
Happy readingπππ
*Aku berusaha untuk tidak berprasangka tapi kau yang memaksaku.......
Apa sebenarnya maumu*??!!!
Raut wajah kesal Jungkook masih terpampang nyata. Aku meliriknya sesaat dan dia mendengus kesal.
Aku duduk berdampingan bersama Jungkook sementara Eunmi duduk di depan kami.
"Mianhae aku tidak tau" ucap Eunmi. Gadis itu terlihat sangat menyesal dengan apa yang barusan terjadi.
Sementara aku sendiri hanya bisa terkekeh.
"Yak.....lain kali ketok pintu dulu sebelum kau masuk kekamar orang lain eoh" kesal Jungkook menyadarkan punggung di kursi sambil menatap tajam Eunmi.
"Mana aku tau kalau kau masih ada di dalam sana. Aku kira kau sudah pulang tadi". Eunmi malah balik menyerang Jungkook.
Mereka terlihat sangat lucu sekarang.
"Mana mungkin aku meninggalkan Soora sendirian dengan kondisi dia yang Masih sakit, sedangkan kau sendiri entah apa yang kau kerjakan di luar sana sampai pulang larut malam" timpal Jungkook tak mau kalah.
"Aisshhh Jinjja apa kau lupa kau sendiri yang menyuruhku untuk menyelesaikan tugas yang harus nya kau yang mengerjakannya" dengus Eunmi.
Tapi entah kenapa setelah mengucapkan kalimat itu Eunmi terlihat gelisah. Dan kulihat Jungkook pun seperti itu. Seakan perkataan Eunmi barusan adalah hal yang tidak boleh aku ketahui.
Aku tersenyum pada mereka. "Jungkook-ah tidak apa-apa. kau tidak perlu marah pada Eunmi. Lagi pula diakan tidak sengaja" ucapku sambil mengelus tangan Jungkook dan seharusnya itu bisa menetralisir suasana yang mulai canggung ini.
"Makanya lain kali jika kalian ingin melakukan itu sebaiknya di apartemen Jungkook saja. Jangan di apartemenku" cebik Eunmi lalu pergi dari sana. Sepertinya dia kesal karna Jungkook terus memojokkannya.
"Eunmi-ah....." teriakku lalu berdiri tapi Jungkook malah menahan tanganku. Aku berbalik, Jungkook mengisyaratkan untuk aku duduk kembali.
"Biar aku Saja" Ucap Jungkook lalu beranjak menemui Eunmi.
Sebenarnya suasana tadi memang sangat awkard.
Saat aku meminta Jungkook untuk menciumku, belum sempat itu terjadi Eunmi tiba-tiba datang dan melihat kami.
Tentu aku sangat malu apalagi sangat terlihat oleh Eunmi posisi Jungkook yang menindihku tapi sebenarnya tidak seperti itu. Tapi aku yakin dari sudut Eunmi pasti terlihat seperti itu.
Pipiku seketika memanas setiap kali mengingat kejadian itu.
Memalukan sekali.
ππππ
Aku sudah bisa kembali bekerja setelah libur 2 hari. Sebenarnya bisa saja aku libur lebih dari 2 hari karna jatah liburku masih banyak tapi aku tidak mau. Mungkin akan aku gunakan saat aku benar-benar perlu dan untuk saat ini aku belum membutuhkannya.
"Yak Soora-ya....." panggil Hara.
"Mwo?" tanyaku.
"Beberapa hari yang lalu namja itu datang lagi" ucapnya sedikit berbisik padahal kami hanya berdua disini tapi seakan dia sangat takut jika ada seseorang yang mendengar pembicaraan kami.
Kami sedang di halte bus omong-omong.
"Nuguya?". Padahal dia tau aku sangat susah mencerna sesuatu yang diberitahukan padaku jika aku sedang sangat lelah.
"Namja yang selalu ingin kau yang melayaninya saat di datang kemari"
Hanya ada satu orang yang seperti itu. Choi Taehyung.
Sejak aku berkencan dengan Jungkook memang dia tidak pernah datang lagi. Aku mengira dia tidak akan datang tapi ternyata dia tetap datang.
Aku sedikit menimbang tentang isi surat yang Taehyung pernah berikan padaku. Apa ini sudah saatnya? Entahlah itu malah membuatku makin bingung.
"Apakah dia mencariku?"
"Tentu saja. Dia bertanya dimana Soora jadi aku menjawab kau sedang sakit" ucap Hara.
Aku terdiam kembali larut dalam pikiranku mengenai Taehyung. Sungguh namja itu tidak dapat di tebak.
"Kau tidak berkencan dengannya kan?"
"Yak Hara-ya...." protesku menatapnya tajam.
"Baguslah karna menurutku Jungkookmu lebih menarik dari namja itu" katanya menyenggol bahuku dengan nada menggodanya.
"Tentu saja. Jungkook itu sempurna dan aku tidak akan pernah membandingkan siapapun dengannya" jawabku sedikit angkuh.
"Arasso....arasso aku bahkan sangat iri padamu karna bisa punya kekasih seperti Jungkook" tutur Hara sambil memegang kedua pipinya.
Aku terkekeh. Benar bukan aku sangat beruntung punya Jungkook.
"Kapan yah Tuhan mengirimkan ku Namja seperti kekasihmu itu?" gumam Hara sambil memandang langit yang mulai gelap.
"Aku yakin pasti di suatu tempat ada seorang namja yang sedang menunggumu" kataku menyemangatinya.
"Aniyo....."
"Nde?"
"Bukan seorang namja tapi sebuah bus" kata Hara menunjuk bus yang bergerak kearah kami.
Hara berdiri lalu menatapku. "Aku duluan yah" Ucapnya sambil melambai padaku dan hilang di balik pintu bus.
Aku tersenyum sebentar sampai bus itu berlalu. Tumben sekali Jungkook terlambat menjemputku. Apa dia sedang ada acara?
Aku mengambil ponselku berniat menghubunginya tapi kuurungkan saat melihat mobil Jungkook. Panjang umur.
Mobil itu berhenti didepanku. Aku tertegun saat Jungkook turun dari mobil dengan setelan jas hitam membalut tubuh atletisnya.
"Kau mau kemana?" tanyaku.
"Bukan aku tapi kita" jawabnya sedikit melirik jam yang berada di tangannya.
"Kita?"
"Ne kajja. Kita bisa terlambat"
Aku mengira Jungkook akan langsung membawaku ke pesta yang dia maksud dengan pakaian kerja. Tapi ternyata dia membawa ku untuk membeli pakaian.
"Aku suka yang warna hitam" ucap Jungkook saat aku berdiri di depannya dengan baju yang entah keberapa yang aku coba.
"Tapi bukankah itu terlalu sexy untukku. Aku agak risih jika menggunakan itu" ucapku.
"Aku suka. Dan menurutku itu tidak terlalu sexy. Kita ambil yang warna hitam" ucap Jungkook lalu beranjak.
Aku membuang napasku berat lalu melihat pantulan diriku di cermin. "Padahal aku lebih suka yang ini" gumamku sambil memutar badanku sedikit.
Baju berwarna merah muda ini sangat cocok di tubuhku. Potongannya juga tidak terlalu terbuka. Aku sangat menyukainya.
"Han Soora....."
Aku menoleh melihat Jungkook. "Ah ne.....chankamman. Aku akan ganti baju dulu" tuturku lalu masuk kembali ke ruang ganti.
Menenteng baju itu, aku menghampiri Jungkook yang sudah berada di meja kasir.
"Kau menyukai baju itu?" tanya Jungkook.
"Ne aku menyukainya. Tapi kau kan lebih suka yang warna hitam ?" kataku datar.
"Jika kau ingin ambil saja. Tapi untuk malam ini kau harus pakai baju yang kupilih" ucapnya terdengar sangat manis tapi tersirat nada memerintah di dalamnya.
Aku tersenyum lalu mengangguk. Setelah puas berbelanja Jungkook mengajakku kesalon.
"Perlukan?" ucapku saat akan masuk kedalam salon.
"Tentu saja. Kau harus tampil sangat cantik nanti" kata Jungkook memegang tanganku membawaku masuk kedalam salon itu.
Aku ingin sekali menolak karna menurutku ini tidak perlu. Aku bisa merias diriku sendiri. Tapi Jungkook tidak menerima penolakan sedikitpun bahkan setiap aku akan protes dia akan menatapku dan itu selalu berhasil membuatku bungkam.
Wajahku sudah selesai di rias. Wanita berparas cantik itu sedang menata rambutku. Dari pantulan cermin aku bisa melihat Jungkook sedang menerima telpon. Dia tersenyum lebar seakan lawan bicara itu membuatnya sangat senang. Entah kenapa aku sangat penasaran kira\-kira siapa lawan bicara Jungkook hingga dia bisa terlihat sangat bahagia.
"Biarkan rambutnya terurai" ucap Jungkook.
"Baik Tuan"
Dan aku hanya bisa diam.
Setelah hampir 30 menit akhirnya semuanya selesai.
Jungkook menatapku dengan tatapan kagum sambil melipat tangannya didada.
"Berputarlah" titahnya yang segera aku laksanakan.
"Wahhhh kau memang sangat cantik" pujinya membuat pipiku memanas.
"Kalian memang pasangan suami istri yang sangat serasi" kata perias sekaligus penata rambutku tadi dengan senyum lebarnya menatapku dan Jungkook bergantian.
Apa yang dikatakannya? Aku dan Jungkook pasangan suami istri? Itu makin membuatku tersipu.
Belum lagi Jungkook yang menghampiriku lalu mengalungkan tanganku di lengannya.
"Tentu saja" kata Jungkook dengan angkuhnya.
ππππ
Entah kenapa aku merasa sedikit tidak nyaman di suasana pesta ini. Aku memilin gaunku sekedar mengalihkan rasa tidak nyaman itu. Sepertinya bukan tidak nyaman tapi justru aku merasa tidak di anggap disini.
Belum lagi Jungkook yang sibuk berbincang dengan beberapa pria berusia dua kali umurnya.
Eunmi juga berada di pesta ini. Awalnya aku bersamanya tapi saat beberapa teman atau entahlah akupun tidak tau, dia mulai mengabaikanku.
Jadilah sekarang aku hanya duduk sambil memperhatikan mereka dari jauh.
Menyebalkan. Lalu untuk apa aku disini? Aku membuang napasku berat beranjak menuju toilet.
Entah perasaanku saja tapi aku merasa ada yang mengikutiku. Tapi saat berbalik aku tidak melihat siapapun.
"Sepertinya memang hanya perasaanku saja" gumamku sambil menggidikkan bahu lalu melanjutkan langkah menuju toilet.
Belum sampai tiga langkah kaki ku berjalan. Seseorang sudah membungkam mulutku. Aku kaget setengah mati. Memberontak mencoba melepaskan diri tapi tenaga orang ini sungguh luar biasa.
Aku yakin dia seorang pria tapi siapa? Apa yang dia inginkan dariku?
Dia menyeretku kesebuah ruangan kosong di tempat itu. Melepaskan tangannya di mulutku. Aku berbalik dan menatapnya.
Sosok itu mengunci pintu lalu menatapku.
Aku membulatkan mata saat melihatnya. Dia lagi.
"Choi Taehyung...." gumamku.
Dia mendekat dan entah kenapa auranya sedikit membuatku tergidik.
"Aku sudah lama mencarimu. Kau kemana saja?" tanyanya dengan nada santainya. Terlihat dari gestur tubuhnya. Dia memasukkan satu tangan di saku celananya.
"Beberapa hari ini aku sakit" jawabku datar.
"Sakit apa?"
"Apa itu penting bagimu? Dan kenapa kau membawaku kemari? Apa maumu?" ucapku menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
"Bukankah sudah kukatakan aku akan datang saat waktunya sudah tepat" jawabnya dengan nada yang sangat menyeramkan di pendengaranku.
"Maksudmu?"
"Sekarang adalah waktunya Han Soora"
Pria itu mendekatiku dan refleks aku berjalan mundur menghindarinya. Hingga punggungku bertabrakan dengan tembok membuatku tak bisa bergerak lagi.
Kulihat Taehyung mengeluarkan sebuah cutter dari dalam saku celananya.
"Yak Choi Taehyung......" ucapku memperingatinya untuk tidak mendekat.
Tubuhku mulai bergetar. Sungguh aku sangat takut sekarang. Segala pikiran negatif sudah bersarang di otakku seiring dengan Taehyung yang makin dekat denganku.
Aku mencoba melepaskan diri tapi Taehyung sudah menggenggam tanganku dan menghempaskan tubuhku kearah tembok tadi.
Sakit. Punggungku terasa sangat sakit. Aku terduduk sambil menatap Taehyung.
Aku berharap ada yang datang. Aku tidak ingin mati sekarang.
"Diamlah agar ini tidak terlalu sakit"
TBC...........
**Taehyung omoπ±π±π±π±
Bagaimana nasib Soora selanjutnya???? Mari menebak\-nebakπππ
Ok see u next chapπππ
By Raraπππ**