The Games

The Games
Chapter 6



Happy reading😘😘😘


Bahagia??? Kau tidak perlu bertanya karna kau lah yang membawanya kembali kedalam hidupku yang menyedihkan ini.........


Aku mengerjabkan mataku beberapa kali untuk memahami arti ucapan Jungkook.


"Soora-ya kau mendengarku bukan?". Jungkook kembali bertanya. Dia melonggarkan pelukannya lalu menatapku intens.


"Jika kau tidak mau aku akan menerimanya" katanya menarik dua sudut bibirnya menampilkan gigi kelincinya yang menggemaskan.


"Kau menyukaiku?" tanyaku memastikan.


"Tepatnya aku mencintaimu"


"Waeyo?(kenapa)" Aku tidak tau kenapa aku malah bertanya seperti itu. Seharusnya aku langsung bisa menjawabnya, bukan malah bertanya.


Tapi aku penasaran apa yang membuat Jungkook menyatakan cinta padaku.


"Aku mencintaimu sejak dulu. Apa kau tidak bisa merasakannya?"


Aku mencoba mencari kebohongan dalam mata itu. Tapi aku tidak menemukannya. Ucapan yang keluar dari mulut Jungkook begitu tulus tanpa cacat sedikitpun.


"Kau kan tau aku bodoh dan tidak peka" jawabku terkekeh dan Jungkookpun begitu.


"Tapi aku mencintai gadis bodoh dan tidak peka ini" ucapnya mengusap pipiku lembut.


Bahagia.


Tentu aku sangat bahagia. Orang yang kucintai ternyata mencintai ku juga. Apa lagi yang kuharapkan?


"Jadi bagaimana? Kau milikku sekarang?" kembali Jungkook bertanya.


Aku mengangguk cepat dan Jungkook menghadiahiku dengan senyuman yang begitu manis.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Sejak saat itu kehidupanku begitu berubah. Setiap hari Jungkook selalu memberiku kejutan yang tak ku sangka-sangka. Hidupku kembali. Kebahagianku kembali.


Seperti saat dia datang ke cafe dan membawa teddy bear yang sangat besar membuat beberapa temanku cemburu, membawaku ketaman hiburan, jalan-jalan di taman ataupun pantai sambil berpegangan tangan, tak ayal juga Jungkook menggendongku seperti anak kecil.


Mungkin terlihat seperti orang kebanyakan saat berkencan tapi menjadikan itu istimewa karna Jungkook adalah namja pertama yang memperlakukan aku seperti ini.


Aku tidak pernah berkencan sebelumnya dalam artian Jungkook adalah pacar pertama dan cinta pertamaku juga.


Dan puncak moment terindah itu adalah malam ini. Jungkook membawaku kesebuah danau. Kami di kelilingi banyak kunang-kunang yang memancarkan sinarnya bagai bintang-bintang di langit.


Bedanya bintang ini bisa dengan mudah ku gapai dan ku berikan pada Jungkook.


"Indah sekali yah...." Gumam Jungkook sambil memandang kearah kunang-kunang yang berkelap-kelip.


"Ne(iya).." jawabku yang tak jauh beda dengannya. Begitu larut dalam keindahan malam ini.


"Kuharap kita selalu bisa melakukan hal yang bisa Membuat kita bahagia Soora-ya..." kata Jungkook.


"Berada di dekatmu sudah membuatku bahagia Jungkook-ah" kataku menatapnya penuh cinta.


Jungkook tersenyum lalu membawaku kedalam dekapannya. Hal yang paling aku sukai saat bisa bersandar di dada bidang milik Jungkook.


"Aku punya hadiah untukmu" ucapnya sambil mengelus rambutku.


"Hadiah apa?" tanyaku mengeratkan pelukanku.


"Kau akan mengetahuinya besok"


"Tidak bisa kah kau beritahu aku malam ini?" tanyaku sedikit merengek.


"Jika aku memberitahumu sekarang itu tidak akan menjadi kejutan"


Aku melepaskan pelukanku lalu menatapnya. "Aku jadi makin penasaran"


"Besok pagi kau akan mengetahuinya"


Aku tidak bisa melihat apa\-apa. Mataku tertutup dengan kain berwarna hitam. Entah kemana Jungkook membawaku.



"Apa masih jauh?" tanyaku saat Jungkook mengarahkanku dengan memegang kedua bahuku.


"Sebentar lagi sampai" jawabnya.



Aku tidak tau memang tempatnya yang jauh atau karna mataku yang tertutup. Tempat yang akan datangi terasa sangat jauh.



Aku mendengar Jungkook seperti sedang membuka pintu. Menuntunku untuk masuk keruangan atau entahlah aku tidak tau.



"Kau siap?" Tanya Jungkook tepat di telingaku.


"Ne \(iya\)" jawabku singkat dan entah kenapa aku merasa gugup.



Penutup mata itu mulai terlepas, aku membuka mataku perlahan dan apa yang kulihat sontak membuatku menutup mulutku.



Pelupuk mataku memanas dan sebentar lagi air mataku akan keluar. Aku melangkah menuju figura besar di depanku.



Saat menyentuhnya sesak didadaku semakin mendesak menjadi air mata.



"Appa\(ayah\)......Eomma\(ibu\)......"lirihku.



"Soora\-ya" panggil Jungkook memelukku dari belakang.



"Kau tidak suka hadiahku? Apa ini membuatmu sedih? Mianhae\(maaf\)" tutur Jungkook sambil meletakkan dagu lancipnya di bahuku.



Aku memegang tangannya yang melingkar di pinggangku.



"Kau mendapatkan kembali rumah ini?" ucapku.


"Ne\(iya\).....dengan sedikit susah payah karna yang Tuan Song awalnya tidak mau menjual rumah ini"


"Lalu?"



Jungkook membuang napas. "Aku membayarnya 2x lipat"



"Nde???!!!\(apa\)"



Aku mencoba melepaskan pelukan Jungkook tapi justru dia makin mengeratkan pelukannya.



"Gwenchana\(tidak apa\-apa\).....rumah ini sangat berarti untukmu bukan?"


"Iya tapi\_\_\_\_"


"Kau bahagia?" ucap Jungkook memotong ucapanku.



Jungkook melepaskan pelukannya lalu menghadapkan tubuhku padanya.


"Kalau begitu kita impas"



Aku mengerutkan kening seakan bertanya apa maksudnya.



"Aku membelikan rumah ini untukmu dan imbalannya aku melihatmu Bahagia. Itu saja sudah cukup untukku"


"Gumawo\(terima kasih\)" ucapku terharu.



Jungkook menghapus sisa air mataku dengan ibu jarinya. "Sama\-sama chagi\-ya\(sayang\). Sekarang jangan menangis lagi. Berikan aku senyum termanismu. Jika tidak aku akan merajuk"



Aku terkekeh melihatnya memanyungkan bibir. "Baiklah......"



"Aku sangat menyukai senyumanmu Soora"



Aku berkeliling melihat rumah itu. Tidak ada yang berubah. Setiap letak benda di dalamnya masih sama.


Apa yang tinggal disini memang tidak mengubahnya? Tapi setelah ku pikir mereka pindah juga belum sebulan jadi mungkin belum sempat untuk mendekor rumah sesuai keinginan mereka.


Tapi aku bersyukur karna barang-barang milik orang tuaku masih utuh.


Aku membuka pintu kamar orang tuaku. Terlintas saat dulu aku sering masuk kemari di pagi hari membangunkan kedua orang tuaku.


Appa bahkan pernah marah karna aku membangunkan mereka pukul 4 pagi. Itu saat pertama kali aku akan masuk kesekolah. Aku begitu bersemangat hingga tidak melihat jam dan langsung membangunkan mereka.


Mengusap lembut tempat tidur, aku membaringkan tubuhku sejenak. Aroma itu masih ada rupanya.


Aku beranjak menuju meja nakas. Disana ada sebuah bingkai foto yang terbalik. Aku mengambil foto itu lalu mengusapnya pelan. Itu fotoku.


Tapi tatapanku teralih kebingkai foto berwarna putih itu.


Ada sedikit noda pada bingkai fotoku. Aku menyentuhnya. "Apa ini darah?" gumamku saat merasakan tekstur dari noda itu. Belum lagi karna berwarna merah jadi aku berfikir itu darah.


"Ada apa?"


Aku sedikit terperanjak saat Jungkook tiba-tiba sudah berada di belakangku.


"Ahh A--ni aniyo(tidak)...." jawabku menurukan bingkai foto itu.


Jungkook mengambil foto itu dari tanganku. "Foto siapa ini?" tanya Jungkook memperhatikan foto itu.


"Itu fotoku saat berusia 5 tahun" jawabku.


"Wah.....ternyata kau sudah cantik sejak kecil yah" ucap Jungkook tanpa mengalihkan pandangannya dari foto itu.


Kurasa pipiku memanas karna ucapan Jungkook. Dia menatapku sambil tersenyum, meletakkan kembali foto itu di meja nakas lalu memegang tanganku.


Kulihat Jungkook sedikit kaget karna menyetuh tanganku yang memegang noda di bingkai foto tadi.


"Kau terluka?"


"Aniyo(tidak)...." kataku menunjuk bingkai foto itu.


"Ada noda di bingkainya tadi lalu aku mengusapnya. Apa itu darah?" tanyaku.


Jungkook kembali mengambil bingkai foto itu lalu memeriksanya. Dia tersenyum kearahku.


"Bukan ini mungkin noda dari binatang yang ada dirumah ini"


"Ahhh kau benar juga. Mana mungkin ini darah" jawabku mengiyakan pernyataannya.


Jungkook memberiku tissu untuk membersihkan tanganku lalu melanjutkan kembali melihat ruangan lain.


Setelah puas memeriksa rumah itu. Aku dan Jungkook kembali ke apartemen tapi sebelum itu Jungkook membeli makanan untuk kami santap saat sampai di apartemen.


Eunmi belum pulang dari kampusnya. Aku juga heran kenapa saat hari minggupun dia sangat sibuk. Jadilah aku di apartemen Jungkook sampai Eunmi pulang.


Kami sedang menikmati makanan sambil menonton tv.


"Kurasa aku akan pindah kerumahku" kataku setelah meneguk soda yang sudah hampir habis itu.


"Apa maksudmu?" tanya Jungkook.


"Yah aku ingin tinggal di rumahku" jawabku santai.


"Andwe(jangan)......aku tidak mengizinkanmu"


Ucapan Jungkook sedikit mengerupsi. "Waeyo?(kenapa)" tanyaku bingung.


"Aku tidak mungkin membiarkanmu tinggal sendirian Soora" ucap Jungkook penuh penekanan.


"Tapi aku tidak mau merepotkan Eunmi dengan tinggal bersamanya" kataku sedikit melawan perkataan Jungkook.


"Apakah Eunmi berkata seperti itu padamu?" tanya Jungkook menatapku tajam.


"Tidak tapi____"


"Jika tidak, kenapa kau ingin pindah eoh?"


"Jungkook-ah...."


Jungkook berdiri tanpa mengalihkan pandangannya dariku.


"Dengarkan aku Soora, aku tidak akan membiarkan mu tinggal sendirian disana. Arasso(mengerti)"


Namja itu meninggalkanku begitu saja. Aku hanya menatapnya sendu. Kini aku paham Jungkook sangat tidak suka jika ada yang melawan kata-katanya. Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk melawannya tapi cara bicaraku mungkin salah hingga dia kembali salah paham.


Aku menghampiri Jungkook yang sedang berada di balkon apartemen sambil menatap kosong kedepan.


"Mianhae(maaf)...." ucapku lembut.


Jungkook tidak bereaksi ataupun menjawab perkataanku. Aku membuang napasku berat, membasahi sedikit bibirku lalu menggengam tangannya.


"Jungkook-ah....."


"Pergilah...." ucap Jungkook melepaskan genggaman tanganku. Aku menatapnya tak percaya. Dadaku sesak mendengar kata-katanya. Jungkook baru saja mengusirku? Apa dia semarah itu hingga dia tidak ingin melihat wajahku lagi?


"Tapi____"


"Pergi Soora" bentak Jungkook sambil menatapku tajam.


Tanpa pikir panjang aku meninggalkannya menuju apartemen Eunmi.


Hatiku berdenyut sakit. Apakah kesalahanku sebesar itu hingga Jungkook sampai membentakku?


Takut.


Aku takut Jungkook akan meninggalkanku hanya karna kebodohanku ini.


Aku terduduk di depan pintu kamarku sambil memeluk lututku sendiri. Menyalahkan diriku karna membuat Jungkook marah lagi.


Kenapa aku begitu bodoh?


Tbc........


**Sisi egois seorang Lee Jungkook guysπŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯. Serem sih kalo Jungkook marah. Berubah 180Β° yah.πŸ˜‚πŸ˜‚


Ok deh see u next chapπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


By RaraπŸ’œπŸ’œπŸ’œ**