
"Kenapa si kunyuk nggak angkat telpon sich, tuli apa yah?" umpat Julian lalu melepas earpiecenya dengan kesal, lalu segera memacu mobilnya menuju apartemen Richard.
Saat sampai, mobil Julian dicegat sama beberapa security hotel, saat melihat pengendara mobilnya adalah Julian.
"Apa maksud kalian aku tidak boleh masuk kemari? aku cuman perlu menemui dokter Richard Mathews....coba dech kalian telpon Richard, saya Julian Saputra temannya" ujar Julian berusaha sabar dan tidak marah karena dilarang keras untuk masuk.
"Mohon maaf tuan, tetapi anda memang tidak diperbolehkan masuk kemari, mohon anda segera meninggalkan tempat ini" ujar kepala security dengan hormat.
"Emang salah saya apa woiii??!!! saya tidak pernah kenal ataupun bermasalah dengan pihak pemilik Apartemen ini!!" seru Julian mulai naik satu oktaf.
"Maafkan kami tuan muda, tetapi kami mohon tuan segera pergi dan tidak membuat keributan disini, karena kami hanya menjalankan tugas kami"
"Memang adalagi yang dilarang kemari? atau jangan hanya aku saja?!!" tanya Julian sambil memicingkan matanya curiga.
"Ada beberapa tuan, silahkan anda pergi tuan, apabila anda punya urusan dengan dokter Mathews anda bisa menghubungi beliau untuk janjian bertemu"
Ucapan kepala security membuat Julian marah, tetapi tiba-tiba terdengar teleponnya berbunyi, dan tampak di handphonenya tertera nama papanya.
"Hallo Pa!!"
"Buruan pergi dari situ...temui papa di cafe dekat situ" perintah Rudi.
"Yaa pa...." ujar Julian sambil masih sewot sama security yang sok berkuasa itu, kemudian segera meninggalkan apartemen tersebut.
Tak beberapa lama sampailah Julian sampai di cafe milik sahabat papanya, Julian segera masuk ke cafe dengan ogah-ogahan, sambil mencari keberadaan papanya, yang ternyata duduk di pojok cafe yang sudah tidak ada pengunjungnya lagi.
Papa yang masih terlihat tampan diusianya yang matang, malam itu memakai kaos turtle neck dan jas dengan warna abu kebiruan duduk sambil menatap pemandangan kota jakarta di malam hari.
Saat sampai didepan papanya Julian segera menyapa papanya.
"Duduk" ujar Rudi meski lembut tapi terdengar tegas dan tidak terbantahkan.
"Papa malam-malam manggil J mau apa?lalu bagaimana papa tahu J di apartemen dekat cafe ini?" tanya Julian to the point
Tuuuuk....
"Dasar anak bodoh!!! kamu pikir papa nggak tau masalah yang sedang kamu hadapi!" seru Rudi sambil memukul kepala Julian dengan sendok kecil untuk mengaduk kopinya.
"Aduuuduuh pa!!! sakiit" erang Julian sambil mengusap keningnya yang diketok sama sendok.
"Papa sudah menebak akhir cerita rumah tanggamu bakal seperti ini---lalu kamu malam-malam gini kamu kelayapan menuju apartemen itu mau ngapain? ada simpanan cewek lagi kamu!!" tuduh Rudi dengan ekspresi marah.
"Astagaaaa pa!!! jangan Suudzon dong, punya bini satu saja kabur dan bikin puyeng,-- mau aneh-aneh cari cewek lain" keluh Julian
"Percayalah pa, Julian beneran mencintai Arnetta sepenuh hati gak ada wanita lain" ujar Julian dengan ekspresi sedih.
"J khawatir Netta gak bisa tidur sendiri, dia setiap malam selalu dihantui mimpi buruk, dan kepalanya dirasa sangat sakit, Netta harus dipeluk J baru bisa tidur, karena itu J minta Richie segera menemui Arnetta takutnya Netta pingsan karena kepalanya sakit" terang Julian.
Rudi tersenyum lebar "Naah gitu, seorang suami mempunyai ikatan batin dengan istrinya....kamu sudah benar kamu menuju apartemen itu, karena istrimu memang disitu--- itulah sebabnya kamu dilarang masuk kesana" jelas Rudi.
"Sialaaan jadi Richieee biang keroknya menyembunyikan Netta pasti ada konspirasi dengan si mata sipit itu!!" seru Julian penuh emosi.
Tuuuuk.....
"Awww.....paaa sakiit !!! kenapa J dipukul lagi" omel Julian sambil mengusap jidatnya.
"Bukan Richie dia dan Christian, mereka tidak tau apa-apa, yang menyembunyikan adalah Lucas Jackson.....dia menginginkan istrimu, berhati-hatilah dengannya, menurut papa dia mempunyai sisi gelap yang menakutkan" ujar Rudi dengan muka serius.
"Darimana papa tahu semuanya ini? bahkan orang suruhan J tidak bisa menemukan Arnetta" tanya J kepo.
"Itulah beda Senior dan Junior....makanya J belajar dari papa" ujar Rudi sombong.
'Di iya in ajalah, kalo musuh orang tua daripada dikutuk jadi jambu mete nyahok gue' ujar J dalam hati ya kali berani ngomong beuuuh papanya bisa sehari semalam ceramah tanpa henti...ntar gimana nasib Netta hicks.
"Trus sekarang gimana ini Pa?" tanya Julian dengan pasrah.
Dari arah dapur masuklah sahabat papa pemilik Cafe the Gull ini, yang bernama Indra Salim seorang Chef terkenal memiliki banyak restoran dan dulu pernah menjadi Chef di Istana Brunai Darusalam, mempunyai wajah yang jarang tersenyum dan berperawakan kekar meski usia sudah tidak muda lagi.
"Gimana Rud? anak loe dah siap belum?" tanya Indra lalu melihat penampilan Julian.
"Om Indra apa kabar?" sapa Julian ramah.
"J....gimana sih loe, jaga bini saja kagak becus!! udah buruan ganti baju lalu bantuin om bawa bahan makanan ke apartemen bini kamu" perintah Indra tanpa memperdulikan sapaan Julian membuat Julian tersenyum kecut.
"Pa...maksudnya gimana ini?" tanya Julian bingung.
'Apa mau ya Netta, gue ajak pulang....tadi saja gak mau' keluh Julian dalam hati sambil berganti baju.
Setelah semua siap, Julian mengikuti Indra ke truck makanan milik Indra. Selama di perjalanan Julian di beri pengarahan rencana Indra.
Ketika sampai di gedung apartemen, truck makanan milik Indra segera menuju bagian belakang gedung.
Indra bersama para staf Indra membawa masuk beberapa sayuran, daging dan beberapa bahan masakan.
"Selamat malam Chef....kenapa malam-malam memasukan bahan? biasanya agak sorean" sapa kepala security dengan ramah.
"Gimana mau sorean...bosmu tuuch baru bilang jam 7 tadi kalau besok pagi mau menjamu beberapa tamu penting" omel Indra sambil mengarahkan beberapa staf.
Kepala security hanya bisa nyengir sambil menggaruk tengkuknya, karena sangat paham bos pemilik apartemen mewah ini memang suka seenaknya sendiri.
"Nanti diijinkan beberapa stafku keluar masuk karena malam ini kami akan lembur menyiapkan segalanya" ujar Indra ketus.
"Iya Chef jangan khawatir, asalkan memakai seragam restoran chef, kami bebaskan keluar masuk" jawab kepala security dengan hormat lalu segera meninggalkan Indra bekerja bersama para stafnya.
Melihat kepala security itu pergi, Indra segera menyuruh Julian untuk segera beraksi ke lantai 10 bersama satu pegawai kepercayaan Indra untuk mengawal putra sahabatnya.
Sesampainya di depan pintu apartemen Arnetta Julian menatap bingung karena harus memasukan pasword supaya bisa masuk.
"Buruan tuan muda, cctv lorong ini dan jalur kita hanya sebentar teralihkan" bisik pengawal Indra.
"Iya....sebentar" jawab Julian sambil memencet nomer yang selalu dipake Arnetta dan ternyata memang benar nomer itu yang Arnetta pakai untuk nomer pasword kamarnya.
"Untung kamu memakai nomer ini sayang" gumam Julian, lalu segera masuk ke kamar Arnetta mencari keveradaan istrinya.
Betapa terkejutnya Julian melihat Arnetta yang tergelatak disamping tempat tidur.
"Nettt.....ya ampuun!!! kamu kenapa?" pekik tertahan Julian segera menghambur mendekati Arnetta.
Julian segera mengangkat tubuh Arnetta ke kasur, dan membersihkan darah di hidung Arnetta.
Merasa ada yang mengusap hidungnya, membuat Arnetta mulai tersadar
"Oom....hicks----Netta takut, kepala Netta sakit" ucap Netta lirih membuat Julian segera memeluk tubuh istrinya erat.
"Jangan takut, ada aku disini...kita pulang ya sayang" ajak Julian lembut dan dijawab anggukan Arnetta lemah.
Julian segera membopong tubuh Arnetta ala bridal style lalu membawanya keluar kamar dan menuju lift pegawai yang menuju ke dapur tempat Indra sudah menunggu dengan was-was.
Indra yang melihat Julian menggendong istrinya segera menyuruhnya segera masuk ke dalam truck untuk meninggalkan apartemen menuju rumah sakit.
.
.
.
.
.
Pagi harinya tampak seorang pria membanting semua barang dikamarnya untuk melampiaskan kemarahannya.
"Dasaaar kalian begoo!!!!! bagaimana bisa istri kecilku kabur dan kalian tidak tahu!!!" teriaknya menggelegar sambil menghajar beberapa bodyguardnya dengan tongkat golf sampai para bodyguardnya tersungkur tidak bernyawa bersimbah darah.
"Cek semua cctv baik di dalam apartemen maupun disekitar apartemen" perintah Lucas kepada asisten kepercayaannya.
Yaa...pria sadis itu adalah Lucas Jackson, yang pagi itu baru mau memberikan kejutan untuk Arnetta tetapi dikejutkan dengan lainnya Arnetta dan ditemukan darah dilantai dan beberapa tissue dengan noda darah di kasur Netta, membuatnya panik dan marah atas kecerobohan para bawahannya.
"Baik tuan muda..." jawab asisten kepercayaan Lucas segera mengundurkan diri.
"Tommy....sebelumnya bawa pergi tubuh menjijikan ini dari kamarku dan bersihkan semua darah ini" perintah Lucas lalu segera keluar kamar.
"Sialaaan kamu bangsat!!! berani-beraninya menculik istri kecilku" umpat Lucas tetapi kemudian terbit senyumnya yang membuat Tommy asisten pribadi Lucas bergidik ngeri melihat senyum dari tuan mudanya.
'Duuhh kenapa tuan Julian membangunkan sisi gelap tuan Lucas....salah mencari musuh ini namanya' ujar Tommy dalam hatinya.
...***...
...TBC...
...Bagaimana nasib Netta nantinya yah?😱😱...