
Happy reading......
*Aku masih sangat ragu untuk percaya padamu.......
Tolong berikan satu alasan agar aku bisa percaya...
Untuk tinggal atau pergi*.....
Aku mengambil air dingin dari dalam kulkas menaruhnya di dalam mangkok besar.
Duduk di depan pria itu, mengompres luka yang berada di beberapa bagian di wajahnya.
Dia menatapku tapi aku tidak terlalu menggubrisnya dan terus melanjutkan aktifitasku untuk mengobatinya. Tepatnya aku sedang mencoba mengendalikan rasa takutku.
"Sudah selesai" ucapku setelah menempel plaster obat pada lukanya.
"Gumawo(terima kasih)" timpalnya.
Aku beranjak untuk menyimpan mangkok dan membereskan kotak p3k tadi.
Tidak bisa ku pungkiri, aku bersyukur Taehyung kembali seperti yang dia katakan. Setidaknya dia menepati janjinya padaku.
Jujur aku sangat kasihan padanya saat itu. Luka bekas pukulan di beberapa bagian wajah dan tubuhnya, belum lagi dengan keadaan tubuhnya yang basah padahal tidak ada hujan. Aku hanya berfikir mungkin saat dia berkelahi dia terjatuh kedalam sungai atau sejenisnya. Entahlah yang terpenting dia selamat tanpa luka tembak tentunya.
"Kau tidak usah berusaha untuk memasak. Aku tau kau tidak bisa" kata Taehyung berdiri di pintu dapur.
"Siapa bilang aku akan memasak, aku hanya ingin membuat ramen" sarkahku sambil mengerucutkan bibirku. Tapi dari mana dia tau jika aku tidak bisa memasak? Apa dia memata-mataiku?
Aku bahkan bukan artis tapi kenapa semua orang yang jumpai mengetahui semua tentang diriku.
"Makanlah aku hanya bisa membuat ini" kataku menyodorkan kotak ramen itu.
Aku duduk di sebuah sofa yang berada disana sambil menikmati ramenku. Taehyung duduk di sebelahku.
"Gweachana?(tidak apa-apa)"
"Hmmm?"
"Tidak apa-apakan aku duduk disini?"
Aku hanya mengangguk karna mulutku penuh dengan ramen. Kenapa dia harus bertanya, rumah ini kan miliknya. Kurasa, aku juga belum bertanya perihal rumah ini.
Rumah dengan gaya rumah Korea jaman dulu di bagian luar namun bagian dalamnya sudah sangat modern. Dengan perabotan yang sangat lengkap.
"Aku hanya khawatir kau masih takut padaku" kata Taehyung lalu menyantap ramennya.
"Aku memang masih takut padamu" jawabku cepat.
"Ckkk sudah kuduga" respon Taehyung.
Tidak ada lagi suara, kami larut dalam fikiran masing-masing sambil menyantap ramen itu hingga habis.
"Soora-ya....."panggil Taehyung saat aku akan beranjak.
"Ne?(apa)"
"Aku sudah mempersiapkan baju untukmu di dalam kamar sebelah kanan, kurasa kau butuh mandi......." ucapnya berdiri lalu mendekat kearahku.
".......karna kau sudah sangat bau" aku membulatkan mataku seketika. Menatapnya tajam.
"Yak Choi Taehyung. Kau ingin mati eoh?" kesalku dan dia hanya tertawa lalu berlari dari hadapanku sebelum aku melayangkan satu pukulan padanya.
Aku mengejarnya dengan membawa bantal sofa. Aku melempar bantal itu padanya namun meleset dan itu membuat Taehyung tertawa. Dia menjulurkan lidahnya mengejekku.
Aksi kejar-kejaran itu masih berlanjut. Hingga kami akhirnya menyerah karna lelah.
Tunggu???
Apa yang baru saja aku lakukan?
Aku menatap Taehyung yang masih tertawa namun dia hentikan ketika melihatku menatapnya. Aku tak berkata apa-apa dan berlalu dari sana untuk mandi.
Sejak kapan aku jadi sangat dekat dengannya?
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku menghampiri Taehyung.
Aku refleks mundur saat melihat apa yang Taehyung pegang saat ini.
"APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN BENDA ITU EOH??!!!!" teriakku.
"Jangan takut Soora......ini\_\_\_\_"
Belum sempat aku mendengar apa Yang dikatakan Taehyung aku langsung berlari masuk kedalam kamar. Menguncinya dari dalam.
Aku duduk sambil memeluk lututku di sebelah tempat tidur. Apa yang di fikiran Taehyung? Kenapa dia memiliki senjata api seperti itu? Siapa dia sebenarnya?
Segala fikiran negatif bersarang dalam otakku. Bagaimana jika dia ingin membunuhku dengan senjata itu? Berarti dia sama saja atau mungkin lebih berbahaya dari Jungkook.
Tok.....tok....tok.....
"Soora\-ya...."
"PERGIIII??!!!!" teriakku.
"Dengarkan aku dulu. Aku mohon" teriak Taehyung.
"ANIYOO......JEBAL PALLI KA???!!!!\(tidak....cepat pergi aku mohon\)" teriakku makin histeris dengan air mata yang mulai tumpah.
Aku memeluk lututku erat. Aku selalu diselimuti rasa takut yang luar biasa. Lalu bagaimana caranya aku menenangkan diriku sendiri?
Cklek......
Pintu terbuka membuatku mendongak, melihat Taehyung mendekat.
Aku menatapnya dengan rasa takutku.
"Kumohon pergilah....." lirihku bergetar.
Dia duduk di depanku. "Maafkan aku jika membuatmu kembali takut padaku" ucap Taehyung menunduk.
Namun detik berikutnya dia kembali menatapku.
"......percaya padaku aku tidak berniat menyakitimu sungguh" kata Taehyung terdengar begitu tulus.
"Aku akan menceritakan yang sebenarnya padamu tapi bukan sekarang" lanjutnya membuat tangisanku berhenti.
"Jebal\(kumohon\) Soora......percaya padaku walaupun itu hanya sedikit saja" mohon Taehyung.
Haruskah aku percaya? Aku bingung, aku takut, tapi kurasa aku sudah tidak punya pilihan lain. Saat ini hanya Taehyung harapanku.
"Aku akan percaya padamu tapi kau harus jujur padaku siapa kau sebenarnya" ucapku sebagai sebuah kesepakatan. Jika dia setuju aku akan mempercayainya sekali lagi tapi jika tidak aku akan pergi dari sini bagaimanapun caranya.
"Baiklah......karna kau memang harus tau siapa aku" jawab Taehyung dengan raut wajah serius.
πππ
Taehyung membawaku kesebuah perkebunan teh yang dekat dari rumah tadi. Pemandangan disini sangat indah belum lagi udaranya yang sangat segar membuatku tersenyum tipis.
Kami berhenti di sebuah rumah\-rumah kecil. Aku duduk disana sambil memandangi perkebunan teh itu.
"Sejak awal aku sudah tau jika Lee Jungkook dan Kim Eunmi mengincar dirimu" kata Taehyung memulai ceritanya.
"Dari mana kau tau?" tanyaku.
Dia menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Membasahi sedikit bibir bawahnya, Taehyung kembali melanjutkan ucapannya.
"Karna aku bagian dari mereka"
Damn it!!!!!
Jadi benar dugaanku jika Taehyung ternyata satu komplotan dengan Jungkook.
Taehyung membuang nafas nya terlebih dahulu lalu mulai mengangkat suara.
"mereka mengincar mu karena kau dijadikan sebuah taruhan dalam sebuah permainan" jawabnya.
Taruhan? memangnya aku sebuah barang? Aku tidak tahu apa yang berada dalam pikiran mereka? Apakah ini seperti sebuah perjudian.
Itu berarti aku sedang terjebak dalam dunia hitam. Aku memang sangat suka menonton film action dengan jalan cerita mafia. Tapi aku tidak pernah menyangka jika di dunia nyata itu ada. Dan aku adalah salah satu pemerannya.
Aku menatap pria di sampingku ini.
"Lalu kenapa kau menolongku? Bukankah kau bagian dari mereka Atau justru kau sedang menjebakku juga?" tebakku.
"Aniyo\(tidak\).......kau mau percaya atau tidak, aku sedang berusaha menolongmu" kata Taehyung.
"Tapi kenapa?" kataku sedikit meninggikan suaraku.
"Karna ada seseorang yang menyuruhku untuk melindungi dan membawamu padanya" jawab Taehyung. Aku menyerengit bingung. Yang di maksud Taehyung bukan 'dia' yang dimaksud Jungkook kan?
"Siapa?" tanyaku hati\-hati.
"Besok kau akan tau" jawabnya datar.
Haruskah aku percaya dan menunggu sampai besok? Kurasa tidak ada salahnya sejauh ini Taehyung memperlakukanku dengan baik walaupun aku harus tetap waspada.
"Kau pasti bingung kenapa Jungkook tidak mengenalku bukan?"
Ya aku pernah memberitahu Jungkook tentang Taehyung tapi dia sama sekali tidak mengenalnya. Sedangkan Taehyung adalah bagian darinya.
"Itu karna Jungkook mengenalku dengan nama Jack bukan Choi Taehyung". Baiklah itu menjawab satu rasa penasaranku.
"Jadi sekarang artinya kau menghianati Jungkook?"
"Dalam permainan ini tidak ada kata jujur Soora. Semuanya penuh muslihat dan kebohongan serta penghianatan"
"Ya kurasa kau benar" Kataku miris. Karna aku baru saja mengalaminya.
"Perlahan kau pasti akan mengerti jika kau sudah bertemu dengannya. Kau pasti akan mengerti cara kerja permainan ini" jawab Taehyung.
Baiklah kurasa aku memang harus bersabar dan percaya pada Taehyung.
"Lalu saat di pesta kenapa kau ingin melukaiku?". Pertanyaan terbesarku dan yang membuat aku selalu takut pada Taehyung.
"Kau salah paham tentang itu"
"Ne?\(apa\)"
"Aku tidak bermaksud menyakitimu"
"Tapi kau membawa cutter dan mengarahkannya pada wajahku" ucapku dengan nada suara yang tinggi.
"Cckkk.... Sudah kuduga kau akan berfikir seperti itu........cutter itu akan kugunakan untuk merobek bajumu" jawab Taehyung yang sontak membuatku kaget.
"Mwo??!!!!\(apa\)"
"Saat aku merobek bajumu semua akan berfikir jika aku melecehkanmu bukan?"
Kurasa begitu.
"Itu akan membuat Jungkook marah dan bisa saja permainan ini berakhir" lanjut Taehyung. Aku masih bingung maksud Taehyung.
Terlalu banyak teka\-teki disini.
"Jungkook tidak akan membiarkanmu terluka sama sekali, karna itu termasuk salah satu syarat dalam permainan".
Aku mengerjabkan mataku beberapa kali. Lucu bukan aku mengira Jungkook tidak ingin melihatku terluka karna menyayangiku tapi ternyata ini bagian dari permainannya.
Dasar brengsek.
"Jadi saat kau terluka dia akan berusaha agar luka itu cepat sembuh dan jangan sampai berbekas, setidaknya luka yang kuberikan padamu saat itu sedikit mengulur waktu" kata Taehyung sedikit terkekeh.
Aku terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Taehyung. Satu hal yang baru ku sadari juga, saat aku dan Jungkook akan melakukan itu, dia menolak dan bukan karna alasan dia ingin kami melakukannya saat setelah menikah tapi karna bisa saja dia kalah dalam permainan seperti yang dikatakan Taehyung.
Dan kenapa aku bisa percaya saat itu dengan janji pernikahan yang mustahil akan terjadi.
Sungguh sangat menjijikkan.
Oh Tuhan.....semua yang dikatakan Jungkook bohong. Tidak ada kebenaran sama sekali. Cinta, kasih sayang serta perhatiannya selama ini hanya sebatas kepura\-puraan agar membuatku percaya dan mengikuti apa yang dia inginkan.
Permainan sialan yang penuh kebohongan dan muslihat.
Aku menggenggam kuat tanganku sendiri. Mataku terasa panas. Berapa kebenaran yang menyakitkan lagi yang harus aku ketahui. Hingga akhirnya air mataku tumpah namun segera aku menyapunya kasar.
Aku tidak lemah. Aku tidak boleh menangisi penghianat itu lagi. Cukup sudah.
"Kurasa sudah cukup....ayo kita pulang" kata Taehyung menyadarkanku dari lamunan.
Dia berjalan mendahuluiku. Masih ada satu pertanyaan yang harus aku ketahui jawabannya sekarang. Aku tidak bisa menundanya. Dan hanya Taehyung yang bisa menjawabnya.
"Choi Taehyung...." panggilku membuat dia berbalik.
"Ada apa?"
Aku menarik napas dalam\-dalam, berjalan menghampiri Taehyung lalu menatap manik matanya.
"Apakah kau sudah tidak menjadi bagian dari permainan Jungkook lagi?" tanyaku pelan namun sarat penuh penekanan.
"Apakah tadi aku mengatakan jika aku sudah keluar?". Aku mengerutkan keningku.
Dia tersenyum miring lalu menatapku.
"Aku masih bagian dari mereka sampai sekarang"
Tamatlah riwayatku.
Tbc........
**aigooo ini gimana sih???
see u next chap
by Raraπ**