum ganti baju untuk berangkat ke kantor, masih pusing ya?"tanya Julian tetapi tidak ditanggapi oleh Arnetta.


"Ya sudah kalau masih pusing dirumah saja, nanti kalo kepingin sesuatu bisa suruhan Windy atau wa aku yah" ujar Julian sambil tersenyum melihat wajah Arnetta kalau sedang ngambek terlihat menggemaskan.


"Aku berangkat kerja dulu ya" pamit Julian yang mau mengecup kening Arnetta tetapi dengan cepat kepala Arnetta ditarik ke belakang sehingga Julian hanya mencium angin.


"Mbak Windy!!!!" teriak Arnetta.


"Yaaaa Nyooonyaa!!" jawab Windy tidak kalah kerasnya sambil berlari menuju Arnetta. (sejak Arnetta sekarang yang hobi banget treak-treak para asistennya juga ikutan, membuat rumah Julian sekarang ramai dan hidup)


"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Windy dengan nafas ngos-ngosan.


"Mbak kemarin gimana caranya si om nemuin Netta? padahal Netta sudah mengelabuhi bodyguard bayangan si om loo" tanya Arnetta penasaran.


"Laa...nyonya tidak tau ya? sejak Nyonya sadar itu tuan memakaikan kalung di nyonya, kalung itu bisa memberitahukan ke tuan jika nyonya sedang dalam bahaya karena bisa mendeteksi dari detak jantung nyonya muda, selain itu kita bisa melacak posisi nyonya, dan ada chip kameranya juga, jadi nyonya akan selalu aman" terang Windy dengan tersenyum lebar


'Dasar om mesum menyebalkan, kalau begitu gak bisa kabur dong' omel Arnetta dalam hati tetapi kemudian tersenyum lebar.


"Mbak Windy beliin kelinci dong"


"Kelinci? Nyonya mau buat sate?" tanya Windy terheran.


"Yaaaa jangan di sate mbak, kelinci gendut lucu pasti menyenangkan bila bermain disini, kebun belakang terlalu sepi nggak ada yang bisa Netta ajak bermain" ucap Arnetta sambil memasang wajah sedih ala-ala artis sinetron warga +62, membuat Windy merasa iba.


"Kenapa tidak anjing nyonya?"


"Kaya gak kenal wataknya si om mesum, rumah berantakan dikit saja sudah riweh setengah mati, apalagi ntar ada puppies lari kesana kemari, dan bisa masuk ke dalam rumah....gak usah membangunkan si raja ngomel mbak!!" ujar Arnetta dengan mulut mengerucut membuat Windy meringis.


"Baiklah nyonya, biar saya suruh si Memet beliin kelinci ya nyonya....dua saja cukupkan nyonya?" tanya Windy lagi.


"Satu saja yang jantan dan yang jenis Rex yang mbk Windy, bukan kelinci biasa ya" ujar Arnetta.


"Baik nyonya muda" jawab Windy patuh lalu segera mencari di mbah Google kelinci Rex itu dijual dimana.


Beruntung penjual kelinci tersebut tidak jauh dari rumah mereka karena cuman di daerah Jagakarsa, segera Windy memberikan alamat ke Memet untuk membelikan.



Selang berapa lama Memet membawa seekor kelinci jantan berjenis Rex, berwarna coklat, putih dan coklat.


"Nyonya ini kelincinya, jantan dan gendut" ujar Memet dengan sopan.


"Waa lucunya si J" seru Arnetta langsung mengambil kelinci gendut tersebut.


"CJ namanya nyonya?"tanya Windy.


"Bukan....tapi si Je bukan Ce dan Je mbak" terang Arnetta lalu menggendongnya masuk ke dalam rumah.


"Bukankah tuan muda itu panggilannya J ya nyonya?" gumam Windy lirih tapi cukup terdengar ditelinganya Arnetta.


"Emang....tuanmu kan kaya kelinci, anaknya dimana-mana, ceweknya dimana-mana" ujar Arnetta ketus membuat Windy dan Memet saling pandang tetapi tidak berani berkomentar, ya kali mereka berani bisa-bisa mereka langsung dipecat saat itu juga terlebih nyonya mudanya emosinya masih labil.


Saat Arnetta membawa si J ke kamar, Windy kembali bertanya


"Nyonya kok dibawa ke kamar, nanti bau loo"


"Cuman bentar....nanti disemprot minyak wangi, tenang aja mbk" jawab Arnetta langsung menutup pintu.


"Sudahlah Win....asal nyonya senang biarkan saja, lagipula tuan nanti tidak bakal berani marah, percaya dech" ujar Lukman dengan tersenyum.


"Hehehehe....iya ya tuankan bucin akut sama nyonya sekarang"


"Gimana gak bucin, nyonya muda itu sangat cantik, terlebih nyonya sekarang itu sangat menyenangkan tidak dingin dan tanpa ekspresi seperti dahulu." ujar Memet ikutan berkomentar.


Tanpa setau para asistennya Arnetta dikamar sedang menyusun rencana untuk kabur dari rumah, terlebih sepagi tadi dia taman belakang dia sudah mengamati kondisi disana dan menemukan celah yang tidak terdapat cctv dan itu tempat para ART membuang sampah dari dapur ke luar rumah dan laundry keluar dimana sudah akan diambil truk sampah dan truk pengambil laundry seragam para ART.


Setelah persiapan matang, segera Arnetta keluar kamar melalui ruang kerja Julian yang memang jadi satu dengan kamar tidur mereka dan tidak ada cctv, setelah itu masuk melalui lorong yang terhubung ke belakang rumah. Lorong tersebut dibuat dengan tujuan disaat kondisi darurat bisa dipakai untuk bisa menyelamatkan diri.


Setelah berhasil keluar, Arnetta segera berlari menuju jalan besar untuk mencari taksi. Tetapi yang Arnetta lupakan adalah jalan besar tersebut jarang dilewati taksi dan kendaraan umum.


Sambil mengomel-ngomel Arnetta mulai kebingungan harus kemana, hp saja tidak dia bawa karena takut terlacak suaminya, mau kembali lagi kerumah rasanya males banget karena jarak rumah Julian ke jalan besar ini cukup jauh.


Akhirnya Arnetta terduduk di bangku pinggir jalan sambil mengacak-acak rambutnya kesal.


Disaat Arnetta sibuk kebingungan tanpa Arnetta sadari sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam sudah berhenti di depannya dan tampak seorang pria tampan berpakaian jas rapi khas seorang CEO perusahaan datang mendekati Arnetta.


"Neeetttt.....kamu ngapain disini?" tanya pria tersebut dengan suara bassnya membuat Arnetta terjingkat dan menengadahkan kepala dan menatap pria didepannya sambil tersenyum kaku


"Eeeeh si om......" gumam Arnetta lirih sambil meringis.


...*TBC*...


...Ooooo.....ketahuan kabur nggak ya itu? Hayooo tebak😁...