
Happy Readingπππ
Typo bertebaran maafkanπππ
*Kadang aku berfikir sosok sempurna sepertimu kenapa bisa mencintaiku????
Sungguh aku sangat beruntung bersamamu*......
Aku menatap keluar jendela kamarku. Sudah hampir 1 minggu setelah kejadian mengerikan itu. Tapi aku masih di selimuti rasa takut yang luar biasa.
"Sudah lebih baik?" tanya Eunmi. Aku tersenyum kearahnya. Dia membawa segelas air dan juga obat yang masih harus aku konsumsi.
"Kurasa begitu" jawabku setelah meneguk habis air itu dengan obat yang dia berikan.
"Hari kau harus kerumah sakit untuk memeriksakan kembali lukamu. Takutnya lukamu itu hanya sembuh di bagian luar" tuturnya mengingatkanku kembali. Aku memang biasa lupa.
"Apa masih terasa sakit saat kau menggerakkannya?" tanya Eunmi.
"Masih tapi sudah tidak terlalu sakit"
"Justru itu kita harus memeriksakannya karna kau masih merasakan sakit"
Aku menggangguk. "Ne arasso(ya baiklah)"
"Dimana Jungkook?" tanyaku lagi. Sudah seharian ini aku tidak melihatnya. Tumben sekali dia tidak mengunjungiku.
"Ada yang harus dia kerjakan di kantor" jawab Eunmi yang kurespon dengan ber oh ria.
"Kau tenang saja dia yang akan tetap mengantarmu kedokter. Dia pacar yang sangat protektif yah?" kata Eunmi sedikit menggodaku.
Aku terkekeh pelan. "Ya begitulah...."
Eunmi menatap keluar jendela lalu membuang napasnya. "Aku sangat bahagia melihat kalian berdua berkencan. Dua sahabatku di satukan dalam ikatan cinta"
Aku mengikuti arah pandang Eunmi. "Aku juga tidak menyangka akan punya hubungan seperti ini dengan Jungkook. Bahkan terpikirkan saja tidak pernah"
"Jungkook sangat mencintaimu Soora dan itu sejak dulu"
Aku menatap Eunmi. "Kau tau?"
"Ne(iya). Dia selalu memberitahuku tentang perasaannya dan bagaimana dia memantapkan hati untuk berani menyatakan cintanya padamu"
"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?"
Dia menatapku lalu tersenyum. "Itu bukan hak ku. Jungkook sendirilah yang harus memberitahumu"
Benar juga apa yang dikatakan Eunmi.
"Dan aku lega akhirnya kalian bersatu. Kau tau Soora di kampus begitu banyak yang menggilai Jungkook tapi dia mengatakan padaku jika tidak ada seorangpun dari mereka yang bisa membuat dia jatuh cinta kecuali dirimu"
Pipiku terasa memanas mendengar penuturan Eunmi. Sungguh aku merasa sangat beruntung dan juga gelisah.
Beruntung karna aku bisa mendapatkan Jungkook tapi juga gelisah jika nanti perasaannya berubah padaku. Tapi aku akan berusaha agar Jungkook tetap berada di sisiku.
"Kuharap kau juga mencintai Jungkook seperti dia mencintaimu Soora-ya" kata Eunmi.
"Ne(iya).....akupun sangat mencintainya Eunmi"
"Haahhhhh aku tidak sabar melihat kalian menikah"
"Mwo?(apa) menikah?" sontak aku membulatkan mataku.
"hmmm.....apa kau tidak ingin menikah dengan Jungkook?" Tanya Eunmi bingung dengan reaksiku.
"Tentu saja aku mau tapi kami masih terlalu muda untuk menikah bukan?" ucapku berfikir realistis. Tidak mungkin kan Jungkook mau menikahiku dalam waktu dekat.
"Tapi bagaimana jika Jungkook melamarmu dalam waktu dekat?"
"Itu tidak mungkin Eunmi-ya" ucapku mengibas-ngibaskan tanganku.
"Apa yang tidak mungkin??"
Aku dan Eunmi langsung mengalihkan pandangan kami kesumber suara.
Itu Jungkook.
Pria itu berjalan kearaku dan Eunmi sambil melipat lengan bajunya lalu melonggarkan sedikit dasinya yang terlihat tidak membuatnya nyaman. Mungkin dasi itu mencengkram leher Jungkook.
"Tugasku sudah selesai sekarang gantian suamimu yang akan merawatmu. Bye Soora" ucap Eunmi lalu berlari kecil. Mungkin dia tau jika aku akan protes dengan ucapannya.
"Yak Kim Eunmi..." pekikku. Dan Jungkook hanya terkekeh pelan.
"Sudahlah biarkan saja. Sekarang kau bersiap-siaplah istriku sayang. Aku akan menunggu diluar" goda Jungkook.
"Yak Lee Jungkook"
Ternyata dia sama saja. Pandai sekali membuatku merasa sangat malu.
Istri Lee Jungkook. Aku tersenyum sendiri memikirkannya. Aku beranjak untuk bersiap-siap kerumah sakit melupakan sejenak khayalan konyolku.
πππ
"Lukanya sudah kering tapi kau jangan bergerak terlalu berlebihan dulu. Apalagi kau masih merasakan sakit bukan?" tanya dokter bermarga Jung itu.
"Ne(iya)..." kataku mengangguk.
Dia memberi obat pada lukaku. "Lukanya juga sudah tidak perlu di perban. Ini akan membantu agar lukanya lebih cepat sembuh"
"Bagaimana dengan bekasnya?"
Aku menatap Jungkook yang tiba-tiba bertanya.
"Tentu luka ini akan berbekas tapi kami punya obat untuk menghilangkannya walaupun mungkin agak lama karna lukanya yang lumayan lebar" jelas sang dokter.
"Ahh arasso(aku mengerti)" Jungkook mengagguk mengerti.
Aku jadi sedikit heran kenapa Jungkook menanyakan hal itu. Memangnya kenapa jika luka ini meninggalkan bekas. Apa Jungkook tidak menyukai jika aku punya bekas luka?
Tidak.
Aku tidak boleh berprasangkan buruk pasti Jungkook punya alasan sendiri.
"Kau tunggu disini, aku akan menebus obatmu dulu" kata Jungkook. Aku mengangguk dan dia segera berlalu menuju apotik untuk menebus obat.
Sementara aku duduk di ruang tunggu.
"Kau baik-baik saja?"
Ucap seseorang di sampingku. Aku terdiam sesaat. Sejak kapan dia duduk di sampingku.
"Ne gwenchana. Waeyo?(ya aku baik-baik saja. Kenapa)" tanyaku meneliti sosok itu.
Aku yakin dia seorang namja(pria). Itu terlihat dari postur tubuhnya yang tegap. Dia memakai masker anti bakteria dan juga kaca mata.
Mungkin dia pasien di rumah sakit ini.
"Sayang sekali" gumamnya menunduk lalu menatapku.
Aku menelan salivaku berat. Bahuku naik turun menatapnya. Aku sangat mengenal mata coklat itu.
"Choi......choi Taehyung" gumamku.
Dia melepas maskernya sesaat lalu tersenyum smrik kearahku.
"AAAKKKKKHHHHHGGGGG........." teriakku sambil menutup mata dan telingaku.
Kenapa dia datang lagi? Aku histeris bukan main. Ketakutan itu kembali lagi.
"Soora-ya......."
Seseorang memanggil namaku. Itu pasti Taehyung. Dia pasti ingin mencelakaiku lagi. Tidak jangan mendekat.
"Soora-ya gwenchana(kau baik-baik saja)" sosok itu memegang pundakku.
"PERGI......PERGI.....JANGAN SAKITI AKU" aku berteriak histeris sambil memukul orang itu agar dia menjauh.
"Yak Han Soora ini aku Jungkook"
Aku mendongak saat mendengar nama itu.
"Jungkook-ah.....hiks" aku langsung menghamburkan pelukan padanya.
"Gwenchana(tidak apa-apa) aku ada disini. Kau sudah aman" ucap Jungkook mengusap punggungku lembut.
"Aku tidak menyangka pria itu akan menemui Soora di rumah sakit?" ucap Eunmi sambil memelukku.
Aku dan Jungkook baru tiba di apatermen dan seketika aku terkena demam karna serangan panik. Belum lagi napasku yang masih belum beraturan.
Jungkook yang sejak tadi mondar mandir kini mendekatiku.
"Soora\-ya....."
Aku menatapnya dengan tatapan senduku. "Maafkan aku...." lirihnya.
"Jungkook\-ah gwenchana\(tidak apa\-apa\) aku akan menjaga Soora. Sebaiknya kau segera bertindak untuk menangkap pria itu" kata Eunmi.
"Dia benar\-benar licik dan sangat pintar. Tapi aku tidak akan membiarkannya lolos kali ini" ucap Jungkook penuh penekanan.
Aku masih larut dalam ketakutanku. Aku memeluk lututku sendiri. Bahkan pelukan dari Eunmi tidak bisa membuatku tenang.
Mata tajam dan juga senyum smrik Taehyung masih terus terlintas dipikiranku.
Jungkook akan beranjak tapi dengan segera aku memegang tangannya.
"Jangan pergi. Kumohon" lirihku. Jujur aku tidak pernah setakut ini.
Aku tidak menatap Jungkook tapi dia mengarahkan daguku menatapnya.
"Kau ingin aku disini?" tanya Jungkook.
"Ne\(ya\).....kumohon jangan pergi Jungkook\-ah hiks". Aku memeluk Jungkook dengan erat masih dengan tangisan senduku.
"Baiklah aku akan disini" jawab Jungkook mengelus punggungku.
"Kau bisa mengurusnya kan?" tanya Jungkook pada Eunmi.
"Ne(ya)....kau jaga saja Soora. Dia lebih membutuhkanmu sekarang" jawab Eunmi.
"Eunmi-ya......" lirihku memanggil Eunmi.
"Mwo?(apa)....."
"Kau jangan pergi. Aku tidak mau kau celaka" kataku memegang tangannya.
"Gwenchana(tidak apa-apa)....aku tidak sendiri Soora kau tidak perlu khawatir" Kata Eunmi tersenyum padaku.
"Tapi____"
"Aniyo(tidak).....aku malah makin khawatir jika tidak menemukan Taehyung secepatnya. Aku tidak mau jika dia sampai mencelakaimu lagi"
"Benar kata Eunmi, Soora. Kita harus segera menemukan Taehyung. Kau tenang saja Eunmi akan di kawal oleh anak buahku"
Walaupun mereka sudah berusaha menjelaskan tapi tetap saja aku sangat takut.
Aku hanya bisa menatap nanar kepergian Eunmi. Aku menunduk merasa sangat bersalah harus melibatkan mereka berdua dalam masalah yang entah aku juga tidak tau kenapa bisa terjadi.
"Aku akan memesan fast food" ucap Jungkook. Aku hanya mengangguk.
Tak butuh waktu lama makanan kami sudah sampai. Jungkook menyuruhku untuk makan walaupun aku tidak berselera. Aku tidak memberitahunya tapi kurasa dia tau.
"Jangan paksakan jika kau tidak bisa memakannya"
Sudah ku katakan dia pasti tau. "Ne(ya)...." kataku menghentikan aktifitas makanku.
Aku sudah lebih tenang sekarang. Jungkook mengajakku untuk menonton tv. Memeriksa dahiku, Jungkook menyuruhku untuk tidur di pahanya.
"Demammu sudah turun. Bagaimana perasaanmu?" tanyanya sambil mengusap rambutku.
Entah kenapa aku sangat suka melihat Jungkook dari arah ini. Rahang tegasnya begitu jelas. Tanganku terulur memegang pipinya.
"Waeyo?(kenapa)" tanya Jungkook menatapku.
"Ani(tidak).....aku hanya ingin menyentuh wajahmu" jawabku masih mengelus pipinya yang ditumbuhi sedikit bulu.
"Kau belum bercukur yah?" tanyaku sambil terkekeh.
Jungkook memegang wajahnya. "Ahh ne. Aku lupa"
"Tapi aku suka" jawabku spontan. Aku tidak bohong aku memang menyukainya.
"Kau pasti akan terlihat dewasa jika punya kumis tipis" kataku tanpa menghentikan aktifitaskan mengelus pipinya.
"Kau mau aku punya kumis dan jambang?"
"Itu akan terlihat keren"
"Baiklah aku akan memanjangkannya sampai disini" jawab Jungkook sambil meletakkan tangannya sebatas dada.
"Yak.......itu malah akan terlihat menyeramkan eoh"
"Bukankah kau menyukainya?"
"Ne(ya) tapi tipis-tipis saja"
Jungkook tertawa lalu menyuruhku untuk bangun.
Dia tiba-tiba mendekatkan pipinya padaku. Menggesek-gesekkannya disana. Sontak aku terperanjat. Itu seperti sebuah aliran listrik yang mengejutkanku.
"Yak Jungkook-ah..." kataku sedikit mendorong tubuhnya untuk menjauh.
"Wae???(kenapa) Bukankah kau suka?"
Pria ini mencoba menghibur atau memang sedang menggodaku.
Jungkook kembali mendekatkan wajahnya tapi kini dia malah mencium bibirku. Bukan hanya mencium Jungkook kembali menggesekkan kumis tipisnya dan jujur saja ada yang berbeda dalam tubuhku saat dia melakukan itu. Tubuhku terasa panas. Aku menarik baju Jungkook untuk memperdalam ciuman kami.
Ya Tuhan sebenarnya apa yang terjadi perasaanku kacau? Aku menginginkan lebih dari ini. Jungkook menatapku dengan napas yang terengah-engah setelah melepaskan tautan kami.
Dia mengusap lembut pipiku hingga kurasakan tangannya turun dan membuka kancing piyama yang kukenakan. Aku menutup mataku.
Jungkook mendekat kearah leherku. Memberiku beberapa kecupan disana. Jantungku berdegub kencang dan rasa panas dalam tubuhku makin memuncak.
"Jungkook-ah....." desahan sialan itu akhirnya keluar.
Saat kurasakan ini semakin gila. Tubuh itu menjauh. Aku membuka mataku dan melihat Jungkook berdiri membelakangiku.
"Jungkook-ah waere?(ada apa)" tanyaku.
"Mianhae(maaf)......" katanya menunduk tapi masih membelakangiku.
"Kenapa kau malah minta maaf ?" tanyaku makin bingung.
Jungkook akhirnya berbalik dan duduk di sampingku. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.
"Maafkan aku Soora tapi aku tidak bisa melakukannya"
Kecewa. Tentu saja aku sangat kecewa. Apakah aku tidak menarik untuknya.
"Waeyo?(kenapa) Apa karna aku sedang sakit dan kau tidak ingin tertular atau justru karna kau tidak menyukai......" aku tidak melanjutkan ucapanku dan malah menatap tubuhku sendiri.
"Bukan seperti itu Soora.......sungguh aku sangat menyukai dan mencintaimu. Justru karna perasaan itu aku tidak bisa melakukannya" kata Jungkook menunduk.
Aku malah makin tidak mengerti apa maksud Jungkook.
Pria itu mendongak dan memegang tanganku. "Aku ingin kita melakukannya saat kita berdua telah menikah" ucap Jungkook.
Dia tersenyum tipis. "Aku tidak ingin ini terjadi tanpa ikatan pernikahan"
Jungkook mengkancing kembali piyamaku yang sudah terbuka pada bagian atasnya.
"Aku ingin ini menjadi moment yang paling indah dalam hidup kita. Kau bisa bersabar kan?"
Aku tidak pernah merasa begitu di hargai. Aku mengusap lembut air mataku yang entah sejak kapan jatuh membanjiri pipiku
"Gwenchana?(kau baik-baik saja) Kenapa kau malah menagis eoh?" ujar Jungkook panik.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya terharu dan merasa sangat di hargai Jungkook-ah. Seharusnya aku tidak bersikap____"
Jungkook mencium bibirku sekilas lalu menggeleng. "Kita hanya terbawa suasana jadi ini bukan salahmu"
Aku tersenyum dan menghamburkan pelukan pada pria yang sangat aku cintai ini.
TBC.........
**Wahhhhhh Jungkook-ahπππ. Kamu sweet bgt sih. Tolong sisa kan satu cwok kayak dia dong di dunia nyataπππ. Rara pen punya satuπ
Ok lah see u next chap guysπππ
By Raraπππ**