The Games

The Games
Chapter 27



Happy reading😘😘😘


*Aku takut sangat takut......


Hingga rasanya lemah sampai ketulangku....


Namun aku tak bisa membayangkan jika aku harus kehilanganmu....


Ternyata itu lebih menakutkan dari apapun*.....


Aku *** tanganku sendiri. Membiarkan angin menerbangkan rambutku. Sampai Beberapa helai mengenai wajahku. Namun aku membiarkannya begitu saja.


Udara semakin dingin namun aku tidak menghiraukannya. Bahkan rasanya tulangkupun akan segera membeku.


"Apa kau yakin akan melakukannya?"


Aku sampai lupa jika ada seseorang yang sedang duduk di sampingku. Memperhatikan kota Seoul yang gemerlap dari atas rooftop rumah sakit.


"Aku tidak punya alasan untuk tidak melakukannya" jawabku.


"Bahkan aku tidak bisa jadi alasan untuk kau tinggal?" tanyanya miris.


Aku menoleh menatapnya. Mata hazel itu menatapku dengan sisa air mata yang entah sejak kapan membasahi pelupuk matanya. Aku pasti akan sangat merindukannya.


"Aku ingin tinggal Tae.....tapi Jungkook lebih berharga dari pada nyawaku sendiri" lirihku mencoba memberinya pengertian.


Namja itu berdiri. "Jungkook???!!! Apa kau tidak bisa sedikit menghargai usaha ku selama ini aku mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkanmu........."


Aku ikut berdiri. Pancaran kemarahan dari matanya terlihat sangat jelas.


"........dan sekarang dengan mudahnya kau mempertaruhkan nyawamu untuk Jung brengsek itu eoh??!!!"


Aku menunduk. "Mianhae(maafkan aku)....."


"Arrrrggghhhhh" teriak Taehyung frustasi.


"Soora-ya jebal(kumohon).....pikirkan sekali lagi. A-aku tidak ingin kehilangan dirimu" kata Taehyung menggenggam kedua tanganku erat.


Tatapan tulus Taehyung semakin membuatku berat untuk mengambil keputusan ini.


Jungkook tertembak di bagian dada. Jantungnya terluka hingga harus dilakukan operasi transplantasi jantung.


Tanpa pikir panjang aku mengajukan diri untuk mendonorkan jantungku. Tentu aku tau resikonya. Itu berarti aku akan tiada. Taehyung yang tak habis pikir aku bisa mengambil keputusan itu pun terus membujukku untuk tidak melakukannya.


Tapi keputusanku sudah bulat, aku melakukan pemeriksaan dan ternyata jantungku cocok untuk Jungkook. Sungguh itu membuatku bahagia namun tak berlangsung lama karna sebuah kenyataan pahit menghantamku semakin membuatku yakin jika ini adalah keputusan terbaik.


Aku mengelus pipi Taehyung. Menghapus air matanya lembut sambil tersenyum.


"Jaga Jungkook untukku. Kau dan dia harus bahagia. Berjanjilah Taehyung. Aku mohon" kataku dengan isakan yang tertahan.


"Soora-ya....."


Taehyung memelukku erat begitupun denganku. Bisa jadi ini adalah pelukan terakhir yang bisa aku rasakan sebelum masuk kedalam ruang operasi.


Aku sudah berganti pakaian untuk operasi. Dengan langkah tertatih aku berbaring di atas tempat tidur di ruang operasi.



Aku menoleh kesebelah kanan. Disana ada Jungkook yang posisinya sama denganku. Aku tersenyum dengan setitik air mata yang jatuh.



"Aku mencintaimu Jungkook. Sangat mencintaimu. Jagalah baik\-baik apa yang sudah kuberikan padamu" lirihku.



Obat bius yang disuntikkan beberapa saat lalu mulai merenggut kesadaranku.



Perlahan aku memejamkan mataku yang mungkin menjadi pejaman mataku untuk terakhir kalinya.



πŸ’œπŸ’œπŸ’œ



Aku tidak tau harus berbuat apa sekarang. Dibawah sana orang yang kucintai sedang menyelamatkan orang yang di cintainya.



Langit malam ini begitu indah seakan sedang mengejekku.



Entah sejak kapan aku bisa mencintai wanita yang harusnya kulindungi. Perasaan itu tumbuh begitu saja seiring dengan aku yang terus bersamanya.



Aku begitu mencintainya namun ternyata itu tidak cukup untuk dia bisa mencintaiku.



Ikatan cinta pertamanya begitu kuat sampai aku pun tak bisa berbuat apa\-apa untuk merobohkannya.



Soora mengajakku untuk menemaninya namun aku menolak. Aku tau dia pasti takut tapi disini aku lebih takut. Aku tidak sanggup harus melihatnya masuk kedalam ruang operasi dan saat dia keluar nanti.....dia......Β 



"Aaarrrgggghhhhhhh........"



Aku bahkan tidak sanggup membayangkannya. Terduduk diatas lantai rooftop, aku menyandarkan kepalaku di besi pembatas yang ada disana. Menangis sendirian tanpa seorangpun mendengarnya.



"Aku tidak punya alasan untuk tetap tinggal Tae. Tidak ada satupun" kata Soora terisak.



Tentu aku makin emosi karna secara tidak langsung dia tidak mengganggapku. Aku melepaskan pelukanku padanya.



Gadis itu menunduk hingga aku menyadari sesuatu.



"Soora\-ya apa yang terjadi padamu??" tanyaku panik saat melihat darah yang mengalir di paha gadis itu.



Dia mendongak menatapku pilu. "Bajingan itu merenggut semuanya Tae. Aku tidak pantas untuk menjadi pendampingmu ataupun Jungkook. Aku tidak pantas.....hiks"



Aku mengangkat tubuhnya turun dari rooftop. Segera aku memanggil dokter untuk menangani Soora.



Duniaku terasa runtuh saat mendengar penuturan dokter di depanku.



"Soora bukan hanya mengalami pelecehan seksual namun organ intimnya terluka parah akibat benda keras yang mungkin di gunakan saat berhubungan" jelas dokter itu.



Mataku beralih ke Soora yang tersenyum lemah kearahku. Gadis itu berbaring di tempat tidur. Aku menghampirinya lalu memegang erat tangannya yang terasa sangat dingin.



"Mianhae\(maaf\).....padahal aku sudah berjanji padamu, tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu namun......" aku terisak. Mencoba mengontrol air mata dan isakanku agar bisa melanjutkan ucapanku.




Soora membalas genggaman tanganku. "Ini bukan salahmu Tae. Semua yang terjadi sudah menjadi takdir yang tak terbantahkan"



"Aakkhhh" gadis itu merintih.



"Soora\-ya..."



"Taehyung\-ah bisakah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Soora masih sedikit meringis.



Aku mengangguk lemah sebagai jawaban. Gadis itu mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih lalu menyerahkannya padaku.



"Berikan surat ini pada Jungkook saat dia telah sembuh total. Apa yang ingin kukatakan padanya ada disana" kata Soora.



Aku menatap sejenak amplop itu lalu kembali menatap Soora.



"Satu lagi........" Soora membuang napas beratnya sebelum melanjutkan kembali ucapannya.



"Maukah kau menemani aku masuk keruang operasi. Aku mohon" pinta Soora lirih.



Tidak.


Aku tidak bisa untuk yang satu itu.



Aku mundur lalu menggeleng kuat. Tanpa berkata apa\-apa aku kembali ke rooftop.



Apa dia ingin aku ikut bersamanya???



Mungkin iya.



Tapi aku telah terikat janji dan aku tak ingin mengingkarinya lagi. Walaupun mungkin aku tak akan pernah hidup bahagia lagi.



Hanya waktu yang bisa menjawabnya.



Operasi itu berjalan dengan lancar. Sekarang hanya tinggal menunggu Jungkook tersadar.


Aku berdiri di depan figura dengan hiasan bunga di pinggirannya.


Hari ini adalah acara pemakaman Han Soora. Aku mendekat dan melihatnya sekali lagi. Berbaring tenang dalam peti mati.


Gaun berwarna putih membalut tubuh Soora dengan sempurna. Kembali air mataku menetes tanpa bisa aku hentikan.


Gadis itu terlihat seperti tertidur. Bahkan terukir senyuman tipis.


'Apa kau sudah bahagia Soora-ya?' tanyaku dalam hati.


Aku yakin dia pasti sudah bahagia. Dia bersama ayah dan ibunya disana. Dan mungkin saja dia juga akan bertemu orang tuaku.


Aku kembali setelah acara selesai. Kembali kerumahku. Melonggarkan sedikit dasiku dan melempar sembarang jas yang membuat tubuhku terasa gerah. Aku duduk di sofa sambil memejamkan mataku.


"Kau jorok sekali Tae"


Aku mendengar suara yang sangat familiar. Namun aku mengacuhkannya. Itu pasti hanya khayalanku saja.


"Yak Choi Taehyung"


Seketika aku membuka mataku lebar. Ternyata aku tidak salah dengar. Aku menatapnya heran sambil mengucek mataku beberapa kali untuk memastikan jika ini bukan mimpi atau mungkin hanya halusinasi.


"Han.....han Soora" gumamku.


"Ne....waeyo?(ya....kenapa) Kau terlihat kaget melihatku?" tanyanya sambil bertolak pinggang.


Apa ini? Aku pasti sudah gila. Ini tidak benar. Aku menampar pipiku kuat.


"Yak Choi Taehyung apa yang kau lakukan eoh?"


"Aniyo(tidak) kau tidak nyata. Aku pasti hanya bermimpi" sanggahku.


"Kau tidak bermimpi Tae.......aku yang ingin menunjukkan diri padamu" ucap Soora sambil tersenyum.


Aku meraih untuk menyentuhnya. Betapa kagetnya saat tanganku melewatinya.


"K-kau...."


"Aku akan menemanimu sampai kau menemukan kebahagianmu Tae"


Apa katanya? Menemaniku sampai aku mendapatkan kebahagianku?


"Aku kasihan padamu karna terus menangis. Aku jadi ikut sedih karna itu eoh" omelnya.


Soora tersenyum. "Jadi biarkan aku terus bersamamu. Ne?(yah)"


Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa. Di lain sisi aku bahagia karna bisa melihat Soora kembali. Namun jika aku membiarkannya bukankah itu malah membuatku semakin menderita karna aku tau sebenarnya dia tidak nyata.


"Aniyo(tidak) Soora-ya......"


"Nde?(apa)"


"Alam kita sudah berbeda. Pergilah dengan tenang aku sudah merelakanmu" ucapku.


Soora makin mengembangkan senyumannya.


"Itu yang ingin aku dengar Taehyung. Kau merelakanku"


Bayangan Soora mendekat kearahku tanpa memudarkan senyumannya. Sekarang kami sudah berhadapan.


Soora menarik tubuhku untuk menyamakan tinggiku dengannya.


Menyatukan bibir kami. Aku melihatnya memejamkan mata. Dan ini terasa sangat nyata. Aku bisa merasakan betapa lembut dan empuknya bibir itu. Hingga aku pun ikut memejamkan mataku membiarkan hal gila itu terjadi begitu saja.


Sejak saat itulah aku bisa melihat Soora yang tidak dilihat oleh orang lain. Dia berkata akan pergi jika Jungkook telah sadar jadilah aku harus bertahan dengannya.


Tapi jujur saja itu malah membuatku bahagia. Walaupun orang lain harus menganggapku gila setidaknya aku bisa bersama Soora beberapa waktu kedepan.


Sekedar menebus waktu yang tak pernah kumiliki selama ini bersamanya.


Walau aku tau jika semua ini semu dan mungkin saja akan membuatku terluka lagi suatu hari.


Tbc .........


Menghampiri ending guys😘😘😘


See u next chapπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


By RaraπŸ’œ