The Games

The Games
Chapter 2



Happy reading๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


*Setelah sekian lama akhirnya kita bertemu tapi entah kenapa kali ini jantungku berdebar kencang saat melihatmu......


Katakan apakah aku jatuh cinta padamu*????


Jungkook memberiku dan Eunmi segelas Jus. Pandanganku terus tertuju padanya.


Aku benar-benar pangling melihathya. Jungkook mengambil tempat duduk di sampingku.


"Bagaimana kabarmu Soora?" tanya Jungkook menatapku. Aku tersenyum lebar padanya. "Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja"


"Dia berbohong" timpal Eunmi di belakangku. Aku berbalik menatapnya sambil mengerucutkan bibirku.


"Aku bertemu dia di sebuah cafe. Dia bekerja disana". Ya ampun gadis ini.


"Soora jadi kau benar-benar tidak melajutkan pendidikanmu?" tanya Jungkook. Sungguh aku sangat benci jika seperti ini. Aku benci jika mereka tau bagaimana kehidupanku.


Tapi mau bagaimana aku sudah seperti pencuri yang tertangkap basah. Lagipula mungkin ini sebuah jalan agar aku tidak merasa sendiri lagi. Setidaknya sekarang aku punya tempat untuk berbagi.


Aku mengangguk pelan sambil menunduk.


"Ne.......kalian kan tau persis bagaimana keadaanku" jawabku lesu.


"Apakah Halmoni masih me___"


"Ani...... Dia sudah berubah dan aku mohon bisakah kita tidak usah membahas ini sekarang. Aku sedang bahagia bisa bertemu kalian lagi tapi kalian malah mengingatkanku pada hal itu" kataku memotong ucapan Jungkook. Aku mengerucutkan bibirku tanda merajuk.


Oh ayolah aku ingin bahagia sebentar saja sebelum aku pulang.


"Baiklah baiklah. Kau benar seharusnya kita merayakan pertemuan kita. Otte?" tanya Jungkook sambil mengelus rambutku. Dia manis sekali.


"Aku setuju....." kata Eunmi dengan antusiasnya.


"Aku akan memasak didalam" lanjut Eunmi lalu beranjak.


"Aku bantu yah?" kataku menawarkan diri untuk membantunya.


"Andwe.....yang ada dapur Jungkook bisa hancur jika kau ikut membantuku" kata Eunmi menghentikan langkahku.


"Kau jahat sekali" gerutuku.


"Diam saja disana. Dan mungkin Jungkook belum puas melepas rindu denganmu" goda Eunmi sambil menaik turunkan alisnya.


Jungkook tiba-tiba menarikku dalam dekapannya. "Tentu saja aku kan sangat merindukan gadis kecil kita ini"


Oh Ya Tuhan. Kenapa jantungku jadi berdebar begini.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jungkook sambil mencubit gemas hidungku.


Aku kegalapan. "tidak....aku tidak apa-apa"


Jungkook tersenyum lalu melepaskan rangkulannya padaku. "Jadi kau berkerja jadi pelayan cafe?" tanya Jungkook memulai pembicaraan.


"Ne" jawab ku singkat.


"Kenapa kau harus bekerja sekeras itu. Kau hanya membiayai hidupmu sendiri kan?"


Jika saja seperti itu. Harta yang di tinggalkan orang tuaku juga cukup. Bahkan aku bisa melanjutkan kuliah sampai mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun halmoni yang berkuasa atas semua itu. Kadang dia juga mengambil sebagian gajiku.


"Ne.....kau benar"


"Lalu kenapa kau sampai memaksakan dirimu bekerja seperti ini?"


Aku membuang napasku berat lalu menatapnya. "Karna aku ingin pergi dari rumah itu"


Jungkook terdiam dan kulihat dia menelan salivanya berat. Aku tidak bisa membaca ekspresinya. Entah dia terkejut atau entahlah aku tidak tau.


"Aku ingin bebas. Itulah sebabnya aku bekerja keras untuk mendapatkan uang" lanjutku.


"Aku akan membantumu"


"Nde?.....". Aku menggeleng sambil tersenyum fake. "Aniyo.....aku bisa menghadapinya"


"Tapi____"


"Aku akan datang jika butuh bantuanmu" ucapku membuat Jungkook tersenyum tipis.


Dia mengusap rambutku lembut. Aku begitu menikmatinya rasanya seperti kau sangat di sayangi. "Datang saja kapanpun kau mau. Arasso"


Aku mengangguk lemah sebagai jawaban.




Setelah makan malam Jungkook mengantarku pulang. Dalam perjalanan kami banyak bercerita. Bukan kami tapi lebih tepatnya Jungkook yang banyak bercerita tentang kehidupannya sejak kami berpisah.



Jungkook bercerita tentang dunia kampusnya. Dan sesuai yang telah di rencanakan Jungkook dan Eunmi satu kampus.



"Pasti akan sangat seru jika kau juga bersama kami" ucap Jungkook tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.



Hatiku sedikit berdenyut saat mendengarnya.



Aku tidak berbohong. Aku iri pada Eunmi dan Jungkook yang bisa melajutkan mimpinya. Sementara aku.



Menyedihkan.



Aku melambaikan tangan saat Mobil Jungkook mulai pergi menjauh dari hadapanku. Aku tersenyum kecut sambil melangkahkan kakiku masuk kedalam rumah halmoni. Kata\-kata Jungkook masih terngiang di kepalaku.



Cklek.....



"Akhirnya kau pulang juga". Kalimat pertama yang aku dengar saat membuka pintu.



Aku melihat di sana ada halmoni, Yunaa gadis menyebalkan dan seorang Namja yang tidak aku kenal siapa.



"Kemarilah" ucap halmoni memanggilku. Entah kenapa perasaanku tidak enak tapi aku tetap mengikuti perintahnya untuk duduk di sampingnya.



"Ada apa?" tanyaku pelan sambil mengeluarkan tasku lalu menaruhnya di samping.


"Rumah orang tuamu sudah halmoni jual pada Tuan Song" kata Halmoni sambil tersenyum.



"MWO???!!!"



Apa\-apaan ini? Aku tidak pernah berniat menjual rumah mendiang orang tuaku.



"Yak Han Soora pelankan suaramu" bentak halmoni namun masih dengan nada suara yang lembut.



"Halmoni.....aku tidak mau menjual rumah itu" kataku tak setuju.


"Waeyo?" tanya Yunaa. Aku menatapnya tajam.



"Rumah itu milik ku dan aku tidak akan menjualnya sampai kapanpun" ucapku tegas.



Halmoni menyandarkan tubuhnya di sofa lalu tersenyum. "Walaupun kau tidak setuju halmoni sudah menjualnya. Kami tidak butuh persetujuan darimu"



Aku mengepalkan tanganku kuat. Kenapa mereka selalu saja mengambil hak milikku. Mataku mulai panas, dadaku pun terasa sangat sesak.



"Kalau begitu saya permisi Nyonya Han. Besok saya dan keluarga saya akan pindah kerumah itu" ucap Namja bernama tuan Song itu.


"Andwee......" pekikku.


"Han Soora..."



Halmoni kembali membentakku.



"Aniyo halmoni......sudah cukup kalian mengambil semua hakku. Tapi aku tidak akan tinggal diam jika itu menyangkut rumah orang tuaku"



Kulihat halmoni memberi tanda pada Yunaa untuk membawa Tuan Song keluar dari rumah itu. Entah apa yang mereka akan lakukan padaku sekarang.



Plak.......



Satu tamparan mendarat sempurna di pipiku. Cukup aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku menatapnya dengan linangan air mata.



"Kau berniat mempermalukan halmoni eoh?" bentaknya.


"Tapi rumah itu\_\_\_\_"


"Sudah cukup.....Yunaa akan segera masuk ke perguruan tinggi. Halmoni butuh uang untuk itu"



Dadaku makin sesak. Jadi ini untuk Yunaa. Air mataku makin mengucur deras.



"Ne...."



Luar biasa. Lalu aku apa? Kenapa Yunaa, selalu Yunaa.



Aku menyambar tasku lalu berjalan keluar dari rumah itu. Tidak peduli dengan teriakkan mereka yang memanggilku.



Aku berlari secepat yang aku bisa hingga aku merasa lelah dan berakhir di sebuah taman.



Aku menangis sejadi\-jadinya. Kenapa halmoni tidak pernah adil? Bahkan sekalipun itu milikku dia akan memberikannya pada Yunaa.



Aku berteriak sebisaku menyalurkan semua sesak yang semakin membuat napasku tercekat.



"Kau disini rupanya"



Seketika aku kaget saat mendengar seseorang bersuara di belakangku. Aku menoleh. Lee Jungkook.



"Kenapa kau lari?"



Aku masih menatapnya. "Seharusnya kau tinggal dan mempertahankan semua hakmu" lanjutnya.



Kenapa dia bisa tau? Bukankah tadi Jungkook sudah pulang. Aku ingin bersuara tapi suaraku rasanya tidak bisa keluar.



Aku menunduk lalu menangis kembali. Perasaanku sekarang benar\-benar kacau.



Kurasakan Jungkook membawa tubuhku kedalam pelukannya.



"Apakah mereka selalu memperlakukanmu seperti ini?". Aku mengangguk lemah dalam pelukannya. Aku sudah tidak tahan lagi. Rasanya aku ingin mati saja menyusul kedua orang tuaku.



Jungkook melonggarkan pelukannya lalu meraup kedua pipiku. Dia menyapu air mataku lembut sambil menggeleng pelan.



"Berhenti menangis.....". Ucapan lembutnya begitu menghipnotisku hingga aku berhenti menangis. Tapi aku masih segukan kecil dan itu malah mengundang kekehannya.



"Kenapa kau malah tertawa?" tanyaku masih segukan.


"Kau lucu sekali. Menggemaskan" ucap Jungkook mencubit pipiku.



Aku mengerucutkan bibir. Aku sedang sedih tapi dia malah menggodaku. Menyebalkan.



"Aku sedang sedih Jungkook\-ah dan kau malah menertawakanku?" kataku protes.



Seketika dia menghentikan kekehannya. Dia menundukkan kepala. "mianhae.....aku hanya berusaha menghiburmu" katanya begitu menyesal.



Aku ingin tertawa melihatnya seperti itu. Justru dia yang sangat menggemaskan.



"Gwenchana. Arasso" kataku tersenyum tipis.



Jungkook mengangkat kepalanya menatapku. Hening untuk beberapa saat kami saling menatap satu sama lain.



"Bukankah tadi kau sudah pulang?" tanyaku.


"Ne....tapi...." ucapan Jungkook terhenti. Dia merogoh kantong celananya mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah darah.



"....aku lupa memberikanmu ini. Itu sebabnya aku kembali. Dan saat kembali aku malah melihatmu bertengkar dengan halmoni" jelasnya.



Aku malu karna Jungkook melihat itu semua. Dia mengambil tanganku lalu meletakkan kotak merah tadi di tanganku.



"Bukalah" titahnya tersenyum tipis.



Aku pun mulai membuka kotak itu. Aku sedikit terperangah saat melihat apa yang ada didalamnya.



Sebuah gelang dengan ukiran namaku. Jungkook mengambil gelang itu.



"Ulurkan tanganmu"



Aku pun mengulurkan tanganku padanya. Dengan lembut Jungkook memasangkan gelang itu lalu tersenyum kearahku.



"Gumawo" ucapku sambil melihat gelang itu telah melingkar sempurna di tanganku.



"Sama\-sama" balas Jungkook.



Jungkook membawaku kesebuah kursi yang berada di taman itu.



"Tunggu sebentar aku akan membeli kopi. Otte?" .



Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Jungkook berjalan menjauhiku tapi pandanganku tak lepas darinya. Mungkin aku malu karna Jungkook melihat semuanya tapi aku bersyukur karna dia ada disini sekarang bersamaku.



Dia tidak berubah sama sekali selalu menjadi penyemangat dan pendengar terbaik saat aku terpuruk. Dia masih Jungkook yang kukenal 3 tahun lalu. Hanya tubuhnya saja yang berubah karna dia makin dewasa dan juga sangat tampan. Tapi sifatnya masih Jungkook yang dulu.



Apalagi sekarang. Aku benar\-benar berada di titik terendah dalam hidupku tapi dia tetap setia bersamaku.



Mungkin aku yang berubah karna perasaanku padanya bukan lagi perasaan sebagai teman. Tapi ada yang lain.



Dan mungkin itu cinta. Entahlah aku pun tidak tau. Tapi jika itu benar cinta aku tidak ingin Jungkook sampai tau. Aku takut jika dia tau aku mencintainya dia akan menjauhiku.



Aku tidak bisa membayangkan jika Jungkook sampai menjauhi juga. Kepada siapa lagi aku akan berkeluh kesah. Sudah cukup selama ini aku selalu sendirian. Aku tidak akan membiarkan dia pergi lagi.



Jungkook kembali dengan dua cup kopi ditangannya. Dia menyodorkan satu untukku. Aku menerimanya sambil tersenyum tipis.



Dia duduk di sampingku. Jungkook sedikit mengeratkan jaketnya sambil menatap lurus kedepan. Dia menyeruput kopinya sedikit. Akuย  mengikuti pandanganya lurus kedepan.



"Soora\-ya...." panggil Jungkook membuatku menatapnya.


"Ne?"



"Apakah kau mau tinggal bersamaku?"



Tbc........



**Wahhhh gimana perasaan kalian kalo punya temen kayak Jk. Rara aja yang bayangin udah klepek2 guys dia terlalu manis๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜.



Jungkook aku mencintamu sayaang๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜. \(Di gebukin jk stan\)



Ok see u next chap syaang๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


By Rara๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ**