The Games

The Games
Chapter 16



Happy reading.........


*Seberapa lama kau akan menyembunyikannya?


Pada akhirnya semua akan terbongkar


Membuatku semakin paham siapa dirimu yang sebenarnya*........


Aku mundur beberapa langkah.


"Tentu saja aku masih bagian dari mereka kau fikir bagaimana cara ku menyelamatkanmu jika aku tidak berpihak dengan mereka eoh?"


Langkahku terhenti. Benar juga.


"Ayo kita pulang. Besok kita akan pergi menemuinya......." kata Taehyung mulai berjalan di depanku.


Walau ragu aku tetap mengikutinya.


"......semua pertanyaanmu akan terjawab besok" lanjut Taehyung dan itu sukses membuatku semakin penasaran siapakah aku kami temui besok dan akan menjawab semua pertanyaanku.


Setelah makan malam, aku tidak langsung tidur. Aku belum mengantuk.



Aku duduk di teras belakang rumah itu. Aku tersenyum tipis saat melihat beberapa kunang\-kunang. Aku tidak menyangka akan ada kunang\-kunang disini. Namun seketika suasana ini juga menamparku. Aku kembali teringat pada Jungkook.



"Kau menyukainya?"



Aku menoleh lalu kembali menghadap kedepan. "Tidak juga"



"Wae?\(kenapa\)"


"Karna mereka mengingatkanku pada kenangan yang ingin kulupakan"



"Kenangan bersama Jungkook?"


Aku menunduk lalu mengangguk lemah.



Kudengar Taehyung membuang napasnya. "Jungkook memang luar biasa, membuatmu jatuh cinta dan percaya. Itu bagian dari misinya"



"Dan dia berhasil" sambungku miris.


"Bukankah Jungkook dan Eunmi temanmu saat kau masih SMA?"



"Ne\(ya\).......dan karna itu aku tidak menaruh curiga pada mereka, aku tidak pernah berfikir sekalipun jika mereka hanya memanfaatkanku" jawabku.



"Apa kau tau jika Jungkook dan Eunmi sudah menikah?"



Aku menoleh, menatap Taehyung. "Dari tatapanmu itu menjawab jika kau tidak tau"



Aku terdiam. Jadi kecurigaanku selama ini benar mereka memang mempunyai hubungan lebih dari rekan kerja.



Bahkan mereka sudah menikah. Aku tersenyum kecut. Dan tanpa sadar air mataku mengalir tanpa bisa aku tahan lagi.



Aku ternyata tidak sekuat itu.



Tanpa sadar Taehyung menarikku dalam pelukannya. Aku tidak memberontak atau membalas pelukannya.



Aku menyandarkan daguku pada pundaknya meluangkan segala kesedihan yang kurasakan.



Mereka benar\-benar keterlaluan.



πŸ’œπŸ’œπŸ’œ



Keesokan harinya aku dan Taehyung bersiap\-siap untuk menemui 'dia'.



"Haruskah kita berdandan seperti ini?" tanyaku saat melihat tampilanku yang terasa sangat aneh.


"Aku takut anak buah Jungkook menemukan kita jika tanpa penyamaran" tutur Taehyung memasang kumis palsunya.



Kami terlihat seperti pasangan suami istri yang berusia setengah abad.



Aku menggenggam kuat tas kecil yang kubawa. Entah kenapa aku seperti melihat masa depanku dalam pantulan bayanganku di kaca.



Banyangan Menjadi tua bersama dengan orang yang kucintai. Melihat satu persatu anak kami lahir, menikah lalu cucu\-cucu kami pun lahir.



Aku menyapu air mataku pelan. Aku bahkan tidak tau apakah aku akan hidup selama itu. Apakah aku bisa punya kehidupan seperti itu?



Disaat seluruh hidupku seperti di kendalikan. Aku tidak bisa bergerak sesuai keinginanku.



Bergerak di rotasi takdir tanpa bisa melawan sedikitpun.



"Gwaechana?\(kau baik\-baik saja\)" suara Taehyung memecah keheningan.


"Kapan semua ini berakhir?" tanyaku pada Taehyung.


"Secepatnya"



Aku berbalik lalu menatapnya.


"Bisakah kau berjanji?"



"Akan kuusahakan. Kajja \(ayo\) kita harus segera pergi"



Di atas mobil.



Aku banyak diam larut dalam pikiranku yang melayang kemana\-mana.



Taehyungpun tidak bersuara sama sekali. Dia begitu fokus menyetir.



Setelah menempuh perjalan sekitar 30 menit kami sampai di sebuah perumahan yang cukup padat.



Taehyung turun lebih dulu dan aku pun mengikutinya.



"Kajja\(ayo\)" ucapnya.



Kami menelusuri tempat itu hingga kami sampai di sebuah rumah dengan cat putih yang mulai berwarna kuning.



Taehyung mengetuk pintu 3 kali lalu memutar knop pintu.



Dia menggerakkan kepala mengisyaratkan untuk aku masuk duluan kedalam rumah itu.



Saat sampai di dalam, kuliarkan pandanganku. Rumah ini seperti tidak terurus. Terlihat dari lantainya yang kotor dan banyak debu beterbangan di sana sini.




"Tunggulah disini aku akan memanggilnya" ucap Taehyung lalu masuk kesebuah ruangan.



Aku menutup mulut dan hidungku dengan syal yang aku gunakan. Tak ingin bersin lebih parah. Bisa\-bisa aku deman. Tidak untuk sekarang.



Beberapa saat kemudian Taehyung kembali dengan seseoranh di belakangnya. Aku belum bisa melihat wajah orang itu karna tertutupi badan besar Taehyung.



Mereka berhenti lalu sosok itu beralih ke samping Taehyung.



Aku hampir saja kehilangan keseimbanganku saat melihatnya. Tapi aku masih bisa berdiri. Waktu seakan melambat saat langkah demi langkah mendekati sosok itu.



Air mata yang kucoba sembunyikan akhirnya tumpah begitu saja. Langkahku terhenti, menundukkan kepalaku menatap ubin yang usang itu.



Dua buah sepatu terlihat olehku menandakan sosok itu sudah berdiri tepat di depanku.



Kepalaku menyentuh dadanya dan sekarang aku yakin ini bukan mimpi ataupun ilusi. Ini nyata.



Aku mendongak dengan linangan air mata. Sosok itu pun tak jauh beda dariku.



Kuhamburkan pelukan padanya dengan isakan yang terdengar sangat menyakitkan.



"Appa\(ayah\)......."lirihku.


"Han Soora putri kecil appa" kata namja itu mencium pucuk kepalaku.



Ya sosok itu adalah ayahku.



Ayah yang sudah kuyakini telah tiada 3 tahun ini dan sekarang dia berdiri didepanku bahkan memelukku dengan erat.



"Appa bersyukur kau baik-baik saja" kata ayah memegang pipiku. Sungguh sangat hangat.


Aku tersenyum lembut. "Ne appa, aku juga tidak menyangka appa masih hidup" lirihku.


Kami duduk di sofa yang berada di ruang tamu dengan ayahku yang berada di tengah antara aku dan Taehyung.


"Terima kasih banyak Jack, kau sudah membawa Soora kemari" tutur ayah menatap Taehyung.


"Tentu aboji. Bukankah aku sudah berjanji padamu?" balas Taehyung yang di angguki oleh ayah.


Ayah beranjak dari sana menuju rak di depan kami. Dia mengambil sebuah kotak berbentuk segi panjang.


Duduk kembali di tempatnya tadi, ayah memberikan kotak itu padaku.


"Apa ini?" tanyaku.


"Bukalah"


Aku membuka kotak itu dan mendapati sebuah kalung dengan ukiran namaku.


"Seharusnya appa dan eomma(ibu) memberikan itu saat ulang tahunmu yang ke 18, tapi........" ayah membuang nafasnya lalu melanjutkan kembali ucapannya.


".......kami tidak melakukannya. Mianhae Soora-ya....jinjja mianhae(aku sungguh minta maaf)" kata ayah terdengar sangat menyesal.


"Gwaenchana appa(tidak apa-apa ayah)...." kataku memegang bahu yang yang bergetar.


"Apa kau ingat dengan pria yang memberimu kado boneka beruang saat kau berumur 15 tahun?" tanya ayah.


Aku mengerutkan keningku sedikit berfikir siapa yang dimaksud oleh ayah.


"Ahhh aku ingat dan boneka itu masih ku simpan sampai sekarang" kataku dengan mata berbinar.


"Dia adalah Lee Jongsun"


"Lee Jongsun?"


"Ayah Lee Jungkook" timpal Taehyung.


Pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajah Tuan Lee ternyata benar aku pernah bertemu dengannya.


"Saat itu appa tidak tau jika dia adalah target appa" ucap ayahku.


"Terget appa?"


"Ne Soora-ya.....dia adalah penjahat yang selama ini dicari oleh polisi. Lee Jongsun adalah pimpinan mafia terbesar di Korea. Hampir semua bentuk kejahatan dialah yang menjadi dalangnya"


Aku terdiam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut ayahku.


"Dan bodohnya Lee Jongsun malah menjadi teman baik appa. Dia yang membantu appa. Tapi semua itu ternyata bagian dalam permainan yang di sebutnya dengan 'Scenario' "


"Scenario?" gumamku.


"Lee Jongsun mendekati appa karna dia tau jika appa mengincarnya. Dia berpura-pura ingin menolong appa dan kami kepolisian langsung percaya padanya. Dia sangat lihai dan licik. Menipu kami semua dengan identitas palsu"


Aku terdiam. Tepatnya tidak tau harus merespon apa.


"Appa memberitahu semua rencana kami padanya. Itulah sebabnya dia bisa dengan lihai lolos dari pengejaran. Kami bahkan putus asa saat itu"


"Lalu bagaimana appa bisa tau jika Lee Jongsun adalah dalang dari semua kejahatan itu?" tanyaku.


"Appa menyamar dan masuk kesebuah kasino yang juga di jalankan olehnya" jawab ayahku serius.


Dia menatap kedepan, menarik napas panjang lalu melanjutkan ceritanya.


"Appa ikut bermain disana dan akhirnya appa tau jika Lee Jongsun adalah orang yang selama ini appa cari"


Pandanganku kini terarah ke Taehyung yang juga sepertinya sedang serius mendengarkan cerita ayahku.


Ayah membuang napasnya. "Tapi diluar dugaan dia memang sengaja membuat ayah tau. Dia sudah merencanakan semuanya. Itu semua bagian dalam scenario".


Sekarang aku mengerti cara bermain mereka memang seperti itu. Sangat kotor. Membuat lawan percaya hingga memberikan segalanya dan saat mereka mendapatkannya dengan bangga mereka memberitahu jika semua itu hanya bagian dalam sandiwara.


"Begitulah permainan 'Scenario'. Tuan Lee yang mengatur semua jalan cerita dalam permainan dan kita hanya pion yang digunakan untuk mencapai tujuannya" tambah Taehyung membuatku semakin mengerti akan permainan sialan ini.


"Apakah tidak ada jalan untuk menangkap mereka?" tanyaku.


"Ada"


"Apa itu?"


"Sebuah flashdisk yang menjadi bukti akan semua kejahatan Lee Jongsun. Flashdisk yang juga membuat eommamu terbunuh" kata ayahku melemah di belakang kalimatnya.


Aku membulatkan mataku. "Maksud appa?"


Bukankah mereka kecelakaan pesawat? Itu yang aku tau.


"Kami pergi saat itu bukan untuk tugas di luar kota tapi untuk menyelidiki kasino Tuan Lee Jongsun. Itulah sebabnya kami tidak bisa membawamu........."


Ayah menatapku.


".......tapi eommamu tewas saat dia membawa bukti itu kabur dan appa......". Pandangan ayah beralih ke Taehyung.


".....jika bukan Jack yang menyelamatkan appa mungkin appa juga juga sudah tewas hari itu"


Aku tertegun. Taehyung yang selama ini kuanggap penjahat ternyata orang yang menyelamatkan ayahku.


"Lalu di mana flashdisk itu?" tanyaku.


"mollayo(entahlah)......hanya eommamu yang tau" jawab ayah.


"Apakah ada pada Tuan Lee?"


"Kurasa tidak" timpal Taehyung.


"Waeyo?(kenapa)"


"Beberapa kali aku mendengar mereka membicarakannya dan Tuan Lee sangat takut jika flashdisk itu tidak segera di temukan" jelas Taehyung.


"Apakah itu menjadi alasan juga mereka mengincarku?" tebakku.


"Ne....karna mereka tau kau adalah anak detektif Han" jawab Taehyung.


"Tapi bukankah kau katakan jika aku dijadikan taruhan?"


"Mwo??!!(apa) Yak Jack apa maksudnya?" pekik ayahku.


Taehyung menunduk. "Ne aboji Soora dijadikan sebuah taruhan di meja judi dengan imbalan yang luar biasa"


"Dasar manusia serakah. Aku tidak akan mengampuni mereka" sarkah ayahku dengan amarah yang sudah meluap-luap.


Kini semuanya jelas. Yang harus kami temukan adalah flashdisk itu sebelum tuan Lee dan komplotannya yang menemukannya. Dengan begitu kami bisa menghentikan mereka.


Menghentikan para monster itu.


Tbc.........


Jangan lupa tinggalkan jejak yah😘


See u next chap


By RaraπŸ’œ