
Happy readingπππ
Jangan lupa tinggalkan jejak guysπ
*Ku kira hanya aku yang kehilangan. Kau bahkan tidak peduli sama sekali......
Lalu kenapa aku harus peduli juga? Kurasa tidak ada alasan lagi....
Aku akan pergi*.....
Aku tersenyum senang saat manager mengumumkan untuk menutup cafe lebih awal.
Katanya dia sedang ada acara keluarga mendadak jadi kami bisa pulang lebih awal hari ini.
Ini belum jam pulang jadi aku bisa kerumah Halmoni dulu sebelum Jungkook menjemputku.
Aku bergegas menuju halte bus. Sebenarnya aku tidak ingin kembali hari ini. Tapi salahkan aku yang takut jika halmoni mencariku. Aku tidak ingin membuat dia khawatir.
Aku juga berniat untuk pamit secara baik-baik padanya. Bagaimanapun juga dia adalah ibu dari ayahku. Aku harus tetap menghormatinya.
Saat sampai disana, aku terdiam di depan pintu. Membuang napas lalu mengetuk beberapa kali.
"Ya tunggu sebentar". Itu suara Yunaa.
Saat membuka pintu dia menatapku lalu melipat tangannya di dada. "Kenapa kau kembali?"
Rasanya ingin sekali aku menamparnya sekarang. Inikah sambutannya padaku?
"Benar....kenapa kau kembali. Aku kira kau sudah pergi atau menyusul orang tuamu ke surga" ucap Halmoni di belakang Yunaa dengan ekspresi yang tidak jauh beda dengan Yunaa.
Aku mengepalkan tanganku. Sebenarnya mereka manusia atau apa?. Aku salah sudah kembali. Mereka sama sekali tidak mengkhawatirkanku. Ya Tuhan.
"Aku kesini untuk mengambil bajuku" jawabku mencoba untuk tidak menangis di depan mereka.
"Ahhhh tidak usah repot-repot kami sudah menyiapkannya" ucap Yunaa lalu menunjuk tas yang kuyakin berisi barang-barangku.
Luar biasa mereka memang berniat mengusirku setelah mengambil semua milikku.
Aku berjalan masuk mengambil tas itu lalu menghampiri Halmoni.
"Aku pergi......" kataku dengan tatapan penuh kebencian padanya.
"Pergilah" ucapnya begitu enteng.
Aku menatap mereka sebelum benar-benar pergi. Dadaku terasa sangat sesak. Sungguh.
Aku menangis sejadi-jadinya. Menatap sendu sungai Han yang terlihat sangat indah di sore hari.
Seperti sedang mengejekku. Aku benci karna tidak bisa berbuat apa-apa disaat mereka menindasku.
Kenapa aku begitu lemah? Kenapa aku tidak bisa melawan? Sialan.
"Bukankah sudah kukatakan untuk menungguku" ucap Seseorang duduk di sampingku.
"Jungkook-ah" gumamku lalu mengusap air mataku kasar.
"Kenapa kau tidak menungguku?" tanya Jungkook lagi sambil menatap sungai Han.
"Aku kembali kerumah halmoni" jawabku lirih.
"Nde? Untuk apa?". Dia terlihat tidak suka.
"Aku pergi mengambil barang-barangku" kataku sambil menunduk karna air mataku kembali mengalir. Ayolah Soora.....kenapa kau begitu lemah?
Jungkook menggenggam tanganku membuatku menatapnya.
Sebelah tangannya dia gunakan untuk menyapu air mataku.
"Apa kau menyesal?"
Aku menggeleng lalu kembali menunduk. "Aku tidak menyesal pergi dari sana. Hanya saja aku tidak menyangka mereka....." aku terkekeh pelan lalu melanjutkan ucapanku.
".....mereka bahkan ingin aku mati....hiks" lirihku.
Jungkook menarikku kedalam pelukannya. Aku malah makin menangis karna dia memelukku.
"Jebal.....jangan pernah berkata seperti itu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi padamu Soora" lirih Jungkook mengeratkan pelukannya.
"Setelah ini aku tidak akan membiarkan apapun atau siapapun melukaimu Soora. Aku janji"
ππππ
Jungkook membuang napasnya pelan sambil menatapku. Sedangkan aku sendiri tak berani menatapnya.
"Soora-ya....uljima" mohon Jungkook. Mungkin dia sudah bosan melihatku menangis. Aku sudah mencoba berhenti tapi tidak bisa. Aku memang sangat cengeng.
"Soora......"
Aku mendongak dan mendapati Eunmi. Gadis itu langsung memelukku.
"Eunmi-ya...." lirihku.
"Sudahlah. Sekarang kau bersama kami saja. Araci" ucap Eunmi mengusap rambutku.
Aku benci menjadi lemah di depan mereka. Aku benci di kasihani. Tapi aku juga tidak bisa berbuat apa tanpa bantuan mereka.
Aku memang benci semua itu tapi aku lebih benci sendirian.
"Aku sudah membeli apatemen di depan apartemenmu. Jadi Soora, kau bisa tinggal bersama ku sekarang" ucap Eunmi tersenyum padaku.
"Baguslah jadi Soora dalam pengawasan kita sekarang" ucap Jungkook.
"Nde?" aku sedikit bingung dengan maksud Jungkook. Dia tekekeh pelan.
"Ya sekarang kau berada dalam pengawasan kami. Tidak akan akan lagi yang menyakitimu mulai sekarang" jelas Jungkook.
"Ne.....Soora\-ya kau tidak perlu memikirkan keluargamu lagi. Sekarang kamilah keluargamu. Arasso" kata Eunmi tersenyum tipis.
"Gumawo. Kalian baik sekali padaku" ucapku terharu.
"Bukankah kita berteman. Dan sekarang kita keluarga" ucap Eunmi kembali memelukku.
Aku tidak tau harus berkata apa, tapi yang pasti kedua temanku ini sungguh baik padaku. Aku tidak bisa membayangkan jika mereka tidak ada.
Mungkin ini yang di katakan takdir saat aku berada di saat paling buruk. Tuhan masih mengirimkan orang baik untuk menjagaku.
Entah dengan cara apa aku bisa membalas mereka tapi pasti aku akan membalas kebaikan mereka padaku.
Ternyata malam itu Eunmi langsung pindah ke apartemen di depan apartemen milik Jungkook.
Aku dan Jungkook membantunya berkemas. Ternyata barang bawaan Eunmi banyak juga. Terlebih perlengkapan dapur. Itu sesuai dengan jurusan yang yang diambilnya. Dia ingin sekali menjadi seorang chef sejak dulu. Dan aku yakin sebentar lagi dia pasti akan bisa mencapai cita-citanya.
"Kau bisa tidur di kamar sebelah. Atau kau ingin tidur bersamaku?" tanya Eunmi setelah aku membantunya mengemas pakaian kedalam lemari.
"Aku akan pakai kamar sebelah saja" ucapku.
Lagipula rasanya tidak enak jika harus satu kamar. Kita pasti punya privasi masing-masing bukan.
"Baiklah" ucap Eunmi.
Dia mengantarku masuk kedalam kamar.
"Aku sudah menyiapkan lemari untuk kau menyimpan pakaianmu" kata Eunmi. Aku melihat lemari itu. Sangat besar. Aku tidak yakin akan menggunakan semuanya.
"Mau kubantu berkemas?"
"Tidak perlu. Lagi pula pakaianku tidak sebanyak pakaianmu" kata terkekeh.
Bagaimana tidak aku sampai kesulitan tadi menata pakaian Eunmi kedalam lemari karna jumlahnya yang sangat banyak.
"Baiklah aku ingin mandi dulu" ucapnya lalu meninggalkanku.
Aku tersenyum melihatnya menghilang di balik pintu. Aku bergegas membereskan pakaianku. Sungguh aku sangat lelah menangis. Kepalaku pun sedikit pusing.
Saat selesai membersihkan diriku aku langsung tidur dan larut dalam alam mimpi.
Aku akan memulai hidupku yang baru tanpa halmoni dan Yunaa lagi. Kuharap aku bisa bahagia.
ππππ
Aku tidak menyangka Taehyung akan kembali ke cafe lagi. Aku sedikit canggung untuk menyapanya tapi temanku mengatakan jika dia ingin aku yang melayaninya.
Aku menelan salivaku berat dan mulai berjalan menuju mejanya.
"Selamat siang Tuan Choi" kataku sedikit bergetar.
"Ahh Han Soora" katanya tersenyum padaku.
"Anda ingin pesan apa?" tanya setenang mungkin.
Taehyung mulai menyebutkan semua pesanannya. Kurasa aku saja yang terlalu parno, dia terlihat seperti pelanggan lainnya. Semuanya normal-normal saja hingga saat dia akan pulang, Taehyung kembali memberiku surat seperti kemarin tapi kali ini dia tidak berkata apa-apa.
Bahkan dia tidak bertanya apakah aku sudah membaca surat yang dia berikan kemarin. Jawabannya tidak.
Aku sedikit penasaran dengan isi surat itu. Seingatku aku tidak pernah bertemu dengan Taehyung sebelumnya. Atau aku yang lupa. Entahlah.
Aku menggeleng cepat lalu kembali pada pekerjaanku sebelum sang manager memberiku sumpah serapah.
Aku tersenyum lebar saat melihat mobil Jungkook sudah berada di depanku.
Dia menggerakkan kepalanya mengisyaratkan aku segera masuk kedalam mobil. Tapi entah karna aku ceroboh atau memang sepatuku yang licin aku terjatuh hingga siku dan lututku terluka.
"Appo....." rintihku.
"Soora\-ya gwenchana" ucap Jungkook sudah berada di depanku.
"Ahhh ne ini hanya luka kecil. Kau tenang saja" ucapku tak ingin membuatnya khawatir. Padahal sungguh ini sangat sakit.
"Aissshhh Jinjja..."
Jungkook menggendongku masuk kedalam mobil. Aku terdiam karna kaget dengan apa yang baru saja dia lakukan padaku.
"Kita harus segera mengobati lukamu"
Itu yang kudengar dan mobil itu pun melaju dengan kecepatan yang lumayan membuatku takut.
"Yak Jungkook\-ah hati\-hati" ucapku memperingati Jungkook.
"Aniyo....nanti lukamu bisa infeksi jika tidak segera di obati" katanya sangat khawatir.
"Salahku juga tidak mempersiapkan kotak P3K di mobilku"
Aku heran kenapa Jungkook terlihat sangat frustasi melihat ku terluka.
"Kau tidak perlu khawatir seperti itu Jungkook\-ah ini hanya luka kecil" ucapku mencoba menenangkannya.
"Luka kecil apanya eoh? Lihat darahnya terus keluar"
Aku melihat lukaku. Ya ampun Jungkook benar darahku terus mengalir. Segera aku merogoh tas mengambil sapu tangan untuk menghentikan pendarahannya.
Aku meringis sedikit saat kain itu menyentuh lukaku.
Saat sampai di apartemen Jungkook kembali menggendongku masuk kedalam apartemen. Tentu aku menolak tapi Jungkook tak menghiraukannya. Aku menyembunyikan wajahku di bahunya.
Aku malu. Sungguh.
"Eunmi\-ya cepat obati luka Soora" titah Jungkook.
Eunmi sedikit terkejut melihatku di gendong oleh Jungkook. Aku menjelaskan semua padanya. Dia hanya menggeleng mengingat betapa cerobohnya aku.
Sementara Jungkook masih mondar mandir sambil sesekali melihat lukaku yang mulai di obati oleh Eunmi.
Namja itu akhirnya duduk di sampingku.
"Apa lukanya parah?" tanya Jungkook pada Eunmi.
"Tidak apa\-apa. Memang akan bengkak dan membiru karna itu bagian tubuh yang paling dekat dengan tulang" jawab Eunmi.
"Tapi tadi dia berdarah terus?" sepertinya Jungkook masih belum puas.
"Jungkook\-ah aku tidak apa\-apa. Jinjja" kataku mengelus lengannya.
"Aku tidak bisa melihatmu terluka Soora" ucapnya menatapku dengan wajah frustasinya.
Aku tersenyum tipis lalu mengusap rambutnya. "Kau begitu khawatir padaku. Gumawo"
Jungkook mengambil tanganku lalu menggenggamnya dengan erat.
"Jangan terluka lagi. Jebal".
Aku mengangguk. Sungguh aku sangat bahagia. Tapi boleh kah aku berharap. Tatapan Jungkook padaku terlihat penuh cinta. Tapi aku tak ingin terlalu berharap juga karna aku takut itu hanya perhatian sebagai teman.
"Hmmmm" Eunmi berdehem membuatku dan Jungkook tersadar.
"Sepertinya aku hanya menjadi obat nyamuk disini".
Aku tersenyum malu. Eunmi berdiri setelah membereskan kotak p3k tadi.
"Kembalilah jika kalian sudah selesai" kata Eunmi lalu kembali ke apartemennya.
Aku meraih Tasku untuk mengambil ponsel. Mataku tiba\-tiba tertuju pada amplop coklat yang di berikan Taehyung padaku. Aku hampir lupa lagi.
Ku keluarkan amplop itu berniat untuk membacanya.
"Apa itu?" tanya Jungkook.
"Entahlah. Seseorang memberikannya padaku. Aku juga baru akan membukanya" jawabku sambil membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat sebuah surat. Aku sedikit membulatkan mataku saat membaca kata\-kata yang tertulis disana.
Jungkook mengambil alih surat yang satu lagi. Dia membukanya dan ternyata isinya sama.
'Tunggulah aku akan datang di saat yang tepat'
Tbc ...........
Jangan lupa voment yah. See u next chap yeorobunππππ
By Raraπππ